Pernah tiba-tiba bersenandung tanpa sengaja? Bisa jadi, otak sedang memutar kembali lagu yang menyimpan pola atau kenangan yang sulit ia lepaskan.

Mungkin hampir semua orang pernah mengalaminya. Sedang bekerja, menyetir, mandi, atau sekadar duduk menikmati secangkir kopi, tiba-tiba sepotong lagu muncul begitu saja di kepala. Kadang hanya satu bait, kadang hanya bagian reff, tetapi terus berulang tanpa diminta. Yang menarik, lagu itu tidak selalu merupakan lagu favorit. Bahkan, ada kalanya lagu yang sudah lama tidak didengar justru kembali terdengar jelas di dalam pikiran.

Fenomena sederhana ini sering membuat orang bertanya-tanya. Mengapa otak seperti memiliki ‘pemutar musik’ sendiri? Mengapa lagu tertentu begitu mudah menetap di kepala, sementara lagu lain cepat terlupakan? Ternyata, cara otak mengingat musik memang berbeda dibanding cara ia menyimpan banyak informasi lain.

Baca Juga: Lagu yang Ingin Kita Dengar Saat Dunia Berakhir

Otak Menyukai Pola yang Mudah Diingat

Dalam psikologi, fenomena ketika sebuah lagu terus berputar di dalam pikiran dikenal sebagai earworm atau Involuntary Musical Imagery. Istilah ini menggambarkan pengalaman ketika seseorang secara tidak sengaja terus mendengar lagu di dalam pikirannya meskipun tidak sedang memutarnya.

Salah satu penyebabnya adalah kecenderungan otak menyukai pola yang sederhana dan mudah dikenali. Melodi yang berulang, ritme yang kuat, atau bagian reff yang singkat lebih mudah disimpan dalam memori. Ketika otak menemukan pola yang terasa akrab, ia dapat memutarnya kembali tanpa perlu rangsangan dari luar.

Tak heran jika lagu-lagu yang sering terdengar di media sosial, iklan, atau tempat umum lebih mudah ‘menempel’ di kepala. Semakin sering sebuah melodi didengar, semakin kuat pula jejaknya di dalam ingatan. Itulah sebabnya, satu potong lagu berdurasi beberapa detik kadang mampu bertahan jauh lebih lama dibanding isi percakapan yang baru saja kita lakukan.

Menariknya, earworm tidak selalu muncul karena kita sedang memikirkan lagu tersebut. Rasa bosan, aktivitas yang dilakukan secara otomatis, atau pikiran yang sedang mengembara justru dapat memberi ruang bagi otak untuk memunculkan kembali melodi yang pernah disimpannya.

Baca Juga: Kapan Terakhir Kali Kita Benar-Benar Tidak Melakukan Apa-Apa?

Lagu Tak Hanya Mengingatkan Melodi, tetapi Juga Perasaan

Musik memiliki hubungan yang sangat erat dengan emosi. Ketika mendengar sebuah lagu, otak tidak hanya menyimpan nada dan liriknya, tetapi juga suasana yang menyertai saat lagu itu didengar. Karena itulah, satu lagu dapat langsung membawa seseorang kembali pada momen tertentu dalam hidupnya.

Ada lagu yang mengingatkan pada perjalanan bersama keluarga, pertemuan pertama dengan seseorang, masa sekolah, atau bahkan peristiwa yang menyedihkan. Ketika melodi itu kembali muncul di kepala, yang ikut bangkit bukan hanya ingatan tentang lagunya, melainkan juga perasaan yang pernah menyertainya.

Hal ini menjelaskan mengapa dua orang dapat memberikan respons yang sangat berbeda terhadap lagu yang sama. Bagi seseorang, lagu itu mungkin hanya terdengar biasa. Namun, bagi orang lain, lagu yang sama bisa menjadi pengingat akan sebuah fase kehidupan yang sulit dilupakan.

Musik juga sering menjadi penanda waktu. Tanpa sadar, otak menghubungkan lagu dengan tempat, aroma, wajah, bahkan percakapan yang pernah terjadi. Hubungan inilah yang membuat musik memiliki kemampuan unik untuk membangkitkan kenangan dengan cepat. Tidak heran jika hanya beberapa nada pertama sudah cukup membuat seseorang tersenyum, merasa haru, atau tiba-tiba ikut bernyanyi.

Barangkali, itulah alasan mengapa ada lagu yang terus berputar di kepala kita. Bukan semata-mata karena melodinya enak didengar, tetapi karena otak menyimpannya sebagai bagian dari pengalaman hidup. Musik tidak hanya menjadi sesuatu yang kita dengarkan, melainkan juga cara otak merawat kenangan. Maka, ketika sebuah lagu tiba-tiba kembali terdengar tanpa diundang, mungkin yang sedang diputar bukan hanya nadanya, tetapi juga sepotong kisah yang pernah kita jalani. [][Liora Maheswari/KK]

Penulisan dan riset artikel ini dibantu AI serta telah melalui proses kurasi Redaksi.