Hujan tetap turun di kota yang terus dibangun. Bedanya, semakin banyak tanah tertutup beton dan aspal. Air pun kehilangan tempat untuk masuk.
Di halaman rumah yang masih berupa tanah, kita dapat melihat genangan perlahan menghilang setelah hujan berhenti. Sebagian air menguap, sebagian mengalir, sementara sebagian lainnya meresap ke dalam tanah. Proses sederhana ini menjadi berbeda ketika permukaan yang sama ditutup semen, paving rapat, bangunan, atau aspal.
Air hujan tentu tidak menghilang hanya karena tanah di bawahnya tidak lagi terlihat. Ia tetap harus bergerak ke suatu tempat. Ketika tidak dapat masuk ke tanah, pilihan terbesarnya adalah mengalir di atas permukaan menuju selokan, drainase, sungai, atau bagian kota yang lebih rendah.
Persoalan muncul ketika semakin banyak air melakukan perjalanan itu pada waktu yang hampir bersamaan. Jalan kemudian bukan sekadar tempat kendaraan melintas, tetapi juga menjadi jalur cepat bagi air hujan. Kota yang terlalu rapat menutup tanah perlahan mengubah cara air bergerak.
Baca Juga: Sampah yang Sudah Kita Buang pada Tempatnya, Pergi ke Mana?
Kota Membuat Air Hujan Bergerak Lebih Cepat
U.S. Environmental Protection Agency [EPA] menyebut jalan, area parkir, atap, trotoar, dan tanah yang sangat padat sebagai contoh permukaan yang sulit ditembus air. Ketika jumlah permukaan semacam ini meningkat akibat urbanisasi, infiltrasi berkurang sementara aliran air di permukaan meningkat. Air juga mencapai saluran dan sungai dalam jumlah lebih besar serta waktu yang lebih cepat.
Bandingkan dengan sebidang tanah yang memiliki vegetasi. Sebagian hujan tertahan tanaman, sebagian masuk ke tanah dan tersimpan sebagai air tanah, kemudian dapat bergerak perlahan menuju aliran air. U.S. Geological Survey [USGS] menjelaskan bahwa proses tersebut membuat lebih sedikit air langsung memasuki sungai ketika hujan sedang berlangsung.
Beton dan aspal mengubah jalur itu. Air yang dahulu mempunyai kesempatan masuk ke tanah sekarang lebih banyak menjadi limpasan permukaan. Sistem drainase memang dibuat untuk membawanya pergi, tetapi semakin luas permukaan kedap air, semakin besar pula volume yang harus ditangani dalam waktu singkat.
Itulah sebabnya pembicaraan mengenai banjir perkotaan tidak cukup hanya berhenti pada pertanyaan apakah selokan tersumbat sampah. Sampah memang dapat menghambat aliran, tetapi kemampuan sebuah kota menghadapi hujan juga berkaitan dengan tata guna lahan, kondisi daerah tangkapan air, kapasitas drainase, intensitas hujan, dan seberapa banyak permukaan yang masih memungkinkan air meresap.
Ada persoalan lain yang ikut terbawa bersama aliran tersebut. Ketika air bergerak melewati jalan dan permukaan perkotaan, ia dapat membawa sedimen, minyak dan lemak, logam, nutrien, serta berbagai polutan menuju badan air. Artinya, perubahan jalur hujan bukan hanya persoalan jumlah air, tetapi juga dapat memengaruhi kualitas air di hilir.
Baca Juga: Karhutla Datang Lagi, Mengapa Kita Seperti Selalu Menunggu Api Terlihat?
Air Tidak Selalu Harus Secepat Mungkin Dibuang
Cara lama memandang hujan di kota sering terasa sederhana: air datang, masukkan ke drainase, kemudian buang secepat mungkin ke sungai. Pendekatan itu tetap diperlukan dalam banyak kondisi, tetapi mempunyai keterbatasan. Jika air dari kawasan yang luas dikumpulkan dan dipercepat menuju saluran yang sama, kapasitas sistem dapat menghadapi tekanan besar ketika hujan lebat datang.
Karena itu, pengelolaan air perkotaan juga berkembang menuju gagasan menahan, menyerap, menyaring, dan menggunakan kembali sebagian air sedekat mungkin dengan tempat jatuhnya. EPA memasukkan pendekatan seperti permukaan berpori dan area bioretensi sebagai bagian dari pengelolaan air hujan. Tujuannya adalah membuat sebagian fungsi hidrologis yang hilang akibat pembangunan dapat bekerja kembali.
Bentuknya tidak harus selalu berupa proyek raksasa. Permeable pavement memungkinkan air melewati permukaan menuju lapisan tanah di bawahnya, sedangkan rain garden menggunakan area cekung dengan tanah dan vegetasi untuk menampung sementara serta menyaring limpasan. Ruang hijau dan vegetasi juga membantu memperlambat perjalanan air sehingga kesempatan untuk meresap menjadi lebih besar.
Namun menyediakan beberapa lubang resapan tidak otomatis menyelesaikan persoalan sebuah kota. Kemampuan tanah menyerap air berbeda menurut jenis tanah, tingkat kejenuhan, kemiringan, vegetasi, dan kondisi setempat. Hujan yang sangat deras juga tetap dapat menghasilkan limpasan ketika kapasitas tanah dan infrastruktur sudah terlampaui.
Karena itu, hubungan antara beton dan banjir tidak sesederhana mengatakan bahwa setiap bangunan baru pasti menghasilkan banjir. Yang perlu diperhatikan adalah akumulasi perubahan permukaan dalam satu kawasan dan bagaimana air dari kawasan tersebut dikelola. Satu halaman yang disemen mungkin terlihat kecil, tetapi ribuan halaman, jalan, atap, dan area parkir membentuk sistem hidrologi kota yang berbeda.
Kita sering baru memperhatikan perjalanan air ketika ia sudah menggenangi jalan, masuk ke rumah, atau membuat sungai meluap. Padahal perjalanan itu dimulai jauh sebelumnya, sejak tetes pertama mengenai atap, trotoar, halaman, jalan, atau sepetak tanah yang masih terbuka. Permukaan yang ditemuinya ikut menentukan seberapa cepat ia bergerak dan ke mana ia akan pergi.
Membangun kota tentu membutuhkan rumah, jalan, gedung, dan berbagai infrastruktur. Namun kota juga membutuhkan ruang bagi proses alam yang tetap berlangsung di antara seluruh pembangunan tersebut. Hujan akan terus mencari jalan, sehingga persoalannya bukan bagaimana membuat air berhenti datang, melainkan apakah kita masih menyisakan cukup banyak tempat untuk menerimanya. [][Rommy Rimbarawa/KK]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.