Linimasa media sosial terasa semakin aneh bagi banyak orang. Konten yang muncul tidak selalu berasal dari teman atau akun yang diikuti. Algoritma kini lebih sering menampilkan apa yang dianggap menarik bagi kita.
Beberapa pengamat digital bahkan mulai mengatakan bahwa era 'social media' sedang berubah. Sebagai gantinya, muncul istilah baru yang disebut interest media.
Konsep ini merujuk pada cara platform digital menampilkan konten berdasarkan minat pengguna, bukan lagi semata-mata hubungan sosial.
Baca Juga: Memperbaiki Algoritma Media Sosial, Bisakah Kita Mengubah Apa yang Kita Lihat?
Dari Social Graph ke Interest Graph
Pada awal kemunculannya, media sosial dibangun di atas apa yang disebut social graph. Artinya, konten yang muncul di linimasa terutama berasal dari orang yang kita kenal atau akun yang kita ikuti.
Namun dalam beberapa tahun terakhir, pola ini berubah cukup drastis. Platform seperti TikTok, Instagram, dan YouTube semakin mengandalkan algoritma yang membaca minat pengguna.
Konten yang muncul tidak harus berasal dari akun yang diikuti. Sebaliknya, algoritma memilih video atau unggahan yang dinilai relevan dengan kebiasaan menonton, mencari, atau berinteraksi.
Pengusaha dan pengamat digital Gary Vaynerchuk pernah menjelaskan perubahan ini dalam berbagai kesempatan wawancaranya. Dalam pandangannya, banyak platform saat ini sebenarnya tidak lagi sepenuhnya beroperasi sebagai media sosial.
“Most people call them social networks, but they are actually interest networks,” kata Gary Vaynerchuk dalam salah satu diskusi yang dikutip berbagai media teknologi. Pernyataan tersebut merujuk kepada perubahan besar dalam cara platform digital menyusun linimasa pengguna.
Baca Juga: Risiko Pemilihan AI
Mengapa Interest Media Menjadi Dominan
Ada beberapa alasan mengapa pendekatan berbasis minat menjadi semakin dominan. Salah satunya adalah jumlah konten yang diunggah ke internet setiap hari sangat besar. Jika platform hanya mengandalkan jaringan pertemanan, banyak konten yang berpotensi menarik justru tidak pernah terlihat oleh pengguna lain.
Algoritma berbasis minat mencoba menyelesaikan masalah ini dengan cara memprioritaskan konten yang kemungkinan besar akan ditonton atau disukai pengguna. Karena itu, seseorang bisa tiba-tiba menemukan kreator baru yang belum pernah diikuti sebelumnya, tetapi kontennya terasa sangat relevan.
Di sisi lain, perubahan ini juga membuat pengalaman media sosial terasa berbeda. Hubungan sosial tidak lagi menjadi satu-satunya pusat interaksi. Sebagian pengguna bahkan merasa linimasa mereka lebih menyerupai saluran hiburan yang dipersonalisasi.
Interest media bukan berarti media sosial benar-benar mati. Namun cara kerja platform digital memang sedang bergeser.
Alih-alih hanya menghubungkan orang dengan orang lain, platform kini berusaha menghubungkan orang dengan konten yang paling sesuai dengan minat mereka. [][Rudi Tenggarawan/KK]
[penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi]