Beberapa tahun lalu, memilih tools kerja terasa seperti proses yang cukup panjang. Orang membandingkan fitur, mencoba beberapa opsi, lalu memutuskan mana yang paling sesuai. Hari ini, proses itu terasa jauh lebih singkat, bahkan sering kali tidak benar-benar terjadi.
Banyak orang mulai menggunakan AI karena melihat orang lain menggunakannya. Dari percakapan santai, konten di media sosial, hingga rekomendasi di tempat kerja, pilihan sering datang dari luar. Tanpa disadari, keputusan yang terlihat sederhana ini sebenarnya menunjukkan perubahan cara kita memilih.
Di titik ini, muncul pertanyaan yang jarang kita ajukan. AI yang kita pakai hari ini benar-benar hasil pertimbangan sendiri, atau sekadar mengikuti apa yang sudah lebih dulu dipilih oleh orang lain. Karena bisa jadi, kita tidak benar-benar memilih, tapi hanya ikut berada di arus yang sama.
Apa yang terasa praktis, sering kali menggantikan proses yang sebelumnya dianggap penting. Kita tidak lagi merasa perlu membandingkan, karena jawabannya sudah terlihat di sekitar kita.
Baca Juga: AI Makin Kenal Kita, Lalu Apa?
Ketika Pilihan Terlihat Jelas, Tanpa Perlu Dibandingkan
Dalam banyak situasi, keputusan menjadi lebih mudah ketika ada contoh yang sudah lebih dulu terlihat. Jika banyak orang menggunakan satu tools, pilihan itu terasa lebih aman. Risiko terasa lebih kecil, dan kita tidak perlu memulai dari nol.
Fenomena ini semakin kuat dengan kehadiran media sosial dan komunitas digital. Apa yang sering muncul di linimasa cenderung dianggap sebagai standar. Dari sana, pilihan tidak lagi terasa sebagai eksplorasi, tetapi sebagai penyesuaian.
Sosiolog Everett Rogers melalui teori diffusion of innovations menjelaskan bahwa adopsi teknologi sering mengikuti pola sosial. Orang cenderung mengadopsi sesuatu setelah melihat orang lain melakukannya, bukan semata karena evaluasi pribadi.
Dalam konteks AI, pola ini terlihat jelas. Tools tertentu menjadi dominan bukan hanya karena kemampuan, tetapi karena visibilitasnya. Semakin sering terlihat, semakin mudah dipilih.
Di titik ini, proses membandingkan mulai berkurang. Bukan karena tidak penting, tetapi karena terasa tidak perlu lagi. Pilihan sudah tersedia dalam bentuk yang lebih sederhana: ikut atau tidak.
Baca Juga: Kita Tak Lagi Mencari Jawaban, Tapi Minta AI Memilihkan
Kita Menggunakan yang Sama, Tapi Belum Tentu Membutuhkannya
Menariknya, penggunaan yang sama tidak selalu berarti kebutuhan yang sama. Banyak orang menggunakan tools yang sama, tetapi dengan tujuan yang berbeda. Ada yang benar-benar memanfaatkannya, ada juga yang hanya menggunakan sebagian kecil dari kemampuannya.
Filsuf teknologi Luciano Floridi menjelaskan bahwa teknologi tidak hanya membentuk cara kita bekerja, tetapi juga cara kita memahami kebutuhan kita sendiri. Ketika pilihan datang dari luar, definisi kebutuhan ikut terbentuk dari apa yang tersedia.
Di sini, muncul kemungkinan yang jarang disadari. Kita menggunakan sesuatu bukan karena paling sesuai, tetapi karena paling terlihat. Apa yang seharusnya menjadi alat, perlahan berubah menjadi standar.
Hal ini tidak selalu salah. Mengikuti pilihan yang sudah terbukti bisa menjadi cara cepat untuk beradaptasi. Namun tanpa kesadaran, kita bisa kehilangan ruang untuk benar-benar memahami apa yang kita butuhkan.
Mungkin yang perlu dipertanyakan bukan hanya AI apa yang kita gunakan. Tapi bagaimana kita sampai pada pilihan itu. Karena bisa jadi, yang berubah bukan teknologinya, tapi cara kita mengambil keputusan. [][Rudi Tenggarawan/KK]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.