Setiap hari kita membuang sampah dengan cara yang sama. Masukkan ke kantong, buang ke tempat sampah, lalu selesai. Dari sudut pandang kita, masalahnya seperti hilang begitu saja. Tapi kenyataannya, sampah itu tidak pernah benar-benar hilang.

Yang berubah hanya lokasinya. Dari rumah ke tempat penampungan sementara, lalu ke tempat pembuangan akhir. Selama rantai ini berjalan tanpa hambatan, kita jarang mempertanyakan apa yang sebenarnya terjadi di belakangnya.

Namun ketika satu bagian dari sistem ini terganggu, semuanya langsung terlihat. Sampah tidak lagi ‘hilang’, tapi muncul di ruang-ruang yang sebelumnya tidak kita sadari.

Hal ini sempat terjadi di Kota Bandung ketika Tempat Pembuangan Akhir [TPA] Sarimukti mengalami keterbatasan kapasitas. Sampah mulai menumpuk di berbagai titik kota, dari pinggir jalan hingga kawasan permukiman. Situasi ini diberitakan oleh berbagai media seperti Kompas dan Detik, yang menunjukkan betapa rentannya sistem pengelolaan sampah yang selama ini kita anggap berjalan normal.

Baca Juga: Kita Beli yang Lebih Mahal, Tapi Sampahnya ‘Lari’ ke Mana?

Sampah Tidak Hilang, Hanya Dipindahkan

Selama ini, sistem pengelolaan sampah kita pada dasarnya bekerja dengan cara memindahkan. Dari rumah ke TPS, lalu ke TPA. Jarang ada proses signifikan yang benar-benar mengurangi jumlah sampah sejak dari sumbernya.

Selama TPA masih tersedia, sistem ini terlihat baik-baik saja. Tapi begitu kapasitasnya penuh atau terganggu, masalah langsung muncul ke permukaan.

Kasus Bandung jadi contoh nyata bahwa ketergantungan kepada satu titik akhir adalah risiko besar. Ketika TPA Sarimukti tidak mampu menampung, seluruh sistem langsung terguncang. Sampah yang biasanya tersembunyi, tiba-tiba menjadi bagian dari ruang hidup sehari-hari.

Hal serupa juga pernah terjadi di kota-kota lain di Indonesia. Ini menunjukkan bahwa masalahnya bukan hanya pada satu kota, tapi pada cara sistem itu sendiri dibangun.

Baca Juga: Kita Mulai Terbiasa dengan Lingkungan yang Tidak Biasa?

Kenapa Sistem Ini Tidak Pernah Benar-Benar Selesai?

Masalah sampah tidak pernah selesai bukan karena tidak ada solusi, tapi karena pendekatan yang digunakan cenderung sama: memindahkan, bukan menyelesaikan.

Pertama, sistem masih berfokus pada hilir, bukan hulu. Kita sibuk mencari tempat pembuangan baru, tapi tidak cukup serius mengurangi produksi sampah dari sumbernya. Tanpa perubahan di awal, beban di akhir akan terus bertambah.

Kedua, ada keterbatasan dalam infrastruktur dan konsistensi kebijakan. Program pemilahan sampah sering ada, tapi tidak berjalan merata. Fasilitas pengolahan masih terbatas, dan tidak semua wilayah punya akses yang sama.

Ketiga, ada faktor perilaku yang tidak bisa diabaikan. Kebiasaan membuang sampah tanpa memilah masih menjadi hal umum. Selama sampah dianggap sebagai sesuatu yang cukup ‘dibuang saja’, maka tekanan terhadap sistem akan terus meningkat.

Keempat, ada kepentingan dan prioritas yang tidak selalu sejalan. Pengelolaan sampah sering tidak menjadi fokus utama sampai masalahnya terlihat besar. Akibatnya, solusi yang diambil cenderung reaktif, bukan preventif. Persoalannya, semua calon kepala daerah senantiasa menyelipkan persoalan sampah di rencana program kerjanya. Tapi hasilnya? Kita sama-sama tahu. 

Semua faktor ini saling terkait, membuat masalahnya terus berulang. Ketika satu TPA penuh, kita mencari lokasi baru. Ketika lokasi baru mulai penuh, siklus yang sama kembali terjadi. Jadi, selama ini, kita tidak benar-benar menyelesaikan masalah, hanya memindahkannya dari satu tempat ke tempat lain.

Kesadaran ini penting, karena apa yang kita buang setiap hari tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya berpindah, dan suatu saat bisa kembali dalam bentuk yang lebih besar. Bandung hanyalah satu contoh. Tapi apa yang terjadi di sana bisa terjadi di kota lain, jika cara kita memperlakukan sampah tidak berubah.

Pertanyaannya sekarang bukan lagi ke mana sampah itu pergi, tapi apakah kita siap mengubah cara kita memperlakukannya sebelum sistem ini kembali mencapai batasnya? [][Rommy Rimbarawa/KK]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.