Kesepian tidak selalu ditandai dengan hidup sendirian. Di tengah kesibukan, pekerjaan, dan pergaulan, banyak laki-laki diam-diam mengalaminya tanpa pernah mengungkapkan apa yang mereka rasakan.
Ada laki-laki yang setiap hari bertemu banyak orang, aktif bekerja, bercanda dengan teman, dan tetap hadir di berbagai kegiatan. Dari luar, hidupnya tampak baik-baik saja. Namun, ketika malam tiba dan semua kesibukan selesai, muncul perasaan yang sulit dijelaskan. Ada ruang kosong yang tidak selalu bisa diisi oleh pekerjaan, media sosial, atau hiburan.
Kesepian sering dianggap identik dengan tidak memiliki teman. Padahal, psikologi menunjukkan bahwa seseorang bisa merasa sangat kesepian meski dikelilingi banyak orang. Kesepian lebih berkaitan dengan kualitas hubungan daripada jumlah orang yang hadir dalam kehidupan seseorang.
Menariknya, fenomena ini cukup banyak ditemukan pada laki-laki. Bukan karena mereka lebih lemah atau lebih kuat dibanding perempuan, tetapi karena banyak laki-laki tumbuh dalam lingkungan yang mengajarkan bahwa masalah sebaiknya disimpan sendiri dan emosi tidak perlu terlalu sering dibicarakan.
Baca Juga: Benarkah Banyak Pria Sulit Meminta Tolong?
Banyak Laki-Laki Diajarkan Menyelesaikan Masalah, Bukan Membicarakannya
Sejak kecil, tidak sedikit anak laki-laki yang lebih sering mendengar kalimat seperti, "Jangan cengeng," "Harus kuat," atau "Laki-laki tidak boleh terlalu baper." Kalimat-kalimat tersebut mungkin diucapkan dengan niat membentuk ketangguhan. Namun, tanpa disadari, sebagian laki-laki tumbuh dengan keyakinan bahwa mengungkapkan kesedihan atau meminta bantuan adalah tanda kelemahan.
Akibatnya, ketika menghadapi tekanan hidup, mereka lebih memilih memendam perasaan daripada membicarakannya. Mereka tetap menjalankan rutinitas, tetap bekerja, tetap memenuhi tanggung jawab, tetapi tidak benar-benar memiliki ruang untuk menceritakan apa yang sedang mereka alami.
Psikolog dan peneliti Dr. Niobe Way, dalam bukunya Deep Secrets: Boys' Friendships and the Crisis of Connection [2011], menemukan bahwa banyak remaja laki-laki sebenarnya memiliki kebutuhan yang besar untuk membangun hubungan emosional yang dekat. Namun, seiring bertambahnya usia, norma sosial tentang maskulinitas membuat sebagian dari mereka mulai menjaga jarak dari percakapan yang dianggap terlalu personal atau emosional.
Bukan berarti laki-laki tidak membutuhkan kedekatan. Yang sering berubah adalah cara mereka mengekspresikannya.
Baca Juga: Benarkah Nilai Seorang Pria Ditentukan oleh Pekerjaannya?
Kesepian Sering Datang Bukan karena Tidak Punya Teman, Melainkan Tidak Punya Tempat Bercerita
Memiliki banyak relasi tidak selalu berarti memiliki hubungan yang mendalam. Ada orang yang setiap hari berinteraksi dengan puluhan orang, tetapi tidak tahu kepada siapa ia bisa berkata, "Hari ini rasanya berat."
Banyak laki-laki lebih nyaman menunjukkan perhatian melalui tindakan daripada kata-kata. Mereka membantu, memperbaiki sesuatu, mengantar, atau hadir ketika dibutuhkan. Namun, saat giliran mereka yang membutuhkan tempat untuk bercerita, tidak sedikit yang justru merasa sungkan memulai percakapan.
Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai penelitian juga menunjukkan bahwa kesepian pada laki-laki dewasa menjadi isu yang semakin mendapat perhatian. Salah satunya datang dari Dr. Richard V. Reeves, penulis Of Boys and Men [2022], yang menjelaskan bahwa perubahan pola hidup, pekerjaan, dan hubungan sosial membuat sebagian laki-laki kehilangan ruang-ruang kebersamaan yang dulu terbentuk secara alami. Pertemanan tetap ada, tetapi intensitas percakapannya sering berkurang seiring bertambahnya usia dan tanggung jawab.
Kesepian bukanlah kelemahan, juga bukan sesuatu yang hanya dialami oleh orang yang hidup sendirian. Ia adalah pengalaman manusia yang bisa datang kepada siapa saja, termasuk mereka yang tampak paling kuat di mata orang lain.
Barangkali, itulah mengapa kesepian pada laki-laki sering tidak terlihat. Bukan karena perasaan itu tidak ada, melainkan karena mereka telah terlalu lama terbiasa menyimpannya sendiri. Mungkin, menjadi kuat bukan berarti selalu mampu memikul semuanya tanpa bantuan. Kadang, keberanian yang paling besar justru dimulai ketika seseorang bersedia berkata, "Aku sedang tidak baik-baik saja," kepada orang yang ia percaya. [][Rommy Rimbarawa/KK]
Penulisan dan riset artikel ini dibantu AI serta telah melalui proses kurasi Redaksi.