Mengucapkan maaf sering dianggap sebagai akhir dari sebuah pertengkaran. Namun, dalam banyak hubungan, konflik memang berhenti, sementara rasa sakit justru masih tinggal. Mengapa permintaan maaf tidak selalu mampu menyembuhkan luka emosional?

Ketika seseorang berkata, "Maaf ya," kita sering berharap semuanya akan kembali seperti semula. Hubungan yang sempat renggang diharapkan membaik, suasana menjadi lebih tenang, dan persoalan dianggap selesai.

Dalam kenyataannya, tidak selalu demikian.

Ada orang yang sudah memaafkan, tetapi masih merasa sedih ketika mengingat peristiwa yang sama. Ada pula yang menerima permintaan maaf, namun tetap membutuhkan waktu untuk kembali merasa aman atau percaya kepada orang yang pernah melukainya.

Situasi ini bukan berarti permintaan maaf tidak berarti. Sebaliknya, permintaan maaf adalah langkah penting untuk membuka jalan menuju perbaikan hubungan. Hanya saja, memulihkan luka emosional seringkali membutuhkan proses yang lebih panjang daripada sekadar mengucapkan atau menerima kata "maaf".

Baca Juga: Mungkinkah Percakapan yang Selesai Bertahun-Tahun Lalu Tetap Tinggal di Kepala Kita?

Luka Emosional Tidak Hilang Bersamaan dengan Berakhirnya Konflik

Menurut psikolog Dr. Harriet Lerner, penulis Why Won't You Apologize? Healing Big Betrayals and Everyday Hurts [2017], permintaan maaf yang tulus dapat menjadi awal dari proses penyembuhan, tetapi tidak dapat menghapus dampak emosional yang telah terlanjur terbentuk. Ketika seseorang merasa dikhianati, dipermalukan, atau disakiti, otak menyimpan pengalaman tersebut sebagai bagian dari ingatan emosional.

Itulah sebabnya seseorang masih dapat merasakan sedih, kecewa, atau cemas ketika mengingat sebuah kejadian, meskipun hubungan dengan orang yang bersangkutan sudah membaik.

Selain isi permintaan maaf, cara penyampaiannya juga berpengaruh. Permintaan maaf yang hanya bertujuan mengakhiri pertengkaran seringkali terasa berbeda dengan permintaan maaf yang disertai pengakuan atas kesalahan, tanggung jawab, dan kesediaan untuk berubah.

Penelitian yang dilakukan Dr. Aaron Lazare, penulis On Apology [2004], menunjukkan bahwa permintaan maaf yang efektif bukan hanya berisi ungkapan penyesalan, tetapi juga menunjukkan bahwa pelaku benar-benar memahami dampak yang ditimbulkan kepada orang lain. Pemahaman itulah yang membantu korban merasa didengar dan dihargai.

Baca Juga: Mungkinkah Percakapan yang Selesai Bertahun-Tahun Lalu Tetap Tinggal di Kepala Kita?

Memaafkan Tidak Selalu Berarti Melupakan

Dalam kehidupan sehari-hari, memaafkan sering disalahartikan sebagai melupakan semua yang telah terjadi. Padahal, keduanya merupakan proses yang berbeda.

Seseorang dapat memilih memaafkan agar tidak terus hidup dalam kemarahan, tetapi tetap mengingat pengalaman tersebut sebagai pelajaran. Ingatan itu bukan untuk memelihara dendam, melainkan sebagai cara melindungi diri agar tidak mengalami luka yang sama.

Kepercayaan pun memiliki mekanisme yang serupa. Sekali rusak, ia dapat dibangun kembali, tetapi membutuhkan waktu, konsistensi, dan bukti nyata bahwa perubahan benar-benar terjadi. Karena itu, tidak adil jika seseorang dipaksa segera pulih hanya karena permintaan maaf telah diucapkan.

Barangkali, permintaan maaf bukanlah penghapus luka, melainkan pintu yang membuka kesempatan untuk menyembuhkannya. Seberapa jauh proses itu berlangsung bergantung pada ketulusan, perubahan sikap, dan waktu yang dibutuhkan oleh setiap orang. Sebab, hubungan yang kembali utuh tidak dibangun hanya dengan kata-kata, melainkan juga oleh tindakan yang perlahan mengembalikan rasa percaya. [][Vikalena Lasmoskwa/KK]

Penulisan dan riset artikel ini dibantu AI serta telah melalui proses kurasi Redaksi.