AI sekarang bukan lagi teknologi jauh dari kehidupan sekolah. Banyak murid mulai menggunakannya untuk mengerjakan tugas, mencari jawaban, bahkan menyusun tulisan.

Perubahan ini terjadi sangat cepat. Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai platform Artificial Intelligence mulai digunakan pelajar untuk membantu pekerjaan sekolah sehari-hari. Ada yang memanfaatkannya untuk memahami pelajaran, tetapi ada juga yang langsung meminta AI membuat jawaban secara penuh.

Fenomena tersebut memunculkan kekhawatiran di banyak sekolah. Sebagian guru mulai takut murid menjadi malas berpikir karena terlalu bergantung kepada teknologi. Kekhawatiran itu cukup masuk akal karena AI memang mampu menyelesaikan banyak tugas hanya dalam hitungan detik.

Namun, masalah sebenarnya mungkin bukan sekadar soal murid memakai AI atau tidak. Dunia pendidikan sedang menghadapi perubahan cara belajar yang jauh lebih besar dibanding sebelumnya.

Profesor teknologi pendidikan Salman Khan dalam bukunya Brave New Words [2024] menjelaskan bahwa AI kemungkinan akan mengubah sistem belajar secara besar-besaran, sama seperti internet pernah mengubah cara manusia mencari informasi. Menurutnya, pendidikan tidak lagi bisa hanya berfokus pada hafalan karena akses terhadap jawaban sekarang sudah terlalu mudah.

Kondisi itu membuat sekolah mulai dipaksa memikirkan ulang apa yang sebenarnya perlu diajarkan kepada murid.

Baca Juga: Teknologi yang Tak Sekadar Mempermudah, Tapi Juga Mengubah Cara Kita Melihat Hidup

Murid Cepat Beradaptasi dengan AI, Tapi Sistem Belajarnya Belum Banyak Berubah

Generasi muda biasanya jauh lebih cepat menerima teknologi baru. Banyak pelajar sekarang sudah terbiasa menggunakan AI untuk mencari ide, merangkum materi, menerjemahkan bahasa, atau membantu memahami soal yang sulit.

Masalahnya, sebagian sistem pendidikan masih berjalan dengan pola lama. Banyak tugas sekolah masih berorientasi pada jawaban akhir, bukan proses berpikir di baliknya.

Ketika AI mampu menghasilkan jawaban dengan cepat, model tugas seperti itu menjadi semakin mudah diselesaikan tanpa benar-benar memahami isi pelajaran. Akibatnya, guru mulai kesulitan membedakan mana hasil pemikiran murid dan mana hasil bantuan teknologi.

Pakar pendidikan Sir Ken Robinson dalam Creative Schools [2015] pernah mengkritik sistem pendidikan yang terlalu menekankan standar dan hafalan dibanding kreativitas serta cara berpikir manusia. Kritik itu terasa semakin relevan sekarang karena AI sangat kuat dalam mengolah informasi yang sifatnya teknis dan berulang.

Hal yang mulai sulit digantikan justru kemampuan manusia untuk berpikir kritis, berdiskusi, membaca konteks, dan membangun sudut pandang sendiri.

Karena itu, banyak ahli pendidikan mulai melihat AI bukan hanya sebagai ancaman, tetapi juga tanda bahwa metode belajar harus berkembang. Jika tugas sekolah tetap hanya meminta jawaban yang bisa dicari mesin, murid akan semakin mudah menyerahkan proses berpikirnya kepada teknologi.

Baca Juga: Baru Ngobrol Soal Barang Tertentu, Kenapa Iklannya Langsung Muncul di HP?

Guru Mungkin Tidak Bisa Lagi Hanya Menjadi Pemberi Tugas

Peran guru perlahan ikut berubah bersama perkembangan teknologi. Dulu, guru menjadi salah satu sumber utama informasi di kelas. Sekarang, murid bisa mendapatkan penjelasan hampir tentang apa saja hanya lewat layar ponsel.

Kondisi tersebut membuat fungsi guru menjadi jauh lebih kompleks dibanding sekadar memberi materi dan tugas. Guru mulai dituntut membantu murid memahami cara berpikir, memverifikasi informasi, dan menggunakan teknologi secara sehat.

Dalam buku Co-Intelligence [2024], Profesor Ethan Mollick dari Wharton School menjelaskan bahwa AI sebaiknya dipandang sebagai alat bantu yang perlu dipahami, bukan sekadar teknologi yang harus ditakuti. Menurutnya, tantangan terbesar pendidikan modern bukan menghentikan AI, tetapi mengajarkan manusia bagaimana bekerja bersama teknologi tanpa kehilangan kemampuan berpikir mandiri.

Karena itu, pertanyaan tentang AI di sekolah mungkin tidak akan selesai hanya dengan larangan penggunaan teknologi. Perubahan sudah berjalan terlalu cepat dan kemungkinan besar akan terus berkembang.

Yang mulai penting sekarang adalah bagaimana sekolah membantu murid tetap berpikir, tetap penasaran, dan tetap memahami proses belajar di tengah dunia yang semakin dipenuhi jawaban instan. Jika tidak, pendidikan bisa tertinggal bukan karena murid terlalu cepat berubah, tetapi karena sistemnya terlalu lama bertahan dengan cara lama. [][Rudi Tenggarawan/KK]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.