Dulu, menunggu liburan sekolah terasa lama. Menunggu ulang tahun berikutnya seperti perjalanan yang tidak ada habisnya. 

Kini, tanpa terasa, Januari berubah menjadi Juni, lalu tahu-tahu kalender sudah menunjukkan akhir tahun. Banyak orang pernah mengucapkan kalimat yang sama, "Rasanya baru kemarin..." Seolah-olah waktu berjalan jauh lebih cepat daripada ketika kita masih kecil.

Padahal, satu hari tetap terdiri dari 24 jam. Satu minggu tetap memiliki tujuh hari. Tidak ada yang berubah pada cara waktu bergerak. Yang berubah justru adalah cara kita merasakan dan mengingatnya.

Perasaan bahwa waktu semakin cepat bukan sekadar ilusi yang muncul karena bertambahnya usia. Psikologi dan ilmu saraf menunjukkan bahwa pengalaman manusia terhadap waktu memang dapat berubah, dipengaruhi oleh cara otak menyimpan kenangan dan menjalani rutinitas.

Baca Juga: Beberapa Orang Suka Mengintip Kehidupan Orang Lain. Anda Salah Satunya?

Pengalaman Baru Membuat Waktu Terasa Lebih Panjang

Ketika masih anak-anak, hampir setiap hari menghadirkan pengalaman baru. Hari pertama masuk sekolah, belajar bersepeda, bertemu teman baru, pergi berlibur, atau mencoba permainan yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Semua pengalaman itu direkam otak sebagai sesuatu yang penting.

Ahli neurosains dari Stanford University, Dr. David Eagleman, menjelaskan bahwa persepsi manusia terhadap waktu sangat dipengaruhi oleh banyaknya informasi baru yang diproses otak. Semakin banyak pengalaman baru yang kita alami, semakin kaya pula ingatan yang tersimpan.

Itulah sebabnya masa kecil sering terasa begitu panjang ketika dikenang. Otak memiliki begitu banyak ‘penanda’ yang membuat satu tahun tampak penuh dengan berbagai peristiwa.

Berbeda dengan kehidupan orang dewasa. Banyak hari berjalan dengan pola yang hampir sama. Bangun pagi, bekerja, pulang ke rumah, beristirahat, lalu mengulang rutinitas yang serupa keesokan harinya. Rutinitas memang membantu hidup menjadi lebih teratur, tetapi ia juga membuat otak tidak lagi menemukan banyak hal baru untuk direkam.

Ketika menoleh ke belakang, beberapa bulan terasa berlalu begitu saja karena tidak banyak pengalaman yang benar-benar menonjol dalam ingatan.

Baca Juga: Flash Sale Tengah Malam Sekarang Lebih Ramai daripada Pasar Pagi

Kesibukan Membuat Kita Jarang Menyadari Jalannya Hari

Selain rutinitas, kesibukan juga ikut memengaruhi cara kita merasakan waktu. Dalam kehidupan yang dipenuhi pekerjaan, target, dan berbagai tanggung jawab, perhatian kita sering tersita oleh apa yang harus segera diselesaikan.

Akibatnya, kita lebih sibuk mengejar hari daripada benar-benar menjalaninya. Tanpa sadar, minggu berganti bulan, dan bulan berganti tahun.

Menariknya, ketika sesekali kita mencoba sesuatu yang baru—berkunjung ke tempat yang belum pernah didatangi, mempelajari keterampilan baru, atau bertemu orang-orang dengan cerita yang berbeda—waktu sering terasa melambat. Bukan karena jam bergerak lebih pelan, melainkan karena otak kembali aktif merekam pengalaman-pengalaman yang tidak biasa.

Hal ini menunjukkan bahwa persepsi terhadap waktu tidak hanya ditentukan oleh usia, tetapi juga oleh cara kita mengisi hari-hari yang dijalani.

Mungkin karena itulah banyak orang merasa waktu semakin cepat berlalu. Bukan karena kalender bergerak lebih tergesa-gesa, melainkan karena semakin banyak hari yang berlalu dalam pola yang hampir serupa. Ketika hidup dipenuhi rutinitas, ingatan menjadi lebih ringkas dan perjalanan waktu terasa memendek.

Sesekali, mungkin kita tidak perlu mencari cara untuk memperlambat waktu. Yang lebih mungkin dilakukan adalah memberi ruang bagi pengalaman baru, sekecil apa pun bentuknya. Sebab sering kali, bukan waktu yang sedang berlari lebih cepat, melainkan kita yang terlalu sibuk hingga lupa memperhatikan setiap langkah yang sedang dilaluinya. [][Vikalena Lasmoskwa/KK]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.