Pernahkah Anda merasa baru saja membicarakan sesuatu, lalu beberapa menit kemudian iklannya muncul di media sosial? 

Atau baru sekali menonton video tentang tanaman hias, tetapi esok harinya seluruh beranda dipenuhi pot, pupuk, dan tips berkebun? Rasanya seperti ada seseorang yang diam-diam mengenal kita. Padahal yang sedang bekerja bukan manusia, melainkan algoritma.

Hari ini, algoritma jadi bagian dari hampir semua aktivitas digital kita. Ia menentukan video yang muncul, berita yang direkomendasikan, lagu yang diputar berikutnya, hingga produk yang ditawarkan di toko daring. Tanpa banyak disadari, algoritma menjadi semacam 'penjaga gerbang' yang memilihkan apa yang paling mungkin kita lihat terlebih dahulu.

Tentu saja, algoritma tidak benar-benar menguasai hidup manusia. Namun, ketika hampir seluruh informasi yang kita konsumsi melewati penyaring yang sama, pantas jika muncul pertanyaan: apakah kita masih benar-benar memilih sendiri?

Baca Juga: Ketika AI Mulai Bisa Bercanda, Apa yang Masih Khas Manusia?

Algoritma Tidak Memaksa, tetapi Mengarahkan

Banyak orang menganggap algoritma sebagai sesuatu yang misterius, bahkan menakutkan. Padahal, pada dasarnya ia hanyalah serangkaian aturan yang dirancang untuk membantu sistem mengambil keputusan berdasarkan data yang dimiliki.

Di media sosial atau layanan digital, tujuan algoritma sederhana: menampilkan konten yang dianggap paling relevan bagi setiap pengguna. Semakin sering kita berhenti pada sebuah video, memberi tanda suka, membagikan tautan, atau mencari topik tertentu, semakin banyak informasi yang dipelajari sistem tentang kebiasaan kita.

Profesor Shoshana Zuboff dari Harvard Business School menjelaskan bahwa perusahaan digital membangun model bisnis dengan mempelajari perilaku pengguna. Data tersebut tidak hanya digunakan untuk memahami kebiasaan seseorang, tetapi juga untuk memprediksi apa yang kemungkinan besar akan dilakukan berikutnya.

Di sinilah algoritma bekerja sangat halus. Ia tidak memaksa seseorang membeli produk, mempercayai sebuah berita, atau mengikuti suatu tren. Ia hanya meningkatkan peluang agar pilihan-pilihan tertentu lebih sering muncul di hadapan kita. Dan sering kali, apa yang paling sering kita lihat perlahan terasa sebagai sesuatu yang paling penting.

Baca Juga: Saat Mendapatkan Jawaban Jadi Terlalu Mudah

Ketika Beranda Menjadi Dunia Kita

Masalahnya bukan terletak pada algoritma semata, melainkan ketika kita mulai menganggap isi beranda sebagai gambaran utuh tentang dunia.

Aktivis internet Eli Pariser, melalui konsep filter bubble, mengingatkan bahwa algoritma cenderung menyajikan informasi yang sesuai dengan minat dan keyakinan pengguna. Akibatnya, kita lebih sering bertemu dengan pendapat yang sejalan dan semakin jarang melihat sudut pandang yang berbeda.

Tanpa disadari, ruang digital yang seharusnya memperluas wawasan justru dapat menjadi ruang yang semakin sempit. Kita merasa mengetahui apa yang sedang terjadi, padahal yang kita lihat hanyalah bagian kecil dari dunia yang telah dipilihkan oleh sistem.

Fenomena ini juga menjelaskan mengapa dua orang yang menggunakan platform yang sama dapat memiliki pengalaman digital yang sangat berbeda. Berita yang muncul, video yang direkomendasikan, bahkan isu yang dianggap penting bisa sama sekali tidak serupa, karena semuanya disesuaikan dengan pola perilaku masing-masing.

Baca Juga: AI Acap Mengulang Kesalahan yang Sama Berulang Kali. Mengapa Bisa Terjadi?

Masih Adakah Ruang untuk Memilih?

Kabar baiknya, manusia tetap memiliki sesuatu yang tidak dimiliki algoritma, yaitu kesadaran untuk mempertanyakan pilihannya sendiri.

Kita masih bisa membaca media yang berbeda dari biasanya, mencari informasi dari berbagai sumber, atau sengaja mendengarkan pandangan yang tidak selalu sejalan dengan keyakinan kita. Pilihan-pilihan kecil seperti itu membantu menjaga agar cara berpikir kita tidak sepenuhnya dibentuk oleh apa yang disajikan mesin.

Algoritma memang semakin cerdas mengenali kebiasaan kita. Namun kecerdasan itu tidak harus membuat kita kehilangan kebebasan. Justru di era ketika hampir semua hal direkomendasikan, kemampuan untuk memilih secara sadar menjadi semakin berharga.

Mungkin algoritma tidak benar-benar menjadi 'yang maha mengatur'. Tapi yang jelas ia telah menjadi penyaring yang sangat berpengaruh terhadap apa yang kita lihat, baca, dan perbincangkan setiap hari. Karena itu, tantangan terbesar manusia modern bukanlah melawan algoritma, melainkan tetap menjaga rasa ingin tahu di luar apa yang telah dipilihkan untuknya. Sebab dunia selalu lebih luas daripada beranda yang kita gulir setiap hari. [][Rudi Tenggarawan/KK]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.