Stres sering dibayangkan sebagai perasaan cemas, gelisah, atau mudah marah. Padahal, tidak semua orang mengalaminya dengan cara seperti itu. Ada yang baru menyadari dirinya sedang berada di bawah tekanan ketika tubuh mulai mengirimkan berbagai sinyal.
Tidak semua stres terasa di dalam pikiran. Ada orang yang tetap bekerja seperti biasa, masih mampu bercanda, dan tetap menjalani rutinitasnya. Mereka merasa semuanya baik-baik saja. Namun, beberapa minggu kemudian tubuh mulai memberikan tanda-tanda yang sulit diabaikan.
Kepala lebih sering terasa berat. Tidur menjadi tidak nyenyak. Lambung mulai terasa perih. Bahu dan leher sering tegang. Tubuh mudah lelah meski aktivitas tidak bertambah banyak.
Sebagian orang mengira penyebabnya hanya kelelahan fisik. Ada yang membeli obat pereda nyeri, menambah suplemen, atau mencoba tidur lebih lama. Keluhan mungkin berkurang untuk sementara, tetapi tidak benar-benar hilang.
Barulah setelah tekanan hidup mulai mereda, mereka menyadari bahwa selama ini tubuh sedang menanggung beban yang tidak sempat diakui oleh pikiran.
Baca Juga: Permintaan Maaf Bisa Mengakhiri Konflik, Tetapi Belum Tentu Menghapus Luka, Mengapa?
Tubuh dan Pikiran Saling Berbicara Lebih Sering daripada yang Kita Sadari
Stres bukan hanya persoalan emosi. Ketika seseorang menghadapi tekanan, tubuh ikut merespons melalui sistem saraf dan hormon. Dalam jangka pendek, respons ini membantu kita menghadapi situasi yang dianggap mengancam. Namun, jika berlangsung terus-menerus, berbagai fungsi tubuh dapat ikut terpengaruh.
Psikolog kesehatan Dr. Kelly McGonigal, penulis The Upside of Stress [2015], menjelaskan bahwa stres pada dasarnya merupakan respons alami tubuh terhadap tuntutan hidup. Masalah muncul ketika tekanan berlangsung terlalu lama tanpa disertai waktu yang cukup untuk memulihkan diri. Dalam kondisi seperti itu, tubuh dapat mulai menunjukkan berbagai gejala fisik sebagai bentuk peringatan.
Keluhan yang muncul pun tidak selalu sama. Ada yang lebih sering mengalami sakit kepala, gangguan pencernaan, jantung berdebar, nyeri otot, mudah terserang flu, atau merasa lelah sepanjang hari. Karena gejalanya bersifat fisik, banyak orang tidak langsung menghubungkannya dengan kondisi psikologis yang sedang mereka alami.
Hal ini juga dijelaskan oleh American Psychological Association. Stres yang berlangsung berkepanjangan dapat memengaruhi hampir seluruh sistem tubuh, mulai dari kualitas tidur, sistem pencernaan, sistem kekebalan tubuh, hingga kesehatan jantung. Itulah sebabnya, mengenali stres tidak cukup hanya melihat suasana hati, tetapi juga perlu memperhatikan perubahan yang terjadi pada tubuh.
Baca Juga: Mungkinkah Percakapan yang Selesai Bertahun-Tahun Lalu Tetap Tinggal di Kepala Kita?
Mengenali Sinyal Tubuh Merupakan Bagian dari Merawat Diri
Kesibukan sering membuat seseorang terbiasa mengabaikan tanda-tanda kecil. Rasa lelah dianggap wajar. Sulit tidur dianggap akibat pekerjaan. Nyeri di leher dianggap karena terlalu lama duduk. Padahal, jika keluhan itu muncul berulang tanpa penyebab yang jelas, tubuh mungkin sedang meminta perhatian.
Bukan berarti setiap sakit kepala atau gangguan lambung pasti disebabkan oleh stres. Pemeriksaan kepada tenaga kesehatan tetap penting dilakukan untuk memastikan penyebabnya, terutama jika keluhan berlangsung lama, semakin berat, atau disertai gejala lain yang mengkhawatirkan.
Namun, apabila hasil pemeriksaan menunjukkan tidak ada gangguan fisik yang serius, mungkin sudah waktunya melihat kembali bagaimana kita menjalani hari-hari belakangan ini. Apakah waktu istirahat cukup? Apakah tekanan pekerjaan terus menumpuk? Apakah ada beban pikiran yang selama ini dipendam sendirian?
Mengelola stres tidak selalu harus dimulai dengan perubahan yang besar. Tidur yang lebih teratur, berolahraga ringan, meluangkan waktu untuk melakukan aktivitas yang disukai, membatasi pekerjaan di luar jam istirahat, atau berbicara dengan orang yang dipercaya dapat menjadi langkah awal yang membantu tubuh dan pikiran kembali menemukan keseimbangannya. Jika tekanan terasa semakin berat dan mulai mengganggu kehidupan sehari-hari, berkonsultasi dengan psikolog atau tenaga kesehatan jiwa juga merupakan pilihan yang bijaksana.
Barangkali, tubuh adalah sahabat yang paling jujur. Ketika pikiran masih berusaha mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja, tubuh sering kali sudah lebih dulu berbisik bahwa ada sesuatu yang perlu diperhatikan. Mendengarkan bisikan itu bukan tanda kelemahan, melainkan salah satu bentuk kepedulian terhadap diri sendiri. [][Vikalena Lasmoskwa/KK]
Penulisan dan riset artikel ini dibantu AI serta telah melalui proses kurasi Redaksi.