Tidak semua orang mudah mengenali perasaannya sendiri. Ada yang merasakan kegelisahan, kemarahan, atau kesedihan tanpa mampu menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
Seorang perempuan baru saja pulang setelah menghadiri pertemuan keluarga. Sepanjang perjalanan ia lebih banyak diam, bahkan ketika pasangannya berusaha mengajaknya berbicara. Sesampainya di rumah, ia memilih duduk sendirian sambil memandangi layar televisi tanpa benar-benar memperhatikan acaranya.
Ketika ditanya apakah ada sesuatu yang membuatnya sedih, ia menggeleng. Ketika ditanya apakah ia sedang marah, jawabannya juga tidak. Ia hanya mengatakan sedang merasa tidak enak, tetapi tidak mengetahui bagaimana menjelaskan perasaan tersebut.
Cerita ilustratif itu menggambarkan pengalaman yang mungkin pernah dialami banyak orang. Seseorang menyadari bahwa suasana hatinya berubah, tetapi kesulitan menentukan apakah yang dirasakan merupakan kesedihan, kekecewaan, kecemasan, atau beberapa emosi sekaligus. Mengapa sesuatu yang begitu dekat dengan diri sendiri terkadang justru sulit dikenali?
Baca Juga: Tidak Meledak Bukan Berarti Tidak Terluka, ke Mana Perginya Kekesalan yang Kita Pendam?
Mengapa Mengenali Perasaan Sendiri Tidak Selalu Mudah?
Emosi merupakan pengalaman yang melibatkan berbagai proses, termasuk perubahan kondisi tubuh, perhatian, ingatan, dan penilaian terhadap situasi. Ketika menghadapi sesuatu yang dianggap mengancam atau mengecewakan, seseorang dapat merasakan jantung berdebar, otot menegang, atau keinginan menjauh. Akan tetapi, sensasi tersebut belum tentu langsung memberitahukan emosi apa yang sedang dialami.
Dalam psikologi, kemampuan membedakan pengalaman emosional secara spesifik dikenal sebagai emotional granularity atau emotion differentiation. Istilah tersebut menggambarkan sejauh mana seseorang mampu mengenali perbedaan antara emosi yang terasa mirip. Misalnya, seseorang dapat membedakan kemarahan karena diperlakukan tidak adil dari kekecewaan akibat harapan yang tidak terpenuhi.
Peneliti psikologi Todd B. Kashdan, Lisa Feldman Barrett, dan Patrick E. McKnight membahas pentingnya kemampuan tersebut dalam artikel Unpacking Emotion Differentiation yang diterbitkan pada 2015. Mereka menjelaskan bahwa kemampuan membedakan emosi secara lebih rinci berkaitan dengan cara seseorang mengatur respons terhadap pengalaman yang tidak menyenangkan. Penelitian yang mereka tinjau menunjukkan bahwa orang dengan kemampuan diferensiasi emosi lebih baik cenderung lebih mampu menghindari sejumlah respons yang merugikan ketika menghadapi tekanan.
Perbedaan itu dapat terlihat melalui pilihan kata sehari-hari. Seseorang mungkin menggunakan kata “kesal” untuk hampir semua pengalaman tidak menyenangkan, mulai dari merasa diabaikan hingga takut gagal. Orang lain mungkin dapat mengenali bahwa ia sebenarnya merasa malu, kecewa, iri, atau khawatir, tergantung pada situasi yang sedang dihadapi.
Kemampuan tersebut juga berkaitan dengan pengetahuan mengenai kosakata emosi. Penelitian yang menggabungkan data enam studi dan diterbitkan dalam Affective Science pada 2025 menemukan hubungan antara pemahaman serta ketepatan penggunaan kata emosi dengan lebih rendahnya kesulitan mengatur emosi. Temuan ini bersifat korelasional, sehingga belum membuktikan bahwa memperbanyak kosakata saja akan otomatis menyelesaikan persoalan pengaturan emosi.
Selain kemampuan mengenali perasaan, ada pula kesulitan menjelaskan emosi kepada orang lain. Seseorang mungkin memahami bahwa dirinya kecewa, tetapi memilih diam karena tidak mengetahui bagaimana menyampaikannya tanpa menimbulkan pertengkaran. Pengalaman tersebut berbeda dari keadaan ketika seseorang bahkan belum mampu menentukan apa yang sebenarnya dirasakan.
Dalam kajian psikologi terdapat istilah alexithymia, yang berkaitan dengan kesulitan mengidentifikasi dan mendeskripsikan perasaan, serta kecenderungan lebih berfokus pada kejadian di luar diri daripada pengalaman emosional. Peneliti David A. Preece dan James J. Gross menjelaskan dalam ulasan ilmiah mereka bahwa karakteristik tersebut memiliki beberapa dimensi yang berbeda. Akan tetapi, kesulitan mengungkapkan perasaan dalam satu situasi tidak cukup untuk menyimpulkan seseorang memiliki alexithymia.
Pengalaman hidup dan lingkungan sosial juga dapat memengaruhi kebiasaan seseorang berbicara tentang emosi. Dalam keluarga atau lingkungan yang jarang membicarakan perasaan, seseorang mungkin lebih terbiasa menjelaskan kejadian daripada menceritakan dampak emosionalnya. Kebiasaan tersebut tidak berarti ia tidak memiliki perasaan, tetapi dapat membatasi kesempatan untuk mengenali serta mengomunikasikannya.
Baca Juga: Mengapa Kita Semakin Takut Menceritakan Masalah kepada Orang Terdekat?
Belajar Mengenali Emosi Sebelum Berusaha Menjelaskannya
Langkah awal memahami perasaan bukan selalu mencari jawaban secepat mungkin. Seseorang dapat mulai dengan memperhatikan perubahan yang terjadi pada tubuh dan pikirannya, kemudian menghubungkannya dengan peristiwa yang baru dialami. Misalnya, rasa tegang setelah sebuah pertemuan mungkin berkaitan dengan kekhawatiran akan penilaian orang lain, bukan semata kemarahan.
Menyebut beberapa kemungkinan emosi juga dapat membantu memperjelas pengalaman. Alih-alih berhenti pada kalimat “sedang tidak enak hati”, seseorang dapat mencoba bertanya apakah ia merasa kecewa, tersinggung, kesepian, atau takut mengecewakan orang lain. Tidak ada kewajiban menemukan satu kata yang sepenuhnya tepat karena beberapa emosi dapat hadir bersamaan.
Penelitian Matthew D. Lieberman dan rekan-rekannya dalam Psychological Science pada 2007 menunjukkan bahwa kegiatan memberi label verbal pada rangsangan emosional berkaitan dengan berkurangnya respons amigdala terhadap gambar negatif dan meningkatnya aktivitas bagian tertentu korteks prefrontal. Temuan eksperimen tersebut memberi petunjuk bahwa memberi nama pada emosi dapat membantu proses pengaturannya. Meski demikian, penelitian itu tidak berarti setiap orang akan langsung merasa tenang setelah berhasil menyebutkan emosinya.
Menuliskan pengalaman sehari-hari dapat menjadi cara lain untuk mengenali pola perasaan. Seseorang dapat mencatat kejadian yang dialami, reaksi tubuh, pikiran yang muncul, serta kata-kata yang paling mendekati emosinya. Setelah beberapa waktu, catatan tersebut mungkin membantu memperlihatkan situasi yang berulang kali memunculkan respons serupa.
Ketika berbicara dengan orang terdekat, seseorang juga tidak harus selalu mempunyai penjelasan yang lengkap. Kalimat seperti “Aku sedang merasa tidak nyaman, tetapi belum tahu penyebabnya” dapat menjadi cara menyampaikan keadaan tanpa memaksakan kesimpulan. Orang yang mendengarkan pun dapat membantu dengan memberikan ruang, bukan terus mendesak agar jawaban segera ditemukan.
Sebaliknya, memaksakan seseorang memilih antara sedih atau marah dapat menyederhanakan pengalaman yang sebenarnya lebih rumit. Ia mungkin merasa marah karena kecewa, sedih karena kehilangan harapan, sekaligus cemas menghadapi konsekuensinya. Memahami emosi membutuhkan kesempatan untuk mengenali berbagai kemungkinan tersebut.
Apabila kesulitan mengenali atau mengungkapkan perasaan terus berlangsung dan mulai mengganggu hubungan, pekerjaan, atau kehidupan sehari-hari, berkonsultasi dengan psikolog dapat menjadi langkah yang bermanfaat. Tenaga profesional dapat membantu mengevaluasi kesulitan tersebut dan memahami faktor yang mungkin berperan. Pendekatannya disesuaikan dengan kebutuhan, bukan sekadar memberikan label kepada seseorang.
Mengenali perasaan tidak selalu berarti seseorang harus menceritakan seluruh pengalaman pribadinya kepada orang lain. Ada perbedaan antara memahami apa yang sedang terjadi dalam diri sendiri dan menentukan kepada siapa pengalaman tersebut ingin dibagikan. Keduanya merupakan pilihan yang membutuhkan rasa aman serta kemampuan mengenali batas pribadi.
Ketika seseorang mengatakan tidak tahu apa yang sedang dirasakannya, jawaban itu tidak selalu berarti ia menghindari percakapan atau menyembunyikan sesuatu. Bisa jadi ia memang sedang berusaha memahami pengalaman yang belum mempunyai nama dalam pikirannya. Perasaan dapat hadir lebih dahulu daripada kata-kata untuk menjelaskannya, dan memahami diri sendiri terkadang dimulai dari kesediaan mengakui bahwa kita belum sepenuhnya mengerti apa yang sedang terjadi di dalam diri. [][Vikalena Lasmoskwa/KK]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.