Beberapa tahun lalu, setiap aplikasi terasa punya karakter sendiri. Ada yang tampil berani dengan warna mencolok, ada yang punya tombol unik, dan ada yang langsung terasa berbeda bahkan sebelum orang benar-benar memakainya.
Sekarang situasinya mulai berubah. Banyak aplikasi modern terlihat sangat mirip satu sama lain. Warnanya aman, tampilannya bersih, tombolnya seragam, dan cara penggunaannya terasa seperti mengulang pengalaman yang sama di tempat berbeda.
Kadang sampai sulit membedakan apakah seseorang sedang membuka aplikasi belanja, aplikasi bank digital, media sosial, atau layanan produktivitas tertentu. Semuanya terasa familiar dengan cara yang aneh. Bahkan beberapa aplikasi baru sering terasa seperti 'versi lain' dari platform yang sudah lebih dulu ada.
Fenomena itu sebenarnya bukan kebetulan. Dunia teknologi modern perlahan bergerak menuju desain yang dianggap paling nyaman, paling aman, dan paling cepat dipahami pengguna. Akibatnya, aplikasi mulai kehilangan banyak identitas visualnya sendiri.
Dikutip dari The Design of Everyday Things, pakar desain digital Don Norman menjelaskan bahwa desain modern sering bergerak menuju bentuk yang paling mudah dipahami manusia. Ketika sebuah pola dianggap efektif dan nyaman digunakan, industri akan cenderung menirunya terus-menerus sampai menjadi standar baru. Dan itu persis yang terjadi pada banyak aplikasi hari ini.
Baca Juga: Teknologi yang Tak Sekadar Mempermudah, Tapi Juga Mengubah Cara Kita Melihat Hidup
Industri Digital Sekarang Lebih Takut Membuat Pengguna Bingung daripada Membuat Aplikasi Terlihat Membosankan
Di era awal internet dan aplikasi mobile, banyak perusahaan teknologi masih berani bereksperimen. Tombol dibuat unik, navigasi berbeda-beda, dan setiap platform mencoba punya 'rasa' sendiri agar mudah diingat pengguna. Dulu orang bisa mengenali sebuah aplikasi hanya dari tampilannya saja.
Namun ketika persaingan digital semakin padat, fokus industri mulai bergeser. Sekarang perusahaan lebih takut membuat pengguna bingung dibanding membuat desain yang terlalu mirip dengan aplikasi lain. Karena itu, pola desain mulai diseragamkan secara perlahan.
Tombol dibuat mengikuti kebiasaan umum pengguna, warna dipilih yang terasa aman di mata, dan struktur aplikasi disusun agar orang tidak perlu belajar terlalu lama saat pertama kali membukanya. Akibatnya, banyak aplikasi modern akhirnya memakai bahasa visual yang hampir sama.
Fenomena itu sebenarnya berkaitan erat dengan cara teknologi modern bekerja hari ini. Aplikasi bukan lagi sekadar produk digital, tetapi bagian dari sistem besar yang mengejar perhatian manusia selama mungkin. Semakin cepat pengguna merasa familiar, semakin kecil kemungkinan mereka meninggalkan platform tersebut.
Karena itu, desain yang terasa 'aman' dianggap jauh lebih berharga dibanding desain yang terlalu eksperimental. Perusahaan teknologi modern cenderung memilih sesuatu yang sudah terbukti berhasil dibanding mengambil risiko membuat pengalaman yang terlalu berbeda.
Profesor media digital Lev Manovich menjelaskan bahwa budaya digital modern bergerak menuju standardisasi karena sistem teknologi semakin mengutamakan efisiensi dan keterbiasaan pengguna. Ketika miliaran orang memakai aplikasi setiap hari, desain yang familiar dianggap lebih aman dibanding sesuatu yang benar-benar baru. Akibatnya, aplikasi modern terasa nyaman sekaligus sulit meninggalkan kesan emosional yang kuat.
Hal itu terlihat jelas dari banyak fitur yang sekarang terus diulang di mana-mana. Infinite scroll, video vertikal, notifikasi merah, sampai sistem rekomendasi otomatis muncul hampir di semua platform digital modern. Bahkan aplikasi yang berbeda fungsi sekalipun akhirnya terasa memakai pola interaksi yang sama.
Pakar teknologi dan psikologi perilaku Nir Eyal dalam Hooked [2014] menjelaskan bahwa banyak produk digital dirancang untuk membangun kebiasaan pengguna secara terus-menerus. Sistem dibuat sesederhana mungkin agar manusia tidak banyak berpikir dan tetap nyaman kembali menggunakan aplikasi berulang kali. Karena itu, desain yang terlalu unik kadang dianggap mengganggu tujuan utama tersebut.
Baca Juga: Kita Ngerasa Hidup Kita Sama, Padahal Teknologi Sudah Banyak Mengubahnya
Ketika Semua Aplikasi Terasa Mirip, Manusia Perlahan Kehilangan Rasa Takjub terhadap Teknologi
Menariknya, kemiripan itu membuat teknologi modern terasa semakin mulus sekaligus semakin datar. Orang memang jadi lebih cepat beradaptasi dengan aplikasi baru, tetapi di sisi lain semakin jarang ada pengalaman digital yang benar-benar terasa unik. Banyak platform sekarang hanya terasa seperti variasi kecil dari sistem yang sebenarnya serupa.
Dulu membuka aplikasi baru bisa terasa seperti menemukan dunia berbeda. Ada rasa penasaran saat mempelajari cara kerjanya, ada kejutan visual, dan ada identitas yang membuat sebuah platform terasa khas. Sekarang, sebagian besar aplikasi justru berusaha menghilangkan rasa asing secepat mungkin.
Fenomena ini membuat hubungan manusia dengan teknologi ikut berubah. Teknologi menjadi semakin efisien, tetapi semakin sedikit ruang untuk pengalaman yang benar-benar berkesan secara emosional. Segalanya dibuat cepat dipahami, cepat dipakai, dan cepat diulang.
Penulis dan pengamat budaya digital Nicholas Carr dalam The Shallows [2010] menjelaskan bahwa kehidupan digital modern perlahan mendorong manusia menuju pengalaman yang semakin seragam dan efisien. Ketika teknologi terlalu fokus pada kenyamanan dan kecepatan, ruang untuk kejutan dan kedalaman pengalaman perlahan ikut mengecil. Akibatnya, banyak interaksi digital terasa praktis tetapi tidak terlalu membekas.
Mungkin itu sebabnya banyak orang sekarang merasa semua aplikasi terasa mirip satu sama lain. Karena di balik warna dan logonya yang berbeda, sebagian besar platform modern sebenarnya sedang mengejar tujuan yang sama: membuat manusia tetap nyaman, tetap tinggal, dan terus kembali membuka layar yang itu-itu lagi. [][Rudi Tenggarawan/KK]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.