Tidak sedikit laki-laki yang terlihat tenang saat menghadapi masalah. Mereka tetap bekerja, tetap bercanda, dan tetap menjalani rutinitas seperti biasa. Namun, di balik sikap itu, belum tentu semuanya benar-benar baik-baik saja.
Ada anggapan yang sudah lama melekat di masyarakat bahwa laki-laki cenderung sulit mengungkapkan perasaan. Ketika menghadapi tekanan, mereka dianggap lebih memilih diam daripada bercerita. Anggapan itu tidak sepenuhnya keliru, tetapi juga tidak sepenuhnya benar.
Banyak laki-laki sebenarnya ingin didengar. Mereka juga ingin berbagi tentang rasa lelah, kecewa, atau cemas yang sedang dihadapi. Persoalannya, mereka sering tidak tahu bagaimana memulainya. Perasaan yang begitu banyak di dalam kepala terasa sulit diterjemahkan menjadi kalimat yang sederhana.
Akibatnya, diam menjadi pilihan yang paling mudah.
Baca Juga: Banyak Laki-Laki Baru Merasa Lelah Setelah Semua Urusan Selesai. Kenapa Bisa Begitu?
Sejak Kecil, Banyak Laki-Laki Lebih Sering Belajar Menahan daripada Mengungkapkan
Cara seseorang mengekspresikan emosi tidak muncul begitu saja. Lingkungan keluarga, budaya, dan pengalaman hidup ikut membentuknya sejak usia dini.
Banyak anak laki-laki tumbuh dengan kalimat seperti, "Jangan cengeng," "Laki-laki harus kuat," atau "Masa begitu saja menangis?" Tanpa disadari, pesan-pesan seperti itu membuat mereka lebih terbiasa menahan emosi daripada membicarakannya.
Psikolog Dr. Ronald F. Levant, peneliti yang banyak mengkaji psikologi laki-laki dan penulis The Tough Standard: The Hard Truths About Masculinity and Violence [2022], menjelaskan bahwa banyak laki-laki mengalami apa yang disebut normative male alexithymia, yaitu kesulitan mengenali dan mengungkapkan emosi yang sebagian dipengaruhi oleh proses sosialisasi sejak kecil.
Bukan berarti mereka tidak memiliki perasaan. Yang terjadi, mereka lebih jarang dilatih untuk memberi nama pada apa yang sedang dirasakan, apalagi menyampaikannya kepada orang lain.
Ketika dewasa, pola itu sering terbawa. Mereka mampu menjelaskan persoalan pekerjaan secara rinci, tetapi membutuhkan waktu lebih lama untuk mengatakan, "Aku sedang takut," atau, "Aku sedang merasa gagal."
Baca Juga: Kesepian Tidak Selalu Terlihat, Banyak Pria Mengalaminya Tanpa Pernah Mengatakannya
Mendengarkan Kadang Lebih Penting daripada Memaksa Mereka Segera Bercerita
Dalam banyak situasi, niat membantu justru berubah menjadi tekanan. Pertanyaan seperti, "Kenapa sih diam terus?" atau "Coba cerita sekarang," mungkin lahir dari kepedulian. Namun, bagi sebagian laki-laki, desakan seperti itu justru membuat mereka semakin sulit membuka diri.
Psikolog Dr. Brené Brown, penulis Daring Greatly [2012], menjelaskan bahwa keberanian untuk menunjukkan kerentanan hanya muncul ketika seseorang merasa aman dari penilaian. Rasa aman itu tidak dibangun melalui paksaan, melainkan melalui penerimaan dan kesediaan untuk mendengarkan.
Karena itu, ketika seorang laki-laki mulai bercerita, yang paling dibutuhkan sering kali bukan solusi yang cepat. Mereka lebih membutuhkan ruang untuk menyusun pikiran yang selama ini hanya berputar di dalam kepala.
Bisa jadi ceritanya tidak runtut. Bisa jadi kalimatnya terputus-putus. Bahkan mungkin dimulai dari hal-hal kecil yang tampaknya tidak berkaitan dengan masalah utamanya.
Barangkali, itulah cara sebagian laki-laki membuka pintu yang selama ini mereka tutup rapat. Bukan karena mereka tidak percaya kepada orang lain, melainkan karena mereka sedang berusaha menemukan kata-kata yang selama ini tidak pernah diajarkan. Dan ketika akhirnya mereka mulai bercerita, hadiah terbesar yang dapat kita berikan bukanlah jawaban, melainkan kesediaan untuk tetap tinggal dan mendengarkan. [][Rommy Rimbarawa/KK]
Penulisan dan riset artikel ini dibantu AI serta telah melalui proses kurasi Redaksi.