Pesawat terlambat, tersesat, kehujanan, atau salah naik kendaraan. Anehnya, perjalanan yang kacau justru sering menjadi cerita yang paling lama kita ingat.

Liburan yang berjalan sempurna tentu menyenangkan. Hotel sesuai foto, cuaca bersahabat, transportasi tepat waktu, dan semua destinasi berhasil didatangi sesuai rencana. Namun beberapa tahun kemudian, detail perjalanan seperti itu kadang justru mulai bercampur dengan perjalanan lainnya.

Sebaliknya, kita masih dapat mengingat dengan jelas malam ketika koper tertinggal, kendaraan mogok di tempat asing, atau satu keluarga berlarian mencari kereta terakhir. Saat mengalaminya, kejadian tersebut mungkin sama sekali tidak terasa menyenangkan. Setelah waktu berlalu, justru bagian itulah yang berulang kali diceritakan ketika perjalanan tersebut dikenang.

Psikologi memori memang menunjukkan bahwa pengalaman emosional cenderung memperoleh perlakuan berbeda dibandingkan pengalaman yang netral. Namun bukan berarti setiap kejadian buruk otomatis diingat lebih baik daripada kejadian menyenangkan. Intensitas emosi, keunikan kejadian, perhatian, serta bagaimana pengalaman itu kemudian diceritakan kembali ikut menentukan apa yang akhirnya bertahan dalam ingatan. 

Baca Juga: Kita Cari Apa di Destinasi Wisata yang Sedang Viral?

Yang Tidak Sesuai Rencana Lebih Mudah Menonjol

Bayangkan perjalanan tiga hari yang hampir semuanya berjalan lancar. Dari puluhan jam tersebut, hanya satu jam yang benar-benar kacau karena kendaraan yang dipesan tidak datang dan hujan mulai turun. Secara durasi, kekacauan tersebut sangat kecil dibandingkan keseluruhan liburan.

Namun, otak tidak selalu menyimpan setiap menit pengalaman dengan bobot yang sama. Penelitian mengenai memori emosional menunjukkan kejadian yang mempunyai muatan emosi dan terasa menonjol dapat memperoleh perhatian lebih besar dibandingkan informasi yang lebih biasa. Dalam sebuah eksperimen, unsur yang tidak terduga dan menonjol bahkan tampak berperan penting dalam meningkatkan akurasi ingatan terhadap suatu kejadian. 

Ini membantu menjelaskan mengapa tersesat di kota asing terasa lebih mudah dikenang daripada perjalanan taksi yang berjalan tanpa masalah. Perjalanan normal sesuai prediksi sehingga tidak menuntut banyak perhatian. Ketika rencana gagal, kita harus mengamati lingkungan lebih teliti, mengambil keputusan, mengelola emosi, dan mencari solusi.

Prof. Elizabeth Kensinger, psikolog yang banyak meneliti hubungan emosi dan memori, bersama Daniel Schacter menemukan bahwa pengalaman yang dinilai negatif dapat menghasilkan pola memori yang berbeda dibandingkan pengalaman positif. Dalam studi mengenai pertandingan bisbol yang menghasilkan pengalaman emosional berbeda bagi kelompok pendukung, kelompok yang mengalami peristiwa negatif menunjukkan konsistensi ingatan lebih tinggi dibandingkan kelompok yang mengalaminya sebagai sesuatu yang positif. 

Namun ‘negatif lebih mudah diingat’ juga tidak boleh diperlakukan sebagai aturan mutlak. Penelitian lain menunjukkan rangsangan positif maupun negatif dapat sama-sama lebih mudah dikenali dibandingkan sesuatu yang netral. Yang membuat pengalaman tertentu bertahan tampaknya bukan hanya apakah ia menyenangkan atau buruk, tetapi seberapa menonjol dan bermakna kejadian tersebut bagi orang yang mengalaminya. 

Itulah sebabnya matahari terbenam paling indah dalam perjalanan juga dapat tinggal puluhan tahun dalam ingatan. Yang dilawan oleh perjalanan berantakan sebenarnya bukan kenangan indah, melainkan bagian perjalanan yang berlangsung terlalu biasa untuk mendapatkan perhatian khusus.

Baca Juga: Kenapa Tempat yang Kita Kunjungi untuk Kedua Kalinya Bisa Terasa Sangat Berbeda?

Setelah Pulang, Kekacauan Bisa Berubah Menjadi Cerita

Ada bagian lain yang membuat perjalanan berantakan semakin kuat: kita cenderung menceritakannya lagi. “Ingat waktu kita salah turun stasiun?” mempunyai struktur cerita yang jauh lebih mudah dibagikan dibandingkan “semua jadwal berjalan tepat waktu selama empat hari”.

Kekacauan mempunyai konflik, ketidakpastian, usaha mengatasinya, dan biasanya sebuah akhir. Dalam perjalanan bersama orang lain, kejadian buruk bahkan dapat berubah menjadi lelucon internal setelah semua orang selamat dan masalah selesai. Emosi negatif pada saat kejadian perlahan memperoleh konteks baru ketika pengalaman tersebut diceritakan dari jarak yang lebih aman.

Ingatan tentang liburan pun memang bukan rekaman sempurna dari seluruh perjalanan. Dalam penelitian terhadap mahasiswa yang menjalani liburan rata-rata tujuh hari dan melaporkan kebahagiaan mereka setiap hari, peserta setelah liburan ternyata tidak mampu mengingat perubahan kebahagiaan harian secara presisi. Evaluasi keseluruhan mereka menunjukkan bahwa pengalaman telah banyak direkonstruksi ketika dikenang kembali. 

Konsep peak-end rule juga sering digunakan untuk menjelaskan bagaimana manusia mengevaluasi pengalaman masa lalu. Gagasan ini menyatakan bahwa momen yang sangat intens dan bagian akhir pengalaman dapat memperoleh bobot lebih besar daripada durasi keseluruhan. Meta-analisis terhadap 174 ukuran efek menemukan dukungan kuat terhadap pola tersebut, meskipun penelitian pada pengalaman kompleks menunjukkan pengalaman nyata tidak selalu dapat diringkas hanya melalui dua momen itu. 

Karena itu, satu malam kacau tidak otomatis menentukan seluruh liburan. Namun jika kejadian tersebut merupakan bagian yang paling emosional, paling tidak terduga, atau terus diceritakan sesudahnya, ia mempunyai banyak kesempatan untuk menjadi pusat cerita yang kita bangun mengenai perjalanan tersebut.

Menariknya, perubahan itu juga dapat membuat peristiwa yang dahulu terasa buruk menjadi menyenangkan ketika dikenang. Kehujanan sambil menyeret koper mungkin membuat kesal saat terjadi, tetapi lima tahun kemudian foto dengan pakaian basah dapat memunculkan tawa. Kita tidak mengubah fakta peristiwanya, tetapi hubungan emosional terhadapnya dapat berubah.

Tentu ada batasnya. Kehilangan barang berharga, kecelakaan, kekerasan, atau pengalaman traumatis bukan sesuatu yang layak diringankan sebagai “cerita seru perjalanan”. Perjalanan berantakan yang kelak menjadi kenangan lucu biasanya adalah persoalan yang akhirnya dapat diselesaikan dan tidak meninggalkan konsekuensi serius.

Mungkin itulah alasan liburan sempurna terkadang menghasilkan sedikit cerita, sedangkan perjalanan yang kacau menyediakan terlalu banyak. Ketika semuanya berjalan sesuai rencana, kita mempunyai pengalaman menyenangkan. Ketika rencana berantakan dan akhirnya berhasil dilewati, kita mempunyai pengalaman sekaligus cerita.

Barangkali perjalanan yang paling lama kita ingat memang bukan perjalanan yang seluruh bagiannya terasa nyaman. Kadang yang tinggal justru satu bagian ketika semuanya meleset dari rencana, memaksa kita melakukan sesuatu yang tidak diperkirakan, lalu memperlihatkan bahwa perjalanan ternyata tetap bisa berlanjut. Setelah cukup lama berlalu, kekacauan yang dahulu ingin cepat-cepat dilupakan bisa berubah menjadi alasan kita terus mengingat perjalanan itu. [][Adrian Damar/KK]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.