Pernah membuka media sosial, lalu tiba-tiba merasa ingin menghapus foto, status, atau cuitan yang pernah diunggah beberapa tahun lalu?
Mungkin foto itu dulu terasa keren, tetapi sekarang terlihat canggung. Mungkin ada tulisan yang pernah dibuat dengan penuh keyakinan, tetapi kini terasa asing. Tanpa banyak pertimbangan, kita menekan tombol hapus atau mengarsipkannya. Menariknya, kebiasaan seperti ini ternyata cukup umum terjadi.
Media sosial pada dasarnya adalah tempat kita meninggalkan jejak. Setiap foto, tulisan, dan komentar menyimpan potongan-potongan kecil tentang siapa diri kita pada suatu masa. Ada unggahan tentang masa kuliah, pekerjaan pertama, hobi yang sempat digemari, hingga pandangan yang dulu dianggap penting.
Masalahnya, manusia tidak berhenti berubah. Cara berpikir berkembang, selera bergeser, dan pengalaman hidup membuat kita memandang banyak hal secara berbeda. Ketika melihat unggahan lama, kita seperti bertemu dengan versi diri yang pernah ada, tetapi tidak lagi sepenuhnya terasa sebagai diri kita yang sekarang.
Karena itulah, sesekali menghapus unggahan lama bukanlah hal yang aneh. Di balik tindakan yang tampak sederhana itu, ada proses yang lebih dalam tentang cara manusia melihat dirinya sendiri.
Baca Juga: Kenapa Orang Sekarang Lebih Cepat Upload daripada Menikmati Momennya?
Unggahan Lama Kadang Tidak Lagi Mewakili Diri Kita
Ada status yang dulu ditulis dengan penuh semangat, tetapi sekarang terasa berlebihan. Ada foto yang pernah menjadi favorit, tetapi kini justru membuat kita tersenyum kecil karena merasa tidak lagi seperti orang yang sama. Bahkan ada pendapat yang pernah kita bagikan kepada banyak orang, tetapi sekarang tidak lagi kita yakini.
Perasaan seperti itu muncul karena identitas manusia bersifat dinamis. Kita terus bertumbuh dan berubah. Pengalaman baru, lingkungan baru, dan bertambahnya usia membuat cara kita memandang diri sendiri ikut berkembang.
Ketika identitas berubah, jejak digital dari masa lalu kadang terasa seperti pakaian lama yang sudah tidak pas dipakai. Bukan berarti pakaian itu buruk. Ia hanya tidak lagi mencerminkan siapa kita hari ini.
Mungkin karena itu, melihat unggahan lama sering menghadirkan perasaan yang campur aduk. Ada rasa nostalgia, ada rasa geli, dan sesekali ada rasa canggung. Kita seolah sedang bertemu dengan orang lain, padahal orang itu adalah diri kita sendiri beberapa tahun lalu.
Baca Juga: Sekarang Orang Lebih Takut Kehilangan HP daripada Dompet, Anda Salah Satunya?
Menghapus Kadang Menjadi Cara Mengelola Identitas
Sosiolog Erving Goffman menjelaskan bahwa manusia secara alami berusaha mengelola kesan yang ingin ditampilkan kepada orang lain. Dalam kehidupan sehari-hari, kita memilih pakaian tertentu, menggunakan bahasa tertentu, dan menampilkan sisi-sisi diri yang dirasa paling sesuai dengan situasi.
Media sosial membuat proses itu berlangsung dalam ruang yang jauh lebih luas. Kita tidak hanya menunjukkan diri pada saat ini, tetapi juga membawa jejak dari berbagai versi diri yang pernah ada. Akun media sosial menjadi semacam album panjang yang menyimpan perjalanan identitas seseorang.
Karena itu, menghapus unggahan lama kadang merupakan upaya untuk menyelaraskan citra diri dengan diri yang sekarang. Kita ingin media sosial mencerminkan siapa kita hari ini, bukan siapa kita lima atau sepuluh tahun yang lalu.
Namun, menghapus unggahan lama tidak selalu berarti kita malu pada masa lalu. Dalam banyak kasus, itu justru menunjukkan bahwa kita sedang bertumbuh. Jika tidak ada perubahan dalam diri kita, mungkin tidak akan ada unggahan lama yang terasa begitu berbeda.
Sesekali membersihkan jejak digital juga mengingatkan bahwa manusia tidak bersifat tetap. Kita pernah menyukai hal-hal tertentu, memiliki pandangan tertentu, dan menjadi pribadi yang berbeda dari hari ini. Semua itu adalah bagian dari perjalanan.
Mungkin karena itulah menghapus unggahan lama terasa begitu personal. Kita tidak sekadar merapikan tampilan media sosial. Kita sedang berdialog dengan berbagai versi diri yang pernah hadir dalam hidup kita. Ada yang masih terasa dekat, ada yang sudah terasa asing. Dan di antara semua itu, kita diam-diam menyadari satu hal sederhana: menjadi manusia berarti terus berubah, sementara jejak digital sering kali menjadi pengingat bahwa kita pernah menjadi orang yang berbeda. [][Eva Evilia/KK]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.