AI sekarang mulai dipakai untuk membalas pesan kerja sehari-hari. Dari email formal sampai chat singkat, teknologi perlahan ikut membentuk cara manusia berbicara.

Fenomena ini berkembang cukup cepat sejak berbagai platform AI menjadi lebih mudah diakses. Banyak pekerja mulai menggunakan AI untuk menyusun balasan email, membuat pesan profesional, memperhalus bahasa, sampai mencari jawaban yang terdengar lebih sopan dan efisien.

Di satu sisi, teknologi tersebut memang membantu pekerjaan terasa lebih cepat. Orang yang lelah, sibuk, atau kesulitan menyusun kata bisa terbantu hanya dalam beberapa detik.

Namun semakin sering digunakan, banyak orang mulai merasa ada sesuatu yang berbeda dari gaya komunikasi modern sekarang. Pesan terasa rapi, sopan, dan terstruktur, tetapi kadang terdengar terlalu halus dan mirip satu sama lain.

Profesor linguistik Naomi Baron dalam How We Read Now [2021] menjelaskan bahwa teknologi digital perlahan mengubah cara manusia menulis dan berkomunikasi. Ketika sistem mulai membantu menyusun bahasa, gaya komunikasi manusia ikut bergerak menuju pola yang lebih seragam dan praktis.

Itu sebabnya sebagian orang sekarang mulai merasa bisa menebak mana pesan yang kemungkinan besar dibantu AI dan mana yang benar-benar ditulis spontan oleh manusia.

Baca Juga: AI Sudah Mulai Dipakai Ngerjain Tugas Sekolah, Guru Harus Mulai Khawatir atau Adaptasi?

Bahasa AI Biasanya Terlalu Rapi untuk Percakapan yang Sangat Manusia

Manusia sebenarnya punya pola komunikasi yang tidak selalu sempurna. Ada typo, emosi kecil, pilihan kata spontan, sampai gaya bicara khas yang sering muncul tanpa sadar. Sementara itu, AI cenderung menghasilkan bahasa yang aman, netral, dan terlalu bersih. Kalimatnya sering terasa profesional, tetapi kadang kehilangan ritme alami percakapan manusia sehari-hari.

Fenomena ini mulai terasa terutama dalam komunikasi kerja. Banyak pesan terdengar sangat formal meski dikirim dalam konteks santai. Ada juga balasan yang terlalu panjang untuk pertanyaan sederhana, atau terlalu diplomatis sampai terasa seperti template.

Profesor komunikasi Sherry Turkle dalam Reclaiming Conversation [2015] menjelaskan bahwa teknologi komunikasi modern membuat manusia semakin sering berinteraksi lewat sistem yang mengurangi spontanitas emosional. Ketika komunikasi terlalu dimediasi teknologi, hubungan antarindividu bisa terasa lebih efisien tetapi kurang personal.

Hal itu mulai terlihat dalam budaya kerja digital sekarang. Banyak orang sebenarnya terbantu AI, tetapi perlahan kehilangan ciri khas cara bicaranya sendiri.

Di sisi lain, tidak semua penggunaan AI dalam komunikasi harus dianggap buruk. Ada pekerja yang menggunakan AI hanya untuk membantu merapikan struktur kalimat atau memperjelas maksud pesan tanpa menghilangkan karakter aslinya.

Masalahnya muncul ketika seluruh komunikasi mulai terdengar seperti dibuat oleh mesin yang sama.

Baca Juga: Baru Ngobrol Soal Barang Tertentu, Kenapa Iklannya Langsung Muncul di HP?

Komunikasi Kerja Modern Mulai Bergerak antara Efisiensi dan Keaslian

Teknologi selalu mengubah cara manusia berkomunikasi. Dulu orang menulis surat panjang, lalu bergeser ke email singkat, dan sekarang masuk ke era pesan instan yang serba cepat. AI mempercepat perubahan itu lebih jauh. Banyak orang mulai terbiasa meminta sistem membuat draft pesan bahkan sebelum mereka memikirkan sendiri apa yang sebenarnya ingin disampaikan.

Profesor teknologi dan organisasi Ethan Mollick dalam Co-Intelligence [2024] menjelaskan bahwa AI kemungkinan besar akan menjadi 'rekan kerja digital' dalam banyak aktivitas manusia, termasuk komunikasi sehari-hari. Menurutnya, tantangan terbesar bukan sekadar memakai AI, tetapi menjaga agar manusia tetap sadar kapan teknologi membantu dan kapan mulai mengambil terlalu banyak ruang.

Karena itu, pertanyaan tentang chat kerja berbasis AI sebenarnya bukan cuma soal apakah orang lain bisa membedakannya atau tidak. Pertanyaan yang lebih besar adalah apakah manusia modern masih ingin terdengar seperti dirinya sendiri ketika berbicara.

Mungkin itu sebabnya sebagian pesan sekarang terasa semakin profesional tetapi semakin sulit diingat. Bahasa memang menjadi lebih efisien, tetapi sedikit demi sedikit kehilangan kekacauan kecil yang justru membuat percakapan manusia terasa hidup. [][Rudi Tenggarawan/KK]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.