Laki-laki sering dianggap harus mampu menanggung masalah sendiri. Namun kebutuhan untuk didengar tidak hilang hanya karena seseorang terbiasa terlihat kuat.

Ada laki-laki yang ketika menghadapi masalah memilih pergi sebentar, sibuk dengan pekerjaan, atau bertemu teman tanpa banyak bercerita. Ketika ditanya, jawabannya mungkin pendek: "Aman." Orang di sekelilingnya kemudian menganggap ia memang tidak membutuhkan percakapan lebih jauh.

Namun, diam tidak selalu berarti tidak ingin didengar. Ada perbedaan antara tidak mempunyai sesuatu untuk diceritakan dan tidak mengetahui apakah tempat untuk bercerita cukup aman. Bagi sebagian laki-laki, pertimbangan kedua inilah yang membuat percakapan tentang masalah pribadi terasa lebih sulit dimulai.

Persoalannya bukan bahwa semua laki-laki menyimpan emosi dengan cara yang sama. Pengalaman, keluarga, lingkungan, usia, dan kepribadian membuat cara seseorang berkomunikasi berbeda. Namun penelitian mengenai maskulinitas menunjukkan bahwa tuntutan untuk terlihat kuat dan mandiri memang dapat memengaruhi bagaimana sebagian laki-laki mengekspresikan kesulitan.

Baca Juga: Kenapa Banyak Pria Lebih Nyaman Bertemu Teman Sambil Melakukan Sesuatu daripada Sekadar Mengobrol?

Ketika ‘Kuat’ Perlahan Berarti Tidak Boleh Terlihat Membutuhkan Orang Lain

Ronald Levant, psikolog yang banyak meneliti maskulinitas, menggunakan konsep normative male alexithymia untuk membahas kesulitan sebagian laki-laki mengenali dan mengekspresikan emosi yang berkaitan dengan proses sosialisasi gender. Gagasannya bukan bahwa laki-laki secara biologis tidak mempunyai emosi, melainkan bahwa ekspresi emosi tertentu dapat kurang dilatih atau bahkan ditekan sejak kecil.

Pesannya sering hadir dalam bentuk sederhana. Jangan cengeng, jangan terlalu sensitif, selesaikan sendiri, atau jangan memperlihatkan ketakutan. Kalimat semacam itu dapat terdengar seperti latihan ketangguhan, tetapi ketika terus diterima, seseorang juga dapat belajar bahwa memperlihatkan kebutuhan emosional berisiko membuat dirinya dinilai lemah.

American Psychological Association [APA] dalam pedoman praktik psikologis untuk anak laki-laki dan laki-laki membahas bagaimana bentuk maskulinitas yang menekankan self-reliance, pengendalian emosi, dan menghindari kesan lemah dapat berkaitan dengan keengganan mencari bantuan. Norma maskulinitas tertentu juga dapat membuat laki-laki lebih sulit memanfaatkan dukungan sosial ketika sedang mengalami persoalan.

Akibatnya, ketika seorang laki-laki akhirnya bercerita, ia mungkin sudah melewati proses panjang sebelum mengucapkan kalimat pertama. Ceritanya pun belum tentu disampaikan dengan bahasa emosi yang jelas. Keluhan mengenai pekerjaan, kemacetan, uang, atau seseorang yang menyebalkan kadang menjadi pintu masuk menuju persoalan yang sebenarnya jauh lebih personal.

Respons orang yang mendengarkan kemudian menjadi penting. Kalimat seperti "masa begitu saja kepikiran?" atau "kamu kan laki-laki" mungkin dimaksudkan untuk menguatkan. Namun bagi orang yang baru mencoba membuka sesuatu yang selama ini disimpan, respons itu juga dapat dibaca sebagai konfirmasi bahwa diam memang lebih aman.

Baca Juga: Mengapa Banyak Persahabatan Laki-Laki Tak Dihiasi Banyak Bicara, tetapi Tetap Bertahan Lama?

Mendengarkan Tidak Sama dengan Membiarkan Seseorang Terus Tenggelam dalam Masalah

Ada kecenderungan lain yang juga menarik dalam percakapan antarlaki-laki: persoalan sering cepat diarahkan kepada solusi. Teman kehilangan pekerjaan, lalu pembicaraan segera berpindah ke lowongan. Seseorang mempunyai masalah keluarga, kemudian orang lain mulai menyusun apa yang seharusnya ia lakukan.

Solusi tentu dapat sangat berguna. Namun, dukungan emosional mempunyai fungsi yang berbeda dari sekadar menyelesaikan persoalan. Penelitian mengenai social support secara luas menunjukkan bahwa merasa mempunyai orang yang dapat diandalkan berkaitan dengan kesehatan dan kesejahteraan, sementara kualitas hubungan sosial juga penting bagi kesehatan fisik maupun mental.

Itulah sebabnya pertanyaan sederhana seperti "mau didengar dulu atau mau cari jalan keluarnya?" bisa mempunyai nilai besar. Pertanyaan itu tidak mengasumsikan bahwa seseorang hanya ingin mengeluh, tetapi juga tidak langsung mengambil alih persoalannya. Ia memberi kesempatan kepada orang yang sedang bercerita menentukan apa yang dibutuhkan dari percakapan tersebut.

Kebutuhan seperti ini menjadi semakin relevan karena laki-laki tidak selalu mempunyai banyak ruang untuk membicarakan kerentanan. Penelitian Geoffrey Greif mengenai persahabatan laki-laki menunjukkan bahwa kedekatan antarlaki-laki dapat dibangun melalui berbagai bentuk hubungan, termasuk kebersamaan dan aktivitas. Percakapan personal karenanya tidak harus selalu terjadi dalam suasana formal dengan dua orang duduk saling berhadapan.

Cerita bisa muncul ketika menyetir, memancing, mengutak-atik motor, atau setelah olahraga bersama. Kalimat penting terkadang keluar di tengah pembicaraan tentang hal yang tampaknya tidak berkaitan. Orang yang mendengarkan perlu cukup peka untuk mengetahui kapan candaan mulai berubah menjadi cerita yang sebenarnya ingin disampaikan.

Namun mendengarkan juga tidak berarti setiap persoalan cukup diselesaikan oleh teman atau keluarga. Ketika kesedihan, kecemasan, kemarahan, penggunaan alkohol atau zat, gangguan tidur, maupun perubahan perilaku mulai berat atau mengganggu kehidupan sehari-hari, bantuan profesional dapat dibutuhkan. Dukungan dari orang terdekat dapat menjadi jembatan untuk mencarinya, bukan penggantinya.

Barangkali kita terlalu sering menggunakan kata ‘kuat’ untuk menggambarkan kemampuan menanggung semuanya sendiri. Padahal kekuatan juga dapat berbentuk keberanian mengatakan bahwa keadaan sedang tidak baik, sementara orang lain cukup tinggal dan mendengarkan tanpa buru-buru menghakimi. Laki-laki tidak kehilangan ketangguhannya hanya karena sesekali membutuhkan tempat untuk meletakkan beban. [][Rommy Rimbarawa/KK]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.