Dulu, banyak orang menganggap humor sebagai sesuatu yang hanya dimiliki manusia. Sebab untuk melontarkan lelucon, seseorang harus memahami situasi, membaca emosi, dan merasakan kehidupan.
Namun hari ini, anggapan itu mulai bergeser. Kecerdasan buatan [AI] sudah mampu membuat permainan kata, memahami ironi, bahkan menyusun lelucon yang cukup mengundang tawa. Lalu muncul pertanyaan yang lebih menarik: jika AI mulai bisa bercanda, apa yang masih benar-benar khas manusia?
Perkembangan AI memang berlangsung sangat cepat. Model bahasa modern mampu mengenali pola-pola humor dari jutaan percakapan, cerita, film, hingga karya sastra yang dipelajarinya. Ia dapat memahami bahwa sebuah kejutan dalam kalimat bisa menjadi lucu, bahwa permainan makna dapat memancing senyum, atau bahwa ironi sering kali lebih mengena daripada penjelasan yang panjang.
Namun, apakah kemampuan membuat lelucon sama dengan memahami mengapa manusia tertawa?
Baca Juga: Saat Mendapatkan Jawaban Jadi Terlalu Mudah
AI Belajar Pola, Manusia Mengalami Cerita
Pada dasarnya, AI bekerja dengan mengenali pola. Ia mempelajari hubungan antarkata, konteks, dan struktur bahasa dalam jumlah data yang sangat besar. Dari sanalah AI dapat memperkirakan bentuk respons yang paling sesuai, termasuk ketika diminta membuat humor.
Profesor Tony Veale dari University College Dublin, yang banyak meneliti computational humor, menjelaskan bahwa humor memang memiliki pola-pola yang dapat dipelajari oleh mesin. Permainan kata, kejutan logika, hingga ironi memiliki struktur tertentu yang memungkinkan AI menghasilkan lelucon yang terdengar alami.
Namun, manusia tidak hanya tertawa karena struktur sebuah lelucon. Kita tertawa karena pengalaman.
Kalimat yang sama bisa terdengar biasa bagi seseorang, tetapi terasa sangat lucu bagi orang lain karena mengingatkannya pada masa kecil, persahabatan, kegagalan, atau pengalaman yang pernah dialami bersama. Ada tawa yang lahir karena rasa lega setelah situasi menegangkan. Ada pula tawa yang muncul karena kecanggungan, rasa malu, atau kenangan yang hanya dipahami oleh orang-orang tertentu.
Pengalaman-pengalaman itulah yang hingga kini belum dimiliki AI. Ia dapat memahami cerita tentang kehilangan, tetapi tidak pernah kehilangan. Ia dapat menjelaskan jatuh cinta, tetapi tidak pernah merasakan debar menunggu seseorang datang. AI mengenali pola-pola kehidupan, sedangkan manusia menjalani kehidupan itu sendiri.
Baca Juga: AI Acap Mengulang Kesalahan yang Sama Berulang Kali. Mengapa Bisa Terjadi?
Humor Tidak Hanya Soal Kata-Kata
Peneliti neurosains Prof. Sophie Scott dari University College London menjelaskan bahwa tawa merupakan salah satu bentuk komunikasi sosial yang paling kuat. Orang cenderung lebih mudah tertawa ketika bersama orang lain dibandingkan ketika sendirian. Artinya, humor bukan sekadar isi lelucon, melainkan juga hubungan yang terjalin di antara mereka yang tertawa.
Itulah sebabnya ada candaan yang hanya dipahami oleh anggota keluarga, sahabat lama, atau rekan kerja dalam satu tim. Bukan karena leluconnya rumit, tetapi karena ia lahir dari pengalaman yang dibangun bersama.
AI memang dapat menyesuaikan gaya bercandanya dengan lawan bicara. Namun hubungan yang tercipta tetap berbeda. AI tidak membawa kenangan bersama, tidak menyimpan rasa canggung setelah salah bicara, dan tidak merasakan kehangatan ketika melihat orang lain tertawa karena sebuah cerita yang pernah mereka alami bersama.
Barangkali, di situlah letak sesuatu yang masih sangat manusiawi. Humor bukan hanya kemampuan membuat orang tertawa, tetapi juga kemampuan berbagi pengalaman yang membuat tawa itu memiliki makna.
Kemajuan AI mungkin akan terus mengejutkan kita. Suatu hari nanti, bukan tidak mungkin lelucon yang dibuat mesin semakin sulit dibedakan dari karya manusia. Namun di balik semua kecanggihan itu, ada satu hal yang tampaknya masih belum berubah: manusia tidak tertawa hanya karena kata-kata yang lucu. Kita tertawa karena pernah merasa gugup, kecewa, jatuh cinta, kehilangan, lalu menemukan orang lain yang memahami semua pengalaman itu. AI dapat mempelajari pola humornya. Tetapi manusialah yang memberi humor itu kehidupan. [][Rudi Tenggarawan/KK]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.