Dulu, ketika seseorang ingin memahami sebuah buku, laporan, atau gagasan yang rumit, tidak banyak jalan pintas yang tersedia. Ia harus membaca halaman demi halaman, mengikuti alur pemikiran penulis, dan meluangkan waktu untuk mencerna apa yang sedang dibahas.
Hari ini situasinya berbeda. Dengan bantuan kecerdasan buatan, sebuah buku dapat diringkas dalam hitungan detik. Artikel panjang dapat dipadatkan menjadi beberapa poin utama. Bahkan video berdurasi satu jam kini bisa disajikan dalam bentuk ringkasan beberapa paragraf saja.
Kemudahan ini tentu menghemat waktu. Namun di tengah semua kepraktisan itu, muncul sebuah pertanyaan yang menarik: Ketika AI bisa merangkum hampir segalanya, apakah kita masih mau membaca sampai selesai?
Baca Juga: AI Sudah Punya Kecerdasan, Tapi Akankah Ia Memiliki Kesadaran?
Ringkasan Memberi Jawaban, Tetapi Tidak Selalu Memberi Pemahaman
Sulit menyangkal manfaat ringkasan. Di tengah arus informasi yang semakin deras, kemampuan memperoleh inti sebuah pembahasan dalam waktu singkat menjadi sesuatu yang sangat membantu. Banyak orang kini menggunakan AI untuk memahami laporan kerja, hasil penelitian, buku, hingga berbagai topik yang sebelumnya membutuhkan waktu berjam-jam untuk dipelajari.
Dalam banyak situasi, ringkasan memang cukup. Kita tidak selalu perlu membaca seluruh isi laporan cuaca untuk mengetahui apakah hari ini akan hujan. Kita juga tidak harus membaca ratusan halaman dokumen untuk memahami kesimpulan utamanya. Namun, tidak semua pengetahuan bekerja seperti itu.
Ada jenis pemahaman yang justru lahir dari proses mengikuti perjalanan sebuah gagasan. Seseorang tidak hanya mengetahui apa yang dipikirkan penulis, tetapi juga memahami bagaimana penulis sampai pada pemikiran tersebut. Di situlah perbedaan antara mengetahui kesimpulan dan memahami alasan di balik kesimpulan itu.
Wendra Wilendra, M.MT. pernah menulis bahwa manusia tidak hanya bertumbuh dari informasi yang diterimanya, tetapi juga dari proses perjumpaannya dengan informasi tersebut. Ada bagian dari pembelajaran yang tidak terjadi saat seseorang menerima jawaban, melainkan ketika ia bergulat dengan pertanyaan yang sedang dibahas.
Karena itu, membaca sebuah buku utuh seringkali memberikan pengalaman yang berbeda dibanding sekadar membaca ringkasannya. Ringkasan mungkin memberi tahu ke mana sebuah perjalanan berakhir. Namun ia tidak selalu menghadirkan pengalaman menempuh perjalanan itu sendiri.
Baca Juga: Mungkin Bukan Kita yang Memilih Konten, Tapi Konten yang Memilih Kita
Mungkin yang Hilang Bukan Informasinya, Melainkan Perjalanannya
AI sedang mengubah cara manusia berinteraksi dengan pengetahuan. Informasi yang dulu membutuhkan waktu berhari-hari untuk dicari kini bisa ditemukan dalam hitungan detik. Banyak pekerjaan menjadi lebih cepat. Banyak proses belajar menjadi lebih efisien.
Dalam berbagai kesempatan, Sam Altman juga menekankan bahwa AI dapat membantu manusia mengakses dan mengolah informasi dengan cara yang sebelumnya sulit dibayangkan.
Dan tidak ada yang salah dengan itu. Masalahnya mungkin bukan pada AI. Masalahnya mungkin muncul ketika manusia mulai menganggap bahwa tujuan belajar hanyalah memperoleh jawaban secepat mungkin. Padahal dalam banyak hal, nilai terbesar sebuah bacaan tidak selalu berada pada kesimpulannya.
Kadang-kadang sebuah buku mengubah cara berpikir seseorang bukan karena kalimat terakhirnya. Melainkan karena satu paragraf yang ia temukan di tengah jalan. Karena satu pertanyaan yang muncul pada halaman tertentu. Karena satu gagasan yang membuatnya berhenti sejenak dan memandang sesuatu dari sudut yang berbeda. Hal-hal seperti itu sulit diringkas.
Bukan karena AI tidak cukup cerdas untuk melakukannya, tetapi karena pengalaman berpikir setiap manusia tidak pernah benar-benar sama. Mungkin suatu hari nanti AI mampu merangkum hampir semua hal yang pernah ditulis manusia. Buku, penelitian, sejarah, bahkan percakapan yang sangat panjang sekalipun.
Namun, pertanyaan yang tersisa mungkin bukan lagi apakah kita bisa mendapatkan kesimpulan dengan lebih cepat. Melainkan apakah kita masih bersedia menjalani perjalanan yang membuat kesimpulan itu menjadi bermakna.
Karena yang membentuk manusia sering bukan hanya apa yang ia ketahui. Tetapi juga bagaimana ia sampai pada pengetahuan tersebut. [][Adrian Damar/KK]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.