Pengantar Redaksi
Selamat datang kembali di edisi spesial Pojok Bedah! Pada bagian pertama, kita telah membedah mitos-mitos dasar kosmetik. Pada bagian kedua, kita belajar membaca label, memahami pengawet, dan mengenali klaim ilegal. Kini, kita memasuki wilayah yang lebih ‘gelap’ dari industri kecantikan: greenwashing, influencer yang tidak bertanggung jawab, dan kematian brand akibat klaim bohong.
Masih dengan format diskusi panel yang sama, Adrian Damar dan Eva Evilia kembali memandu empat penulis buku "The Cosmetic Code" —apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm.; Prof. Dr. apt. Keri Lestari, M.Si.; dr. Diah Puspitosari, Sp.DVE.; dan Wendra Wilendra, M.MT.—untuk membedah CODE 12 hingga 15. Mengapa kemasan hijau belum tentu berarti brand hijau? Bagaimana membedakan influencer yang kompeten dari yang sekadar populer? Apa yang sebenarnya terjadi di balik produk yang ‘mati’ karena klaim bohong? Dan bagaimana kejujuran ilmiah bisa membangun merek legendaris?
Ini adalah edisi untuk Anda yang ingin melihat industri kosmetik apa adanya—dengan segala keindahan dan keburukannya. Duduklah bersama kami, dan mari kita bongkar kode-kode terakhir yang masih tersembunyi. Selamat menikmati, dan selamat berdiskusi di Pojok Bedah kami.
Bagian 3: "greenwashing, Influencer, dan Kematian brand"
CODE yang dibahas di Bagian 3: CODE 12 [Your Eco-Brand Is Probably Lying] | CODE 13 [The Trust Trap] | CODE 14 [Dead Brands Tell No Tales] | CODE 15 [How Honest Science Built an Icon]
Adrian: "Baiklah, kita lanjut ke bagian ketiga. CODE 12 mengangkat tema yang sangat relevan: 'Your Eco-brand Is Probably Lying.' Mengapa greenwashing begitu marak di industri kosmetik, dan bagaimana konsumen bisa membedakan yang asli dari yang palsu?"
Wendra, M.MT.: Karena sustainability adalah nilai jual yang sangat kuat saat ini. Yang Adrian perlu ketahui, konsumen semakin peduli lingkungan, dan brand ingin memanfaatkan kepedulian itu. Tapi banyak yang hanya melakukannya di permukaan—mengganti kemasan menjadi warna hijau, menambahkan logo daun, atau mengklaim ‘eco-friendly’ tanpa perubahan nyata. Ini adalah greenwashing: membuat konsumen percaya bahwa produk atau brand lebih ramah lingkungan daripada yang sebenarnya.
Apt. Cahya: Dan dari sisi teknis, sustainability sejati itu mahal dan kompleks. Sertifikasi fair trade untuk bahan baku bisa meningkatkan biaya 2-3 kali lipat. Kemasan plastik daur ulang pascakonsumen [PCR] bisa 30-50% lebih mahal. Brand yang benar-benar serius akan melakukan ini, meskipun margin keuntungan menipis. Mereka akan transparan: "Kami menggunakan PCR 30% karena itu yang terbaik yang bisa kami lakukan saat ini. Target kami 50% dalam 3 tahun." Sebaliknya, brand greenwasher akan mengklaim "100% ramah lingkungan" tanpa data, tanpa sertifikasi, tanpa target perbaikan.
Eva: "Tapi bukankah ada juga produk yang benar-benar berusaha sustainable, meskipun belum sempurna?"
Prof. Keri: Tentu ada, Eva. Dan konsumen modern lebih menghargai transparansi daripada kesempurnaan palsu. Sebuah brand yang jujur tentang perjalanan sustainability-nya—"Kami baru memulai, saat ini sudah melakukan A dan B, target C dalam 2 tahun"—justru lebih dipercaya daripada brand yang mengklaim "100% ramah lingkungan" tanpa bukti. Dari sisi ilmiah, sustainability harus dilihat dari seluruh siklus hidup produk: sourcing, manufacturing, packaging, distribution, usage, dan end-of-life. Jika brand hanya fokus pada satu aspek [biasanya kemasan] dan mengabaikan lima aspek lainnya, itu adalah greenwashing.
dr. Diah: Dan dari sisi klinis, satu hal yang perlu diingat: klaim ‘natural’ atau ‘eco-friendly’ sama sekali tidak berkorelasi dengan keamanan kulit. Saya telah menangani banyak kasus iritasi dan alergi yang disebabkan oleh produk berlabel ‘green’ atau ‘organic’—justru karena produk-produk ini cenderung menggunakan minyak esensial, ekstrak tumbuhan pekat, dan pengawet ‘alami’ yang profil iritasinya lebih tinggi dibanding bahan sintetis konvensional. Sustainability adalah tujuan yang mulia, tapi tidak boleh mengorbankan keamanan pasien.
Eva: "Jadi, apa yang harus dicari konsumen?"
Wendra, M.MT.: Cari sertifikasi independen—Ecocert, Leaping Bunny, FSC, PCR. Jangan percaya klaim ‘eco-friendly’ tanpa bukti. Tanyakan detail: "Bagaimana brand mengukur jejak karbon mereka?" Dukung brand yang transparan, bahkan jika belum sempurna. Karena hijau adalah tentang jejak, bukan warna kemasan.
Adrian: "CODE 13 membahas 'The Trust Trap'—mengapa influencer dan bahkan beberapa dokter tidak selalu bisa dipercaya? Ini topik yang sensitif."
dr. Diah: Ini sangat sensitif, Adrian, tapi harus dibicarakan. Di era media sosial, banyak konsumen percaya pada rekomendasi influencer tanpa memeriksa apakah sang influencer—apoteker atau dokter sekalipun—benar-benar memahami formulasi, regulasi, dan keamanan kosmetik. Akibatnya, informasi yang salah, klaim berlebihan, hingga ‘approved’ ilegal beredar luas. Influencer bukan peneliti. Viral bukan bukti. Dan mengaku ‘ahli’ bukan izin untuk keluar dari batas kompetensi.
Prof. Keri: Dan dari sisi regulasi, ada perbedaan kompetensi yang harus dipahami. Apoteker memiliki kompetensi di bidang formulasi dan bahan aktif. Dokter spesialis kulit memiliki kompetensi di bidang diagnosis dan terapi medis. Tapi tidak semua apoteker atau dokter memahami kosmetik secara mendalam. Saya sering melihat apoteker yang memberikan rekomendasi produk tanpa memahami formulasi, atau dokter yang membahas bahan aktif di luar kompetensinya. Ini adalah masalah serius.
Apt. Cahya: Dan sebagai formulator, saya sering melihat brand owner yang bekerja sama dengan influencer—atau bahkan ‘dokter influencer’—tanpa memeriksa rekam jejak, kredibilitas, atau pemahaman mereka tentang regulasi. Ada pula brand yang menciptakan ‘dokter abal-abal’ atau memanfaatkan dokter yang tidak kompeten di bidang kosmetik untuk melegitimasi produk. Ini adalah praktik yang sangat tidak etis.
Wendra, M.MT.: Tapi di pasar, influencer dengan pengikut jutaan sangat efektif untuk menjual produk. Konsumen membeli karena mereka mempercayai cerita, bukan karena data. Tugas brand yang jujur adalah memilih mitra yang kompeten, bukan yang paling populer. Dan tugas konsumen adalah tidak otomatis percaya pada seseorang hanya karena gelar dokter atau jumlah pengikut. Gelar adalah awal, bukan akhir, dari sebuah kepercayaan.
Eva: "Apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi masalah ini?"
dr. Diah: Ada beberapa inisiatif yang sudah berjalan. BPOM sedang memfinalisasi aturan tentang review produk kosmetik oleh influencer. BPOM juga meluncurkan Program INSPIRASI untuk meningkatkan literasi beauty enthusiast. LABCOS Farmasi Unpad rutin menggelar seminar tentang inovasi dan etika kosmetik. Dan ada wacana sertifikasi bagi konten kreator yang membahas topik kesehatan. Ini semua langkah positif. Tapi pada akhirnya, konsumen juga harus belajar membedakan: siapa yang bicara dalam ranah kompetensinya, dan siapa yang sudah melampaui batas.
Adrian: "CODE 14 berjudul 'Dead brands Tell No Tales'—tentang produk yang gagal karena klaim bohong. Ini adalah post-mortem yang menarik. Apa yang sebenarnya terjadi pada produk yang mati karena overclaim?"
Apt. Cahya: Adrian, produk itu tidak mati di laboratorium. Produk mati di kepercayaan publik. Dan klaim bohong adalah eksekusinya. Sebuah produk tidak tiba-tiba mati. Ini adalah eksekusi publik yang lambat, dimulai dari satu klaim palsu. Tahap pertama: brand membuat janji palsu untuk mengejar pasar—‘instan’, ‘menyembuhkan’,] ‘ajaib’. Tahap kedua: konsumen kecewa, ulasan buruk bertebaran, dan regulator bertindak. Tahap ketiga: izin edar dicabut, reputasi hancur, brand mati.
Prof. Keri: Dan data dari BPOM menunjukkan betapa seriusnya masalah ini. Agustus 2025, BPOM menemukan 21 produk kosmetik yang isinya tidak sesuai dengan data notifikasi—komposisi di dalam botol berbeda dengan apa yang dilaporkan. Agustus 2025 juga, BPOM mencabut izin 14 produk kosmetik wanita dengan klaim seperti "mengencangkan payudara" dan "merapatkan organ intim". Maret 2026, BPOM kembali menemukan 8 produk dengan klaim serupa. Ini adalah puncak gunung es.
dr. Diah: Dan di klinik, saya melihat konsekuensi paling nyata dari overclaim. Pasien yang kecewa karena produk tidak bekerja, pasien yang iritasi karena klaim palsu, pasien yang berhenti berobat ke dokter karena percaya pada klaim produk. Ini adalah kerugian yang tidak hanya finansial, tapi juga fisik dan psikologis.
Wendra, M.MT.: Brand owner sering berpikir: "Ah, kecil kemungkinan kena razia." Atau "brand lain juga pakai klaim seperti itu, kok aman-aman saja?" Mereka mengorbankan kejujuran demi keuntungan sesaat. Tapi ketika regulator bertindak, nama brand tercoreng. Konsumen yang merasa ditipu tidak akan pernah kembali. Satu klaim ilegal bisa menghancurkan kepercayaan yang dibangun bertahun-tahun. Tidak ada produk yang kebal hukum. Kejujuran adalah satu-satunya model bisnis yang berkelanjutan.
Adrian: "CODE 15 adalah kebalikan dari CODE 14: 'How Honest Science Built an Icon.' Bagaimana kejujuran ilmiah bisa membangun merek legendaris?"
Wendra, M.MT.: Merek ikonik tidak lahir dari satu malam viral. Mereka lahir dari kejujuran ilmiah, konsistensi formulasi, dan kepercayaan yang dibangun perlahan demi perlahan. Mereka tidak pernah mengorbankan kejujuran demi sensasi. Mereka memilih bahan aktif karena ada bukti ilmiah, bukan karena sedang tren. Mereka melakukan uji stabilitas jangka panjang, uji tantangan mikroba, dan uji iritasi. Mereka mengklaim hanya apa yang bisa dibuktikan—"membantu mengurangi tampilan garis halus dengan pemakaian rutin selama 4-8 minggu," bukan "menghilangkan kerutan dalam 3 hari".
Apt. Cahya: Dan sebagai formulator, Adrian, saya melihat merek-merek yang bertahan puluhan tahun karena konsistensi. Mereka tidak berganti-ganti klaim setiap kali tren berganti. Mereka transparan tentang formulasi. Mereka tidak menyembunyikan fakta bahwa produk mengandung pengawet, tetapi menjelaskan alasannya. Mereka mengedukasi konsumen—menjelaskan mengapa hasil butuh waktu, apa yang bisa dan tidak bisa dilakukan produk, bagaimana cara pemakaian yang benar.
Prof. Keri: Dan dari sisi ilmiah, merek ikonik tidak pernah mengklaim sesuatu yang tidak bisa dibuktikan. Jika mereka mengklaim “klinis terbukti”, mereka menyertakan data: jumlah sampel, durasi, metode. Mereka tidak menggunakan frasa "klinis terbukti" sebagai strategi semantik pemasaran. Mereka membangun produk di atas fondasi evidence-based. Kepercayaan adalah fondasi merek abadi—dan kepercayaan tidak bisa dipalsukan, tidak bisa dibeli, tidak bisa dibikin instan.
dr. Diah: Di klinik, saya sering merekomendasikan merek-merek yang terbukti konsisten dan jujur sepanjang tahun. Bukan karena mereka membayar saya, tapi karena mereka tidak pernah menjanjikan hasil yang berlebihan. Pasien saya tahu bahwa merek-merek ini tidak akan memberikan keajaiban dalam seminggu. Tapi mereka juga tahu bahwa produk tersebut memang bekerja secara bertahap, aman, dan bisa diandalkan. Inilah yang membangun loyalitas: bukan sensasi instan, melainkan kepercayaan yang terakumulasi dari pengalaman nyata.
Eva: "Apa pesan untuk brand owner yang ingin membangun merek abadi?"
Wendra, M.MT.: Mulailah dengan kejujuran. Lakukan uji klinis yang kredibel. Catat hasilnya, baik maupun buruk. Klaim hanya apa yang bisa dibuktikan. Edukasi konsumen tentang keterbatasan produk. Bersabarlah. Kepercayaan tidak bisa dibeli dengan uang. Ia harus diupayakan setiap hari, dengan setiap interaksi, dengan setiap klaim yang jujur. Merek yang konsisten dalam kejujuran ilmiah akan menuai hasilnya: menjadi ikon yang diingat puluhan tahun.
Adrian: "Terima kasih, semuanya. Ini adalah diskusi yang sangat membuka mata tentang sisi gelap dan terang industri kosmetik. Kami akan lanjutkan ke edisi keempat dan terakhir, saat kita akan membahas The Cosmetic Code Framework dan masa depan kosmetik dengan AI. Sampai jumpa di Pojok Bedah!" [][bersambung]