AI dapat menjawab pertanyaan dalam hitungan detik. Ia bahkan bisa memberikan sepuluh, dua puluh, atau lebih banyak alternatif sekaligus. Namun, ketika semua jawaban terlihat masuk akal, persoalan baru muncul: mana yang sebenarnya paling penting?

Ada masa ketika mencari informasi merupakan pekerjaan yang melelahkan. Kita harus membuka buku, mencari artikel, bertanya kepada orang lain, atau berpindah dari satu situs ke situs lain untuk menemukan jawaban. Sekarang, sebagian proses tersebut dapat dilakukan dengan meminta bantuan AI.

Ketik pertanyaan. Tunggu beberapa detik. Jawaban muncul. Bahkan sering kali bukan hanya satu.

AI dapat memberikan daftar pilihan, membandingkan alternatif, menjelaskan kelebihan dan kekurangan, lalu menawarkan rekomendasi. Semuanya terlihat praktis.

Namun, semakin banyak jawaban yang tersedia, semakin penting pula kemampuan untuk menentukan jawaban mana yang benar-benar dibutuhkan. Sebab, mengetahui banyak hal tidak selalu sama dengan mengetahui mana yang paling penting.

Baca Juga: Ketika AI Bisa Menulis untuk Semua Orang, Apa yang Masih Membuat Sebuah Tulisan Layak Dibaca?

AI Dapat Membantu Menyaring, Tetapi "Penting" Bergantung pada Tujuan

Sebenarnya, AI mampu melakukan proses seleksi. Kita bisa memintanya memilih opsi terbaik berdasarkan harga, efisiensi, risiko, atau kriteria tertentu. Dalam konteks yang jelas, kemampuan tersebut sangat membantu.

Masalahnya muncul ketika pertanyaannya bukan lagi sekadar, "Mana yang terbaik?" Melainkan, "Mana yang terbaik untuk saya, dalam kondisi seperti ini, dengan tujuan seperti ini?"

Jawabannya tidak selalu dapat ditentukan hanya dari data.

Misalnya, seseorang meminta AI memilih laptop. AI dapat membandingkan prosesor, RAM, kapasitas penyimpanan, harga, dan daya tahan baterai.

Namun, jika pengguna ternyata lebih mementingkan bobot karena sering bepergian, seluruh prioritasnya berubah. Orang lain mungkin tidak terlalu membutuhkan performa tinggi, tetapi membutuhkan layanan purna jual yang mudah dijangkau.

Spesifikasi yang sama. Kebutuhan berbeda. Pilihan akhirnya pun berbeda.

Dalam bukunya Co-Intelligence [2024], profesor Wharton Ethan Mollick menggambarkan AI sebagai teknologi yang dapat bekerja bersama manusia dalam berbagai aktivitas berpikir. Namun, manusia tetap memiliki peran penting dalam memberikan tujuan, konteks, dan penilaian terhadap hasil yang diberikan AI.

Artinya, kemampuan AI menghasilkan pilihan tidak otomatis menghapus kebutuhan manusia untuk menentukan prioritas.

Baca Juga: 

Yang Sulit Bukan Lagi Menemukan Informasi, tetapi Menentukan Nilainya

Kita sedang memasuki situasi yang agak paradoks. Semakin mudah memperoleh informasi, semakin sulit menentukan informasi mana yang layak mendapat perhatian.

Bayangkan seseorang sedang mencari informasi mengenai kesehatan. Ia dapat meminta AI menjelaskan berbagai kemungkinan penyebab sebuah keluhan. Dalam hitungan detik, daftar panjang bisa muncul. Namun, daftar tersebut bukan diagnosis.

Begitu pula dalam bisnis. AI dapat memberikan banyak ide strategi pemasaran. Tetapi pemilik usaha tetap harus mengetahui kondisi keuangannya, karakter pelanggannya, kemampuan tim, serta risiko yang sanggup ditanggung.

Di sinilah AI Selection jadi penting. Bukan hanya kemampuan memilih jawaban AI yang terdengar paling meyakinkan, tetapi kemampuan manusia untuk menilai pertanyaan apa yang perlu diajukan, informasi apa yang relevan, dan konsekuensi apa yang harus dipertimbangkan.

Penulis dan peneliti Nicolas Carr, dalam The Shallows [2010], membahas bagaimana teknologi digital dapat mengubah cara manusia memperhatikan dan memproses informasi. Ketika informasi datang terlalu banyak dan terlalu cepat, tantangannya bukan lagi sekadar memperoleh pengetahuan, tetapi mempertahankan perhatian terhadap hal yang benar-benar penting. AI membuat persoalan tersebut menjadi semakin terasa.

Kita bisa meminta penjelasan tentang hampir apa saja. Kita bisa meminta alternatif sebanyak mungkin. Kita bahkan bisa meminta AI merangkum puluhan halaman menjadi beberapa paragraf. Namun, keputusan tetap membutuhkan konteks.

Baca Juga: AI Membuat Belajar Menjadi Lebih Cepat. Tapi Apakah Kita Benar-Benar Memahami?

Jawaban yang Paling Panjang Belum Tentu Jawaban yang Paling Berguna

Ada kecenderungan menarik ketika menggunakan AI. Semakin panjang jawaban yang diberikan, semakin mudah kita menganggapnya lengkap. Padahal, kelengkapan informasi tidak selalu berarti relevansi.

Sebuah jawaban bisa sangat detail, memiliki banyak contoh, dan terdengar sangat meyakinkan, tetapi tetap tidak menjawab persoalan utama yang sedang kita hadapi.

Karena itu, pengguna AI perlu belajar mengajukan pertanyaan yang lebih tajam. Bukan hanya: "Apa saja pilihannya?" Tetapi juga: "Dari semua pilihan ini, mana yang paling relevan dengan tujuan saya?"

Lalu dilanjutkan dengan: "Apa alasan memilihnya?" Dan yang tidak kalah penting: "Informasi apa yang masih kurang sebelum saya mengambil keputusan?"

Pertanyaan terakhir seringkali justru menjadi pembeda. Sebab, orang yang mahir menggunakan AI bukan selalu orang yang mampu mendapatkan jawaban paling banyak. Ia adalah orang yang mampu mengetahui kapan sebuah jawaban sudah cukup, kapan harus memeriksa ulang, dan kapan AI belum memiliki konteks yang cukup untuk menentukan pilihan.

AI boleh membantu kita melihat lebih banyak kemungkinan. Tetapi menentukan mana yang layak diperjuangkan, mana yang harus diabaikan, dan mana yang memiliki konsekuensi paling besar tetap membutuhkan penilaian manusia.

Mungkin, di tengah dunia yang semakin mudah menghasilkan jawaban, kemampuan yang paling berharga justru bukan menjawab lebih cepat. Melainkan tahu pertanyaan mana yang pantas dicari jawabannya, informasi mana yang layak dipercaya, dan pilihan mana yang benar-benar penting. [][Rudi Tenggarawan/KK]

Penulisan dan riset artikel ini dibantu AI serta telah melalui proses kurasi Redaksi.