Hidung tersumbat membuat bernapas terasa tidak nyaman. Uap hangat sering dianggap sebagai jalan keluar. Namun, rasa lega setelah menghirupnya belum tentu berarti pilek sudah sembuh.
Menghirup uap air panas merupakan kebiasaan rumahan yang telah dikenal selama beberapa generasi. Sebagian orang melakukannya dengan mendekatkan wajah ke baskom berisi air panas, kemudian menutupi kepala menggunakan handuk. Harapannya, uap dapat melonggarkan lendir dan membantu hidung kembali lega.
Pengalaman tersebut terasa meyakinkan karena sensasi hangat dapat memberikan kenyamanan sementara. Namun, ada perbedaan antara merasa lebih mudah bernapas dan benar-benar mengalami perbaikan penyakit. Untuk memahami perbedaannya, kita perlu melihat apa yang sebenarnya terjadi ketika seseorang terserang pilek.
Baca Juga: Air Hangat Terasa Menenangkan Saat Tenggorokan Tidak Nyaman, Apa yang Sebenarnya Dibantu?
Mengapa Uap Hangat Bisa Terasa Melegakan?
Pilek umumnya disebabkan oleh infeksi virus pada saluran pernapasan bagian atas. Ketika infeksi terjadi, lapisan dalam hidung dapat mengalami peradangan dan pembengkakan, sementara produksi lendir meningkat. Kombinasi keduanya membuat saluran hidung terasa menyempit sehingga bernapas menjadi kurang nyaman.
Udara hangat dan lembap dapat memberikan sensasi nyaman pada hidung yang sedang mengalami iritasi. Kelembapan juga dapat membantu mengurangi rasa kering pada saluran pernapasan. Namun, sensasi tersebut tidak selalu berarti pembengkakan jaringan hidung telah berkurang secara bermakna.
Selama bertahun-tahun, uap panas dipercaya dapat membantu mengencerkan lendir dan mempercepat pemulihan. Ada pula anggapan bahwa suhu tinggi mampu membunuh virus penyebab pilek di dalam tubuh. Kedua anggapan tersebut terdengar masuk akal, tetapi manfaatnya perlu dibedakan dari hasil penelitian klinis.
Tinjauan sistematis Cochrane pada 2017 mengevaluasi enam uji klinis yang melibatkan 387 peserta untuk menilai penggunaan udara panas dan lembap pada penderita pilek. Penelitian tersebut menggunakan perangkat khusus untuk mengalirkan udara hangat dan lembap, bukan baskom air panas seperti yang biasa digunakan di rumah. Hasilnya belum menunjukkan bukti yang konsisten bahwa metode tersebut mampu mengurangi gejala pilek secara bermakna.
Penelitian yang ditinjau juga tidak menemukan bukti bahwa penggunaan udara panas dan lembap mengurangi pelepasan virus dari saluran hidung. Dengan demikian, menghirup uap tidak dapat dianggap sebagai cara yang terbukti membunuh virus penyebab pilek. Sensasi lega yang dirasakan seseorang tetap mungkin terjadi, tetapi tidak sama dengan keberhasilan mengatasi infeksinya.
Baca Juga: Kompres Hangat atau Dingin, Kenapa Kita Sering Tertukar Memilihnya?
Ketika Pengobatan Rumahan Justru Membawa Risiko
Persoalan lain yang sering diabaikan adalah suhu air yang digunakan. Baskom berisi air mendidih dapat menimbulkan luka bakar serius apabila tersenggol, tumpah, atau terkena kulit secara langsung. Risiko tersebut menjadi lebih besar pada anak-anak yang mungkin belum mampu memperkirakan bahaya air panas.
Karena itu, metode menghirup uap dengan mendekatkan wajah ke wadah berisi air mendidih sebaiknya dihindari. Menutupi kepala dengan handuk juga bukan jaminan bahwa prosedur tersebut aman. Manfaat yang belum terbukti konsisten tidak sebanding dengan kemungkinan cedera akibat air panas.
Ada pilihan yang lebih aman untuk membantu meredakan ketidaknyamanan akibat pilek. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat [CDC] menyarankan istirahat yang cukup, minum cairan, serta penggunaan semprotan atau tetes hidung saline. Pelembap udara dengan kabut dingin yang dibersihkan secara teratur juga dapat membantu menjaga kenyamanan saluran pernapasan.
Larutan saline bekerja dengan membantu melembapkan dan membersihkan rongga hidung dari lendir. Penggunaannya tidak bertujuan membunuh virus, tetapi dapat membantu mengurangi keluhan yang mengganggu. Untuk pembilasan hidung menggunakan alat khusus, air yang dipakai harus steril, hasil distilasi, atau telah direbus lalu didinginkan sesuai petunjuk keselamatan.
Pilek akibat infeksi virus umumnya membaik dengan sendirinya seiring kerja sistem kekebalan tubuh. Antibiotik tidak mempercepat penyembuhan pilek biasa karena obat tersebut bekerja terhadap bakteri, bukan virus. Pengobatan yang diberikan biasanya bertujuan meredakan gejala selama tubuh menjalani proses pemulihan.
Meski demikian, gejala tertentu membutuhkan perhatian medis. Sesak napas, dehidrasi, demam yang berlangsung lebih dari empat hari, atau keluhan yang menetap lebih dari sepuluh hari tanpa perbaikan perlu diperiksakan. Kondisi yang sempat membaik lalu kembali memburuk juga tidak sebaiknya diabaikan.
Kebiasaan menggunakan uap hangat memperlihatkan bagaimana pengalaman pribadi dapat membentuk keyakinan mengenai pengobatan. Ketika hidung terasa lebih lega, mudah sekali menyimpulkan bahwa penyebab penyakit sedang diatasi. Padahal, kenyamanan sementara dan pemulihan dari infeksi merupakan dua hal yang berbeda.
Pengobatan rumahan tetap dapat mempunyai tempat dalam membantu seseorang merasa lebih nyaman ketika sakit. Namun, manfaatnya perlu dinilai bersama bukti ilmiah dan risiko penggunaannya. Sebab sesuatu yang terasa melegakan belum tentu menyembuhkan, dan cara yang dianggap alami belum tentu selalu aman. [][Adrian Damar/KK]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.