Beberapa hari terakhir, linimasa terasa seperti dua dunia yang hidup berdampingan.
Di satu sisi, muncul foto-foto dan video yang menunjukkan dukungan terhadap pemerintah. Di sisi lain, beredar unggahan yang berisi kritik terhadap arah kebijakan yang dianggap bermasalah. Kedua kelompok itu sama-sama hadir dan eksis di ruang publik. Keduanya sama-sama berbicara dengan keyakinan yang kuat. Keduanya juga merasa sedang memperjuangkan sesuatu yang penting.
Jika seseorang hanya melihat potongan-potongan percakapan tersebut secara terpisah, mungkin tidak ada yang terasa istimewa. Perbedaan pendapat adalah sesuatu yang biasa dalam kehidupan demokrasi. Orang mendukung sebuah kebijakan. Orang lain mengkritiknya. Sebagian merasa sebuah langkah sudah tepat. Sebagian lagi menganggap langkah yang sama perlu dipertanyakan.
Meski begitu, ketika semua percakapan itu berkumpul di ruang digital yang sama, suasananya sering terasa berbeda. Sebuah unggahan tentang kebijakan pemerintah tak lagi hanya memancing diskusi mengenai kebijakan tersebut. Dalam waktu yang relatif singkat, percakapan sering bergerak ke arah yang lebih luas. Orang mulai memperdebatkan siapa yang mendukung. Yang mana yang menolak. Siapa yang dianggap objektif. Yang mana yang dituduh memiliki kepentingan tertentu. Bahkan tidak jarang, perhatian terhadap persoalan awal perlahan tergeser oleh perdebatan mengenai orang-orang yang terlibat di dalamnya.
Pola semacam ini muncul begitu sering sehingga banyak orang mulai menganggapnya sebagai sesuatu yang normal. Hampir setiap isu besar tampak memiliki kemampuan untuk membelah percakapan menjadi beberapa kelompok yang saling berhadapan. Kadang perbedaannya berkaitan dengan politik. Kadang berhubungan dengan agama. Kadang muncul karena persoalan sosial, budaya, atau identitas tertentu. Bentuknya bisa berubah-ubah, tetapi kesan yang ditinggalkannya seringkali terasa sama. Seolah-olah setiap orang sedang memilih tempat berdiri.
Kesan tersebut tidak hanya muncul di media sosial. Ia juga merembes ke ruang-ruang lain yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Percakapan di grup keluarga mulai terasa lebih sensitif dibanding beberapa tahun lalu. Obrolan di kantor sesekali berubah menjadi perdebatan yang tidak nyaman. Pertemanan yang sebelumnya baik-baik saja kadang terganggu oleh perbedaan cara memandang sebuah isu yang sedang ramai diperbincangkan.
Menariknya, banyak orang yang sebenarnya tidak merasa menjadi bagian dari kelompok mana pun tetap ikut merasakan suasana tersebut. Mereka membuka media sosial untuk melihat berita. Mereka membaca komentar untuk mencari tambahan informasi. Mereka mencoba memahami apa yang sedang terjadi. Namun, semakin lama mereka mengikuti percakapan, semakin kuat kesan bahwa setiap persoalan menuntut sebuah pilihan. Tidak selalu pilihan yang diucapkan secara terang-terangan, tetapi pilihan yang terasa hadir di belakang hampir setiap diskusi.
Apakah Anda mendukung? Atau menolak? Apakah Anda berada di sisi ini? Atau sisi yang lain?
Cara pandang seperti itu perlahan membuat banyak persoalan terlihat jauh lebih sederhana daripada kenyataannya. Sebuah kebijakan yang rumit tampak hanya memiliki dua kemungkinan penilaian. Sebuah peristiwa yang sebenarnya memiliki banyak lapisan terlihat seolah hanya bisa dipahami dari dua sudut pandang yang saling bertentangan. Ruang untuk ragu, mempertimbangkan, atau melihat nuansa mulai terasa semakin sempit. Padahal kehidupan nyata jarang bekerja dengan cara seperti itu.
Seseorang bisa mendukung tujuan sebuah kebijakan tetapi mengkritik pelaksanaannya. Seseorang bisa tidak menyukai sebuah keputusan pemerintah tanpa harus membenci pemerintah itu sendiri. Seseorang bisa setuju terhadap sebagian argumen sebuah kelompok dan tidak setuju terhadap bagian yang lain. Kehidupan sehari-hari penuh dengan posisi-posisi semacam itu.
Faktanya, posisi-posisi yang lebih rumit seperti itu justru semakin jarang terlihat ketika percakapan berlangsung di ruang digital. Semakin lama mengikuti berbagai percakapan publik, semakin mudah menemukan pola yang sama. Pendapat yang berbeda perlahan berubah menjadi identitas. Kritik dianggap sebagai keberpihakan. Dukungan diperlakukan sebagai tanda keanggotaan kelompok tertentu. Dan ketika proses itu berlangsung cukup lama, perbedaan pendapat mulai terasa seperti perbedaan antara 'kami' dan 'mereka'.
Fenomena ini sebenarnya bukan sesuatu yang muncul tiba-tiba. Jika menoleh beberapa tahun ke belakang, publik Indonesia pernah mengenal berbagai label yang lahir dari kontestasi politik. Sebagian orang mungkin masih mengingat istilah cebong dan kampret yang pernah mendominasi percakapan publik. Belakangan muncul istilah-istilah lain yang digunakan untuk mengelompokkan orang berdasarkan posisi politik, pandangan ideologis, atau sikap mereka terhadap sebuah isu tertentu.
Awalnya, banyak label tersebut muncul sebagai lelucon, sindiran, atau bagian dari dinamika politik yang dianggap sementara. Kendati demikian, sebagian di antaranya bertahan jauh lebih lama daripada peristiwa yang melahirkannya. Bahkan ketika pemilu telah selesai dan tokoh-tokoh politik berganti posisi, kebiasaan melihat orang melalui kategori-kategori semacam itu tetap ikut tinggal dalam percakapan publik.
Barangkali karena itulah banyak orang mulai merasakan sesuatu yang aneh ketika membaca linimasa hari ini. Isunya berubah. Tokohnya berganti. Peristiwanya berbeda. Tetapi pola percakapannya terasa sangat mirip. Kelompok yang berbeda saling berhadapan. Narasi yang berbeda saling bersaing. Dan ruang digital terlihat semakin menyerupai medan tempat berbagai identitas bertemu, bertabrakan, dan berusaha mempertahankan dirinya masing-masing.
Pertanyaannya bukan lagi apakah perbedaan pendapat itu ada. Perbedaan pendapat akan selalu ada.
Yang lebih menarik untuk dipahami adalah mengapa perbedaan tersebut semakin sering terlihat sebagai pertentangan antara kelompok-kelompok yang saling berhadapan. Mengapa begitu banyak persoalan terasa lebih mudah dibaca sebagai pertarungan kubu daripada percakapan yang terbuka. Dan mengapa dunia digital memberi kesan bahwa masyarakat kita sedang terbelah lebih dalam dibanding sebelumnya.
Ketika Perbedaan Pendapat Berubah Menjadi Identitas
Perbedaan pendapat sebenarnya adalah sesuatu yang wajar dalam kehidupan bersama. Orang dapat melihat persoalan yang sama dari sudut yang berbeda karena pengalaman hidup mereka juga berbeda. Seorang pedagang mungkin memandang sebuah kebijakan dari dampaknya terhadap usaha yang dijalankan setiap hari, sementara seorang pegawai melihatnya dari sisi yang lain. Orang yang tinggal di kota besar belum tentu merasakan persoalan yang sama dengan mereka yang hidup di daerah yang berbeda. Karena itu, perbedaan cara memandang sebuah isu seharusnya tidak otomatis dianggap sebagai masalah.
Dalam banyak situasi, perbedaan justru membantu sebuah masyarakat memahami persoalan dengan lebih baik. Pendapat yang berbeda membuat sebuah gagasan diuji dari berbagai sisi. Kritik membantu menemukan kelemahan yang sebelumnya tidak terlihat. Dukungan yang diberikan kepada sebuah kebijakan juga dapat membantu menjelaskan manfaat yang mungkin luput dari perhatian orang lain. Ketika semua itu terjadi dalam ruang diskusi yang sehat, perbedaan tidak harus berakhir menjadi pertentangan.
Namun, ruang digital sering menghadirkan dinamika yang sedikit berbeda. Orang tidak selalu berhadapan dengan lawan bicara yang mereka kenal secara langsung. Mereka membaca komentar dari akun yang tidak dikenal, melihat unggahan dari orang yang belum pernah ditemui, dan berdebat dengan individu yang latar belakangnya sama sekali tidak mereka pahami. Dalam situasi seperti itu, menilai isi argumen sering membutuhkan usaha yang lebih besar dibanding menebak posisi orang yang menyampaikannya.
Karena itulah label jadi sangat menarik. Label menyederhanakan sesuatu yang rumit menjadi sesuatu yang lebih mudah dikenali. Ketika seseorang dianggap berada di kelompok tertentu, banyak orang merasa tidak perlu lagi memahami seluruh argumennya. Mereka merasa sudah mengetahui cara berpikirnya, motif yang dimilikinya, dan posisi yang kemungkinan akan diambilnya terhadap berbagai persoalan.
Kebiasaan semacam ini tidak muncul begitu saja. Dalam beberapa tahun terakhir, publik Indonesia berulang kali melewati momen-momen politik yang membelah percakapan publik menjadi beberapa kelompok yang sangat jelas. Pemilu, pilkada, demonstrasi besar, hingga berbagai perdebatan mengenai kebijakan pemerintah meninggalkan jejak yang cukup kuat dalam ingatan sosial masyarakat. Banyak orang mungkin sudah tidak lagi membicarakan peristiwa yang sama, tetapi cara mereka membaca peristiwa baru sering masih dipengaruhi oleh pengalaman politik yang pernah mereka alami sebelumnya.
Kita dapat melihatnya dari bagaimana berbagai label politik bertahan jauh lebih lama daripada konteks yang melahirkannya. Istilah seperti cebong dan kampret, misalnya, lahir dari pertarungan politik tertentu. Walaupun begitu, bahkan setelah pertarungan itu selesai, istilah-istilah tersebut tidak sepenuhnya menghilang. Ia berubah menjadi semacam jalan pintas untuk membaca orang lain. Dalam banyak percakapan, label tersebut digunakan bukan untuk menjelaskan sebuah gagasan, melainkan untuk menjelaskan siapa yang dianggap berada di balik gagasan tersebut.
Akibatnya, perhatian sering bergeser dari isi pembicaraan menuju identitas pembicaranya. Orang tidak lagi bertanya apakah sebuah kritik masuk akal atau tidak. Mereka lebih dulu bertanya siapa yang menyampaikan kritik itu. Orang tidak lagi menilai sebuah dukungan berdasarkan argumennya. Mereka mulai menebak kelompok mana yang sedang diuntungkan oleh dukungan tersebut. Sedikit demi sedikit, substansi bergerak ke belakang, sementara identitas bergerak ke depan.
Perubahan ini membuat banyak percakapan terasa lebih emosional daripada sebelumnya. Ketika sebuah pendapat sudah dianggap sebagai bagian dari identitas kelompok, kritik terhadap pendapat tersebut sering terasa seperti kritik terhadap kelompok itu sendiri. Orang menjadi lebih defensif. Mereka lebih mudah merasa diserang. Mereka juga lebih sulit menerima kemungkinan bahwa sebagian argumen dari kelompok yang berseberangan mungkin memiliki dasar yang layak dipertimbangkan.
Yang menarik, proses ini sering terjadi tanpa disadari. Sebagian besar orang tidak bangun pagi dengan niat memperkuat polarisasi. Mereka hanya membaca berita, mengikuti percakapan, lalu memberi tanggapan berdasarkan apa yang mereka yakini. Meskipun demikian, ketika jutaan orang melakukan hal yang sama di ruang digital yang saling terhubung, hasil akhirnya dapat terlihat sangat berbeda. Perbedaan pendapat yang awalnya biasa perlahan berubah menjadi batas-batas kelompok yang semakin jelas.
Di titik tertentu, seseorang tak lagi hanya membawa pendapatnya ketika masuk ke sebuah percakapan. Ia juga membawa identitas yang dilekatkan kepadanya oleh orang lain. Ia membawa asumsi yang sudah terbentuk sebelum ia berbicara. Ia membawa berbagai prasangka yang mungkin sama sekali tidak ia sadari keberadaannya. Dan ketika dua orang yang sama-sama membawa beban semacam itu bertemu dalam satu ruang diskusi, percakapan sering menjadi jauh lebih rumit daripada sekadar bertukar argumen.
Fenomena inilah yang membuat banyak isu publik terasa lebih mudah berubah menjadi pertarungan kubu. Perbedaan pendapat yang seharusnya menjadi bagian normal dari kehidupan demokrasi perlahan kehilangan kelenturannya. Ruang untuk setuju pada sebagian hal dan tidak setuju pada bagian lain menjadi semakin sempit. Orang didorong untuk memilih posisi yang lebih tegas, lebih mudah dikenali, dan lebih mudah ditempatkan ke dalam kelompok tertentu.
Ketika proses tersebut berlangsung cukup lama, masyarakat mulai melihat dunia melalui batas-batas yang mereka bangun sendiri. Bukan karena persoalannya selalu sederhana, melainkan karena cara membaca persoalan menjadi semakin sederhana. Dan ketika dunia mulai dibaca melalui kategori 'kami' dan 'mereka', polarisasi tidak lagi hidup hanya dalam peristiwa politik. Ia mulai hidup dalam cara kita memahami orang lain.
Mengapa Dunia Terlihat Semakin Terbelah
Ada satu hal yang perlu diperiksa pelan-pelan ketika kita merasa dunia digital semakin terbelah. Apakah masyarakat benar-benar semakin sulit menemukan titik temu, atau kita sedang semakin sering melihat bagian masyarakat yang paling keras bersuara? Pertanyaan ini penting karena ruang digital tidak selalu menampilkan kehidupan sosial secara utuh. Ia lebih sering menampilkan bagian yang paling terlihat, paling aktif, dan paling mudah memancing reaksi.
Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang sebenarnya tidak selalu hidup dalam pertentangan yang tajam. Mereka bekerja, mengurus keluarga, bertemu tetangga, menjalani rutinitas, dan berinteraksi dengan orang yang mungkin memiliki pandangan berbeda tanpa harus selalu menjadikannya konflik. Seorang pedagang bisa melayani pembeli yang berbeda pilihan politik. Seorang pegawai bisa bekerja bersama rekan yang berbeda pandangan tentang pemerintah. Seorang anggota keluarga bisa tetap makan semeja dengan saudara yang memiliki cara pandang berbeda terhadap sebuah isu.
Walau begitu, kehidupan yang berjalan biasa seperti itu jarang muncul sebagai pusat percakapan digital. Ia tidak selalu menghasilkan unggahan yang ramai. Ia tidak selalu memancing komentar panjang. Ia juga tidak selalu dianggap menarik untuk dibagikan ulang. Ruang digital cenderung lebih mudah memperlihatkan momen ketika perbedaan berubah menjadi benturan, bukan ketika perbedaan dikelola dengan cara yang tenang.
Akibatnya, seseorang dapat membuka media sosial dan merasa seolah seluruh masyarakat sedang bertengkar. Ia melihat komentar yang saling menyerang, unggahan yang saling menyindir, dan potongan video yang memperlihatkan dua pihak berhadapan. Semakin lama ia mengikuti percakapan semacam itu, semakin kuat kesan bahwa dunia memang sedang terbagi secara tajam. Padahal yang sedang ia lihat mungkin bukan keseluruhan masyarakat, melainkan bagian dari percakapan yang paling keras terdengar.
Perbedaan antara yang terlihat dan yang benar-benar terjadi sering luput dari perhatian. Sebuah komentar yang viral dapat terasa seperti suara mayoritas, meski ia mungkin hanya mewakili kelompok yang sangat aktif. Sebuah tagar dapat memberi kesan bahwa seluruh publik sedang bergerak ke arah yang sama, meski sebagian besar orang mungkin hanya melihat dari jauh. Sebuah perdebatan panjang dapat membuat sebuah isu terasa sangat besar, meski kehidupan di luar layar bergerak dengan ritme yang jauh lebih beragam.
Di sini ruang digital bekerja dengan cara yang tidak selalu mudah disadari. Ia tak hanya memperlihatkan percakapan publik. Ia juga membentuk kesan tentang seberapa besar sebuah percakapan. Sesuatu yang sering muncul di hadapan kita akan terasa lebih penting. Sesuatu yang berulang kali dibagikan akan terasa lebih luas. Sesuatu yang terus diperdebatkan akan terasa lebih mewakili keadaan sosial secara keseluruhan.
Masalahnya, ukuran keterlihatan tidak selalu sama dengan ukuran kenyataan. Komentar yang paling tajam belum tentu komentar yang paling mewakili. Kubu yang paling aktif belum tentu kubu yang paling besar. Suara yang paling keras belum tentu suara yang paling banyak. Kendati begitu, dalam ruang digital, yang paling sering kita lihat sering lebih mudah membentuk kesan daripada yang sebenarnya lebih luas tetapi lebih sunyi.
Hal ini membuat polarisasi terasa lebih dekat dan lebih besar daripada sebelumnya. Dulu, seseorang mungkin hanya mengetahui perbedaan pendapat dari lingkungan terdekatnya. Hari ini, ia dapat melihat pertentangan dari berbagai daerah, komunitas, dan kelompok dalam satu layar yang sama. Perdebatan yang sebenarnya berlangsung di banyak tempat berbeda dapat terasa seperti satu keributan besar yang sedang terjadi bersamaan.
Kesan itu semakin kuat ketika media, kreator konten, dan pengguna biasa ikut memilih bagian-bagian paling kontras dari sebuah peristiwa. Potongan yang paling tenang jarang menjadi sorotan. Penjelasan yang panjang sering kalah cepat dari cuplikan yang mudah dipahami. Percakapan yang mencoba menengahi tidak selalu mendapat tempat yang sama dengan komentar yang lebih tegas dan mudah dikutip.
Karena itu, dunia digital sering membuat perbedaan terlihat lebih rapi daripada kenyataannya. Seolah hanya ada dua pihak yang saling berhadapan. Seolah setiap orang sudah memiliki posisi yang jelas. Seolah tidak ada lagi ruang untuk orang-orang yang masih berpikir, masih menimbang, atau masih mencoba memahami persoalan dari lebih dari satu sisi.
Padahal di antara dua posisi yang paling keras terdengar, selalu ada banyak manusia yang tidak sepenuhnya berada di salah satu ujung. Ada yang setuju pada sebagian hal dan menolak bagian lain. Ada yang kecewa, tetapi belum tentu ingin memusuhi. Ada yang mendukung, tetapi tetap menyimpan catatan. Ada pula yang memilih diam bukan karena tidak peduli, melainkan karena merasa percakapan sudah terlalu bising untuk dimasuki.
Kelompok-kelompok yang berada di wilayah tengah seperti itu sering kurang terlihat di ruang digital. Mereka tidak selalu membuat utas panjang. Mereka tidak selalu membalas komentar. Mereka juga tidak selalu menjadikan pandangan mereka sebagai pernyataan publik. Akibatnya, keberadaan mereka mudah tenggelam di antara suara-suara yang lebih siap bertarung.
Inilah salah satu alasan mengapa polarisasi terasa sangat kuat di internet. Bukan semata karena masyarakat tidak lagi punya kemampuan untuk berbeda pendapat secara sehat. Bukan juga karena semua orang sedang bergerak ke arah ekstrem. Namun, karena ruang digital lebih mudah menampilkan pertentangan yang jelas dibanding keragaman posisi yang lebih rumit.
Ketika pola ini terjadi terus-menerus, cara kita membaca masyarakat ikut berubah. Kita mulai mengira bahwa yang paling terlihat adalah yang paling benar-benar dominan. Kita mulai merasa bahwa setiap isu besar pasti akan membelah publik menjadi dua kubu. Kita juga mulai kehilangan kepekaan terhadap kemungkinan bahwa di luar percakapan yang paling bising, masih ada banyak orang yang memandang persoalan dengan cara yang lebih berlapis.
Dunia mungkin memang sedang mengalami banyak ketegangan. Tetapi ketegangan itu tidak selalu berarti masyarakat hanya terdiri dari dua kubu yang saling berhadapan. seringkali, yang terjadi lebih rumit daripada itu. Yang perlu diperhatikan bukan hanya apa yang sedang diperdebatkan, tetapi juga bagaimana ruang digital membuat perdebatan itu terlihat lebih besar, lebih keras, dan lebih mewakili daripada kenyataannya.
Ketika Narasi Lebih Penting daripada Peristiwa
Sebuah peristiwa tak pernah sampai kepada publik dalam keadaan utuh. Apa yang kita lihat di media sosial biasanya bukan peristiwa itu sendiri. Kita melihat potongan video. Kita membaca kutipan. Kita menemukan tangkapan layar. Kita menerima rangkuman yang sudah dipilih, dipotong, dan disusun oleh orang lain sebelum sampai ke hadapan kita.
Dalam banyak kasus, hal tersebut tidak selalu menjadi masalah. Tidak semua orang bisa hadir langsung di lokasi kejadian. Tidak semua orang memiliki waktu untuk membaca dokumen lengkap atau mengikuti sebuah peristiwa dari awal hingga akhir. Karena itulah manusia membutuhkan cerita. Kita membutuhkan orang lain untuk membantu menjelaskan apa yang sedang terjadi.
Masalah muncul ketika cerita yang beredar mulai lebih berpengaruh daripada peristiwa yang melahirkannya.
Dalam situasi seperti itu, dua orang dapat melihat kejadian yang sama tetapi pulang dengan kesimpulan yang sangat berbeda. Bukan karena salah satu dari mereka berbohong. Bukan pula karena salah satu sengaja menyesatkan. Mereka hanya menerima narasi yang berbeda tentang kejadian yang sama.
Fenomena ini dapat ditemukan hampir setiap hari di ruang digital. Sebuah demonstrasi dapat dilihat sebagai bentuk kepedulian warga negara oleh satu kelompok. Pada saat yang sama, demonstrasi yang sama dapat dilihat sebagai tindakan yang mengganggu ketertiban oleh kelompok yang lain. Sebuah kebijakan pemerintah dapat dianggap sebagai solusi penting oleh sebagian orang dan dipandang sebagai sumber masalah baru oleh sebagian yang lain.
Perbedaan tersebut tidak selalu lahir dari fakta yang berbeda. seringkali, perbedaannya muncul dari cara fakta-fakta itu disusun menjadi sebuah cerita.
Manusia secara alami lebih mudah memahami cerita dibanding kumpulan data yang berdiri sendiri. Kita lebih cepat mengingat tokoh dibanding angka. Kita lebih mudah memahami konflik dibanding statistik. Kita juga lebih mudah mengikuti alur sebab-akibat yang sederhana dibanding kenyataan yang penuh kerumitan.
Karena itulah narasi memiliki kekuatan yang sangat besar dalam membentuk cara kita memahami dunia.
Ketika sebuah peristiwa terjadi, perhatian publik biasanya tidak langsung tertuju pada seluruh detail yang ada di dalamnya. Orang mencari penjelasan. Mereka ingin tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi. Mereka ingin memahami siapa yang terlibat, apa penyebabnya, dan mengapa peristiwa tersebut dianggap penting. Pada tahap inilah berbagai narasi mulai bersaing untuk menjadi cara utama dalam memahami sebuah kejadian.
Sebagian narasi menempatkan pemerintah sebagai pihak yang sedang berusaha menyelesaikan masalah. Sebagian narasi lain menempatkan masyarakat sebagai korban dari kebijakan yang dianggap keliru. Ada narasi yang menyoroti keberhasilan. Ada pula yang lebih fokus pada kegagalan. Masing-masing memilih bagian tertentu dari kenyataan untuk diletakkan di bagian depan cerita.
Pilihan-pilihan semacam itu mungkin terdengar sederhana. Tetapi dampaknya bisa sangat besar. Ketika jutaan orang menerima potongan cerita yang berbeda, mereka tidak hanya memperoleh informasi yang berbeda. Mereka juga membangun pemahaman yang berbeda mengenai realitas yang sama.
Di ruang digital, proses tersebut berlangsung dengan kecepatan yang sulit ditemukan pada era sebelumnya. Sebuah video berdurasi tiga puluh detik dapat menjangkau jutaan orang dalam waktu singkat. Sebuah kutipan dapat berpindah dari satu platform ke platform lain hanya dalam hitungan menit. Sebuah tangkapan layar dapat dibagikan ribuan kali bahkan sebelum orang mengetahui konteks lengkap dari percakapan yang melahirkannya. Akibatnya, narasi yang paling cepat menyebar sering memperoleh keuntungan lebih besar dibanding narasi yang paling lengkap.
Penjelasan yang membutuhkan waktu lima menit untuk dipahami harus bersaing dengan cuplikan lima belas detik yang langsung memancing reaksi. Artikel panjang harus berhadapan dengan potongan kalimat yang mudah dibagikan ulang. Konteks yang rumit sering kalah cepat dari kesimpulan yang sederhana.
Situasi seperti ini membuat banyak peristiwa terasa semakin hitam dan putih. Ruang untuk melihat lapisan-lapisan persoalan menjadi semakin sempit. Orang terdorong memilih cerita mana yang paling meyakinkan bagi mereka, lalu menggunakan cerita tersebut sebagai kerangka untuk memahami berbagai informasi berikutnya.
Ketika proses itu berlangsung terus-menerus, perbedaan pendapat menjadi semakin sulit dipisahkan dari perbedaan narasi. Dua kelompok yang menerima cerita berbeda akan melihat dunia dengan cara yang berbeda pula. Mereka mungkin membaca berita yang sama, melihat video yang sama, bahkan membahas peristiwa yang sama. Walau begitu, karena mereka memulai dari cerita yang berbeda, mereka sering berakhir pada kesimpulan yang berbeda pula.
Di titik inilah polarisasi memperoleh salah satu sumber energinya yang paling kuat. Bukan hanya karena orang berbeda pendapat. Bukan hanya karena mereka berada di kelompok yang berbeda. Melainkan karena mereka sedang hidup di dalam cerita yang berbeda tentang dunia yang sama.
Masih Adakah Ruang di Tengah?
Ketika percakapan publik semakin dipenuhi oleh berbagai kubu yang saling berhadapan, muncul satu pertanyaan yang mungkin diam-diam dirasakan banyak orang. Masih adakah ruang bagi mereka yang tidak sepenuhnya berada di salah satu sisi? Masih adakah tempat bagi orang yang ingin memahami sebuah persoalan tanpa harus segera menentukan posisi yang tegas terhadapnya?
Pertanyaan semacam itu terdengar sederhana. Tapi dalam praktiknya, tidak selalu mudah dijawab. Semakin lama mengikuti percakapan di ruang digital, semakin kuat kesan bahwa setiap orang dituntut untuk segera menunjukkan keberpihakannya. Sebuah isu muncul, lalu orang diminta menentukan apakah mereka mendukung atau menolak. Sebuah peristiwa menjadi perbincangan, lalu publik seperti didorong untuk memilih kelompok mana yang dianggap paling benar.
Dalam suasana seperti itu, posisi yang berada di antara dua kutub sering terlihat kurang menarik. Ia tidak menghasilkan slogan yang kuat. Ia tidak mudah diringkas jadi satu kalimat yang tegas. Ia juga tidak selalu memuaskan orang yang menginginkan kepastian. Akibatnya, suara-suara yang mencoba melihat persoalan dari lebih dari satu sisi sering tenggelam di tengah percakapan yang bergerak semakin cepat.
Padahal, banyak persoalan publik memang tidak lahir dalam bentuk yang sederhana. Sebuah kebijakan dapat membawa manfaat bagi sebagian kelompok sekaligus menimbulkan masalah bagi kelompok yang lain. Sebuah keputusan dapat diambil dengan niat yang baik tetapi menghasilkan dampak yang tidak sepenuhnya sesuai harapan. Sebuah kritik dapat mengandung poin yang layak dipertimbangkan meskipun disampaikan oleh pihak yang tidak kita sukai. Kehidupan sosial selalu lebih rumit daripada pilihan antara setuju atau tidak setuju.
Karena itulah ruang tengah sebenarnya tidak identik dengan sikap netral yang pasif. Ruang tengah juga bukan berarti menolak mengambil posisi terhadap persoalan yang penting. Dalam banyak kasus, ruang tengah justru merupakan upaya untuk memahami persoalan secara lebih utuh sebelum memutuskan sikap. Ia memberi kesempatan bagi seseorang untuk mempertimbangkan berbagai kemungkinan tanpa harus terburu-buru menyederhanakan kenyataan yang ada di hadapannya.
Sayangnya, ruang digital tidak selalu memberi penghargaan yang sama kepada kerumitan semacam itu. Pendapat yang bernuansa sering membutuhkan waktu lebih lama untuk dijelaskan. Penjelasan yang panjang tidak selalu mudah dibagikan ulang. Sementara itu, pernyataan yang tegas dan sederhana jauh lebih mudah dipahami, dikutip, dan disebarkan. Dalam lingkungan seperti itu, posisi yang berada di tengah sering kalah terlihat dibanding posisi yang berada di ujung.
Kondisi tersebut membuat banyak orang perlahan mengubah cara mereka berbicara di ruang publik. Sebagian memilih menyederhanakan pendapatnya agar lebih mudah diterima kelompok tertentu. Sebagian lain memilih diam karena merasa percakapan yang ada tidak lagi memberi ruang untuk ketidakpastian atau keraguan. Ada pula yang tetap mencoba menyampaikan pandangan yang lebih berlapis, meskipun mereka harus menerima risiko dianggap tidak cukup tegas oleh kedua belah pihak.
Fenomena ini menarik karena memperlihatkan bahwa polarisasi tidak hanya memengaruhi cara orang melihat kelompok lain. Ia juga memengaruhi cara orang melihat dirinya sendiri. Ketika lingkungan terus-menerus menampilkan dunia sebagai pertarungan antara dua kubu, banyak orang mulai merasa bahwa mereka juga harus menyesuaikan diri dengan pola yang sama. Bahkan ketika pandangan mereka sebenarnya jauh lebih kompleks daripada kategori yang tersedia.
Di tengah semua itu, masih ada alasan untuk percaya bahwa ruang tengah belum benar-benar hilang. Kehidupan sehari-hari menunjukkan bahwa manusia masih mampu bekerja sama dengan orang yang berbeda pandangan. Banyak keluarga tetap bertahan meskipun anggotanya memiliki pilihan politik yang berbeda. Banyak komunitas tetap berjalan meskipun para anggotanya tidak selalu sepakat dalam berbagai persoalan. Bahkan dalam percakapan publik yang paling panas sekalipun, masih ada orang-orang yang berusaha mendengarkan sebelum menilai.
Barangkali ruang tengah memang tak selalu jadi bagian yang paling terlihat. Ia jarang jadi topik yang paling viral. Ia juga tidak selalu menghasilkan perdebatan yang ramai. Namun keberadaannya tetap penting, karena di sanalah, banyak percakapan yang lebih jujur dan lebih manusiawi dapat berlangsung. Orang masih memiliki kesempatan untuk mengubah pendapatnya tanpa harus kehilangan identitasnya. Sebuah persoalan dapat dilihat sebagai persoalan, bukan sekadar simbol kemenangan atau kekalahan kelompok tertentu.
Pertanyaan mengenai ruang tengah mungkin bukan hanya soal posisi politik atau keberpihakan terhadap sebuah isu. Pertanyaan itu juga menyentuh cara kita memahami orang lain. Apakah kita masih memberi kemungkinan bahwa seseorang dapat memiliki pandangan yang berbeda tanpa harus dianggap musuh? Apakah kita masih mampu menerima bahwa sebuah persoalan dapat memiliki lebih dari satu sisi yang layak dipertimbangkan?
Jawaban atas pertanyaan tersebut mungkin tidak akan menghilangkan polarisasi dari ruang digital. Perbedaan pendapat akan tetap ada, sebagaimana ia selalu ada dalam kehidupan manusia. Meski demikian, cara kita memperlakukan perbedaan itulah yang akan menentukan apakah ruang publik menjadi tempat untuk saling memahami, atau hanya menjadi tempat bagi berbagai kubu untuk terus memperkuat batas di antara mereka.
Penutup: Lebih dari Sekadar Dua Kubu
Mungkin salah satu hal yang membuat polarisasi terasa begitu melelahkan adalah karena ia menyederhanakan manusia menjadi sesuatu yang lebih kecil daripada dirinya sendiri.
Orang yang sebenarnya memiliki banyak pengalaman, pertimbangan, dan keraguan perlahan dibaca hanya dari satu posisi yang paling terlihat. Sebuah unggahan, satu komentar, atau satu pilihan politik dapat terasa cukup untuk menentukan bagaimana seseorang dipandang oleh orang lain. Padahal kehidupan manusia jarang sesederhana itu.
Kita hidup di tengah masyarakat yang jauh lebih rumit dibanding berbagai kategori yang sering muncul di ruang digital. Di luar linimasa, orang tetap bekerja bersama mereka yang berbeda pandangan. Mereka tetap berteman dengan orang yang tidak selalu sepakat. Mereka tetap berbagi ruang hidup dengan mereka yang melihat dunia melalui cara yang berbeda.
Tetapi, ruang digital memiliki kemampuan untuk memperbesar bagian-bagian yang paling kontras dari kehidupan sosial tersebut. Ia membuat perbedaan lebih mudah terlihat daripada kesamaan. Ia membuat pertentangan lebih mudah menyita perhatian dibanding kerja sama yang berlangsung setiap hari tanpa sorotan.
Karena itulah polarisasi sering terasa lebih besar daripada yang sebenarnya. Yang paling sering muncul di hadapan kita bukan selalu gambaran masyarakat secara utuh, melainkan bagian yang paling mudah memancing perhatian. Semakin sering kita melihatnya, semakin mudah pula kita mengira bahwa seluruh dunia bekerja dengan cara yang sama.
Padahal di antara berbagai kubu yang terlihat saling berhadapan, selalu ada wilayah yang jauh lebih luas daripada yang tampak di layar. Ada orang-orang yang masih mempertimbangkan. Ada yang masih mencoba memahami. Ada yang belum sepenuhnya setuju, tetapi juga belum sepenuhnya menolak. Ada yang memilih mendengar lebih lama sebelum mengambil kesimpulan.
Mungkin mereka tidak selalu menjadi suara yang paling keras. Mereka tidak selalu mendominasi percakapan. Mereka juga tidak selalu menjadi bagian yang paling mudah terlihat. Meski begitu keberadaan mereka mengingatkan bahwa kehidupan sosial tidak hanya terdiri dari dua sisi yang saling berhadapan.
Karena itu, ketika lain kali sebuah isu besar memenuhi linimasa dan berbagai kubu mulai saling berdebat, mungkin pertanyaan yang paling menarik bukanlah siapa yang sedang menang atau kalah dalam percakapan tersebut.
Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah kita masih mampu melihat manusia di balik berbagai label yang digunakan untuk menjelaskan mereka. Sebab ketika kemampuan itu hilang, yang tersisa bukan hanya polarisasi. Yang hilang adalah kesempatan untuk benar-benar memahami satu sama lain. []
***
Ketika Opini Dimaknai Sebagai Tanda Keberpihakan

Oleh Adrian Damar
Ada masa ketika perbedaan pendapat masih terasa seperti bagian biasa dari percakapan sehari-hari.
Seseorang bisa tidak setuju terhadap satu kebijakan, lalu tetap melanjutkan obrolan tentang hal lain tanpa perlu merasa hubungan sosialnya ikut berubah. Di meja makan, di kantor, atau di warung kopi, orang dapat berbeda pandangan lalu kembali bercanda karena perbedaan itu belum tentu dianggap sebagai tanda tentang siapa dirinya secara keseluruhan.
Hari ini, pengalaman semacam itu terasa semakin sulit ditemukan, terutama ketika percakapan berpindah ke ruang digital. Sebuah komentar pendek dapat dibaca sebagai tanda keberpihakan. Sebuah unggahan ulang bisa dianggap sebagai pernyataan politik. Bahkan tanda suka pada sebuah konten kadang cukup untuk membuat orang lain menebak posisi seseorang dalam sebuah isu.
Fenomena ini membuat ruang digital terasa lebih tegang daripada percakapan biasa. Orang tidak hanya membaca apa yang dikatakan, tetapi juga menebak maksud di baliknya. Sebuah kritik tidak selalu diterima sebagai kritik terhadap gagasan. Sebuah dukungan tidak selalu diterima sebagai persetujuan terhadap satu hal tertentu. Keduanya sering langsung ditarik ke dalam peta yang lebih besar tentang kubu, identitas, dan posisi sosial.
Dalam banyak kasus, proses itu berlangsung sangat cepat. Seseorang menulis pendapat tentang kebijakan pemerintah, lalu orang lain segera menempatkannya dalam kategori tertentu. Ia dianggap berada di pihak pendukung, pengkritik, pembela, pembenci, atau kelompok lain yang sudah lebih dulu tersedia dalam imajinasi publik. Pendapatnya belum tentu dibaca utuh, tetapi posisinya sudah mulai ditebak.
Di sinilah perbedaan pendapat kehilangan sebagian ruang bernapasnya. Orang yang sebenarnya hanya ingin membicarakan satu isu bisa mendadak merasa harus menjelaskan seluruh sikap politiknya. Orang yang hanya ingin memberi catatan terhadap sebuah kebijakan bisa dicurigai sedang menyerang kelompok tertentu. Orang yang menyetujui satu keputusan bisa dianggap menerima seluruh cara kekuasaan dijalankan.
Padahal manusia jarang sesederhana itu. Kita bisa setuju pada satu hal dan menolak hal lain pada saat yang sama. Kita bisa mengkritik sebuah kebijakan tanpa harus membenci semua orang yang mendukungnya. Kita juga bisa mendukung sebuah gagasan tanpa kehilangan kemampuan untuk melihat kekurangannya.
Menariknya, ruang digital sering tidak sabar terhadap kerumitan semacam itu. Ia lebih mudah menerima posisi yang jelas, ringkas, dan mudah dikenali. Orang yang ragu-ragu dianggap tidak tegas. Orang yang mencoba memahami dua sisi dicurigai sedang mencari aman. Orang yang menolak ikut menyerang salah satu kubu bisa dianggap tidak cukup peduli terhadap persoalan yang sedang diperdebatkan.
Akibatnya, banyak orang mulai berhati-hati dengan cara yang berbeda. Mereka bukan hanya menimbang apakah sebuah pendapat benar atau tidak, tetapi juga memikirkan bagaimana pendapat itu akan dibaca oleh orang lain. Mereka bertanya apakah komentar itu akan disalahpahami, apakah unggahan itu akan membuat mereka dimasukkan ke kubu tertentu, atau apakah sikap yang sebenarnya sederhana akan ditafsirkan terlalu jauh.
Kehati-hatian seperti ini tidak selalu buruk. Dalam ruang publik, orang memang perlu memikirkan dampak dari apa yang mereka katakan. Namun, jika setiap pendapat selalu dibaca sebagai tanda keberpihakan, percakapan menjadi cepat melelahkan. Orang tidak lagi merasa sedang bertukar pikiran, melainkan sedang menjalani pemeriksaan identitas.
Di grup percakapan, gejala seperti ini sering muncul dengan cara yang lebih halus. Seseorang membagikan berita, lalu anggota lain segera menanggapi bukan hanya isi beritanya, tetapi juga kecenderungan politik orang yang membagikannya. Ada yang diam karena tidak ingin suasana memanas. Ada yang menahan diri karena tahu percakapan semacam itu sulit selesai. Ada pula yang memilih keluar dari pembahasan karena merasa perbedaan pendapat tidak lagi punya tempat yang aman.
Yang hilang dari situasi seperti ini bukan hanya kenyamanan berbicara. Yang ikut hilang adalah kemungkinan untuk mendengar sesuatu dari orang yang berbeda pandangan. Ketika seseorang sudah ditempatkan dalam satu kubu, pendapatnya sering lebih mudah ditolak sebelum benar-benar dipahami. Bukan karena argumennya selalu lemah, tetapi karena identitas yang dilekatkan kepadanya sudah lebih dulu bekerja.
Mungkin inilah salah satu perubahan paling terasa dalam percakapan digital hari ini. Opini tidak lagi hanya berfungsi sebagai pendapat. Ia juga menjadi tanda. Ia menunjukkan posisi, memberi isyarat tentang kelompok, dan kadang menentukan apakah seseorang akan dianggap sebagai kawan bicara atau lawan yang harus dibantah.
Dalam suasana seperti itu, hubungan sosial menjadi lebih mudah retak oleh hal-hal yang sebenarnya masih bisa dibicarakan. Perbedaan yang dulu mungkin cukup diselesaikan dengan penjelasan kini bisa berubah menjadi jarak. Bukan karena orang tidak bisa berbeda pendapat, tetapi karena perbedaan itu terlalu cepat diberi makna yang lebih besar daripada dirinya sendiri.
Pertanyaannya kemudian bukan hanya bagaimana kita menyampaikan pendapat di ruang digital. Pertanyaan yang tidak kalah penting adalah bagaimana kita membaca pendapat orang lain. Apakah kita masih memberi ruang bagi kemungkinan bahwa seseorang lebih rumit daripada satu komentar yang ia tulis? Apakah kita masih mau mendengar sebelum menempatkannya dalam kubu tertentu?
Karena seringkali, percakapan yang sehat tidak dimulai dari kemampuan menyatakan posisi. Ia dimulai dari kesediaan untuk tidak terlalu cepat mengurung orang lain di dalam label yang kita buat sendiri. []
***
Kenapa Kita Sulit Mengakui Bahwa Lawan Mungkin Benar?

Oleh Vikalena Lasmoskwa
Tidak ada orang yang bangun pagi dengan niat ingin jadi tak objektif.
Sebagian besar dari kita justru merasa sedang berusaha melihat sesuatu dengan masuk akal. Kita membaca berita, mendengar pendapat orang lain, menimbang pengalaman sendiri, lalu mengambil kesimpulan yang terasa paling benar menurut pengetahuan yang kita miliki saat itu.
Masalahnya, manusia tak pernah membaca dunia dari ruang kosong. Semua berdasarkan frame of reference dan field of experience. Setiap orang membawa pengalaman, nilai, ketakutan, harapan, dan ingatan sosial yang membentuk cara ia memahami sebuah peristiwa. Karena itu, ketika dua orang melihat isu yang sama, mereka tidak selalu sedang memulai dari tempat yang sama. Mereka mungkin membaca fakta yang sama, tetapi membawa peta batin yang berbeda ketika mencoba memahaminya.
Perbedaan peta batin itulah yang membuat percakapan sering terasa rumit. Kita mungkin mengira sedang memperdebatkan sebuah kebijakan, sebuah peristiwa, atau sebuah pernyataan publik. Namun di balik itu, sering ada hal lain yang ikut dipertahankan. Ada identitas. Ada rasa aman. Ada kebutuhan untuk merasa bahwa pilihan yang pernah kita ambil tidak sepenuhnya keliru.
Karena itulah mengakui bahwa lawan mungkin benar bukan perkara mudah. Pengakuan semacam itu tidak selalu terasa seperti menerima sebuah argumen. Kadang ia terasa seperti mengganggu bangunan keyakinan yang sudah lama kita susun. Jika lawan benar dalam satu hal, muncul pertanyaan lain yang lebih tidak nyaman: jangan-jangan ada bagian dari cara kita melihat dunia yang selama ini terlalu sempit.
Dalam psikologi, manusia dikenal memiliki kecenderungan untuk mencari dan mempercayai informasi yang mendukung keyakinan sebelumnya. Istilahnya sering disebut bias konfirmasi. Walau demikian, dalam kehidupan sehari-hari, pengalaman ini jauh lebih sederhana daripada istilah akademisnya. Kita lebih mudah merasa nyaman ketika menemukan pendapat yang membenarkan apa yang sudah kita percaya. Sebaliknya, pendapat yang mengguncang keyakinan sering terasa mengganggu, bahkan sebelum kita sempat memeriksanya dengan tenang.
Hal ini dapat terlihat dalam banyak percakapan politik dan sosial di ruang digital. Ketika orang yang kita anggap satu kubu menyampaikan argumen, kita cenderung lebih sabar membacanya. Kita memberi ruang bagi niat baiknya. Kita mencoba memahami konteksnya. Tetapi ketika argumen serupa datang dari kelompok yang kita anggap berseberangan, kesabaran itu sering berkurang jauh sebelum kalimatnya selesai dibaca.
Bukan berarti manusia selalu sengaja bersikap tidak adil. Seringkali, proses itu berlangsung otomatis dan hampir tidak terasa. Kita merasa sedang menilai isi pendapat, padahal sebagian dari diri kita sudah lebih dulu menilai siapa yang menyampaikannya. Nama akun, foto profil, pilihan kata, riwayat unggahan, bahkan kelompok yang diasosiasikan dengannya dapat memengaruhi cara kita menerima sebuah argumen.
Keadaan menjadi lebih rumit ketika sebuah pendapat bersentuhan dengan identitas kelompok. Jika seseorang merasa dirinya bagian dari kelompok tertentu, kritik terhadap kelompok itu sering terasa lebih dekat kepada serangan pribadi. Sebuah argumen yang seharusnya bisa diperiksa sebagai gagasan berubah jadi sesuatu yang menyentuh rasa memiliki. Pada saat itu, mempertahankan pendapat bukan lagi sekadar mempertahankan logika, tetapi juga mempertahankan tempat kita merasa diterima.
Psikolog sosial Henri Tajfel pernah menunjukkan bahwa manusia memiliki kecenderungan membagi dunia ke dalam kelompok ‘kami’ dan ‘mereka’. Dalam kehidupan sehari-hari, pembagian seperti itu tidak selalu berbahaya. Ia dapat memberi rasa kedekatan, solidaritas, dan identitas bersama. Tetapi ketika pembagian tersebut terlalu kuat, orang mulai lebih mudah memberi kelonggaran kepada kelompoknya sendiri dan lebih keras menilai kelompok yang dianggap berlawanan.
Di ruang digital, kecenderungan tersebut memperoleh tempat yang sangat subur. Kita dapat dengan mudah menemukan orang-orang yang berpikir seperti kita. Kita mengikuti akun yang sejalan dengan pandangan kita. Kita membaca komentar dari orang yang memiliki keresahan serupa. Lama-kelamaan, dunia terasa lebih jelas karena orang-orang di sekitar kita mengulang keyakinan yang sama.
Rasa jelas seperti itu memang menenangkan. Ia membuat kita tidak merasa sendirian. Ia memberi kesan bahwa pendapat kita bukan hanya masuk akal, tetapi juga didukung banyak orang. Namun, ketenangan semacam ini punya sisi lain yang perlu diwaspadai. Semakin sering kita berada di ruang yang membenarkan kita, semakin sulit menerima kemungkinan bahwa orang di luar sana mungkin sedang melihat sesuatu yang tidak kita lihat.
Ketika lawan bicara menyampaikan argumen yang kuat, reaksi pertama kita sering bukan rasa ingin tahu. Kita justru mencari celah. Kita bertanya apa motifnya. Kita mengingat kesalahan kelompoknya. Kita mencari alasan mengapa argumen itu tidak perlu diterima sepenuhnya. Kadang kita tidak sedang membantah gagasan, melainkan sedang melindungi diri dari rasa tidak nyaman karena harus mengakui bahwa pihak lain mungkin memiliki poin yang benar.
Rasa tidak nyaman itu dikenal dalam psikologi sebagai disonansi kognitif, yaitu ketegangan yang muncul ketika keyakinan kita bertemu dengan informasi yang tidak sesuai. Leon Festinger, yang memperkenalkan konsep ini, menjelaskan bahwa manusia cenderung mencari cara untuk mengurangi ketegangan tersebut. Dalam kehidupan sehari-hari, cara itu bisa bermacam-macam. Kita mengabaikan informasi yang mengganggu, meremehkan sumbernya, atau menafsirkan ulang fakta agar tetap sesuai dengan keyakinan lama.
Di ruang digital, proses semacam ini sering berlangsung dengan sangat cepat. Seseorang membaca informasi yang bertentangan dengan posisinya, lalu segera mencari bantahan dari akun yang ia percaya. Ia menemukan penjelasan yang membuatnya kembali nyaman. Ia membagikannya ulang, lalu mendapat dukungan dari orang-orang yang berpikir serupa. Dengan begitu, ketegangan batin yang sempat muncul dapat mereda tanpa harus benar-benar memeriksa kemungkinan bahwa lawan mungkin benar.
Karena itu, sulit mengakui kebenaran lawan bukan hanya persoalan gengsi. Ia juga berkaitan dengan rasa aman psikologis. Mengakui bahwa pihak lain benar dalam satu hal dapat terasa seperti membuka pintu yang terlalu besar. Setelah pintu itu terbuka, kita mungkin harus memeriksa ulang banyak hal lain yang selama ini kita anggap selesai. Bagi sebagian orang, proses seperti itu melelahkan. Bagi sebagian lain, ia terasa mengancam.
Kendati demikian, kemampuan untuk mengakui sebagian kebenaran dari pihak yang berseberangan justru merupakan tanda kematangan berpikir. Ia tidak berarti kita harus berpindah kubu. Ia juga tidak berarti kita harus menerima seluruh pandangan lawan. Dalam banyak kasus, ia hanya berarti bahwa kita masih cukup jujur untuk melihat bahwa manusia lain dapat salah dalam banyak hal, tetapi tetap benar dalam beberapa hal tertentu.
Sikap semacam ini sangat sulit tumbuh dalam ruang yang terlalu terpolarisasi. Ketika setiap percakapan dibaca sebagai pertarungan kubu, mengakui kebenaran lawan dapat terlihat seperti pengkhianatan. Orang takut dianggap melemah. Mereka khawatir dinilai tidak setia kepada kelompoknya. Padahal ruang publik yang sehat membutuhkan kemampuan semacam itu, karena tanpa pengakuan terhadap kemungkinan pihak lain benar, percakapan hanya akan berubah menjadi perlombaan mempertahankan posisi.
Mungkin yang paling sulit dari semua ini adalah menyadari bahwa kita pun tidak kebal dari kecenderungan tersebut. Kita mudah melihat bias orang lain, tetapi sering lebih lambat mengenali bias sendiri. Kita cepat menertawakan keras kepala kelompok lain, tetapi punya banyak alasan ketika kelompok kita melakukan hal yang sama. Kita ingin lawan berpikir lebih terbuka, sementara kita sendiri belum tentu siap memberi ruang bagi kemungkinan bahwa mereka sedang membawa sebagian kebenaran.
Di tengah ruang digital yang semakin ramai oleh perbedaan posisi, kemampuan untuk berhenti sejenak menjadi semakin penting. Bukan untuk menjadi netral terhadap semua hal. Bukan pula untuk menganggap semua pendapat sama benarnya. Melainkan untuk memberi ruang kecil bagi pertanyaan yang sering kita hindari: bagaimana jika dalam hal ini, lawan saya memiliki bagian dari kebenaran yang perlu saya dengar?
Pertanyaan itu tidak selalu menyenangkan. Ia bisa mengganggu rasa pasti yang selama ini kita pegang. Tetapi justru di sanalah percakapan yang lebih sehat mungkin dimulai. Bukan ketika semua orang sepakat, tetapi ketika seseorang masih cukup berani untuk mengakui bahwa kebenaran kadang muncul dari arah yang tidak ia sukai. []
***
Apakah Kita Sedang Kehilangan Kemampuan untuk Tidak Sepakat?

Oleh Rudi Tenggarawan
Tidak semua perbedaan harus diselesaikan.
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi dalam beberapa tahun terakhir rasanya semakin sulit dijalankan. Kita hidup pada masa ketika hampir setiap persoalan seperti meminta sebuah keputusan yang tegas. Setuju atau tidak setuju. Mendukung atau menolak. Bersama kami atau bersama mereka. Di ruang digital, pilihan-pilihan semacam itu muncul begitu sering sehingga perlahan terasa seperti satu-satunya cara untuk ikut berada di dalam percakapan.
Padahal kehidupan bersama tidak pernah dibangun dari kesepakatan penuh. Keluarga tidak selalu sepakat mengenai banyak hal. Sahabat dapat memiliki pandangan politik yang berbeda. Rekan kerja sering membawa pengalaman hidup yang tidak sama. Masyarakat yang sehat bukan masyarakat yang berhasil menghilangkan perbedaan, melainkan masyarakat yang mampu hidup bersama di tengah berbagai perbedaan tersebut.
Demokrasi lahir dari kesadaran bahwa manusia tidak akan pernah sepenuhnya sepakat. Karena itu, demokrasi tidak dirancang untuk membuat semua orang berpikir sama. Ia justru menyediakan ruang agar berbagai pandangan dapat bertemu, diperdebatkan, dan diuji tanpa harus saling meniadakan.
Meski begitu, ruang digital kadang memberi kesan yang berbeda. Semakin lama mengikuti berbagai percakapan di media sosial, semakin mudah muncul anggapan bahwa tujuan sebuah perdebatan adalah memenangkan satu posisi dan mengalahkan posisi yang lain. Orang yang berubah pikiran dianggap kalah. Orang yang mengakui sebagian argumen lawan dicurigai sedang melemah. Sementara mereka yang tetap bertahan pada posisi semula sering memperoleh dukungan paling besar dari kelompoknya.
Lambat laun, ukuran keberhasilan sebuah percakapan ikut berubah. Percakapan tak lagi dinilai dari apakah ia membuat orang memahami persoalan dengan lebih baik. Percakapan mulai diukur dari seberapa banyak orang yang berhasil diyakinkan berada di pihak kita. Bahkan tidak jarang, tujuan yang lebih tersembunyi adalah membuat pihak lain kehilangan legitimasi untuk berbicara.
Padahal kemampuan untuk tidak sepakat merupakan salah satu bentuk kedewasaan sosial yang paling penting.
Tidak sepakat bukan berarti memusuhi. Tidak sepakat juga bukan berarti menolak keberadaan orang lain. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sebenarnya sering melakukannya tanpa kesulitan berarti. Kita dapat menghargai teman yang berbeda selera musik. Kita dapat bekerja sama dengan orang yang memiliki pandangan ekonomi berbeda. Kita dapat tetap menghormati guru, dosen, atau orang tua meskipun tidak selalu menyetujui semua pendapat mereka.
Mengapa kemampuan itu terasa jauh lebih sulit ketika percakapan berlangsung di ruang digital?
Salah satu jawabannya mungkin karena ruang digital mengubah cara kita melihat lawan bicara. Kita tidak lagi berhadapan dengan manusia yang utuh. Kita lebih sering berhadapan dengan potongan komentar, foto profil, nama akun, atau cuplikan pendapat yang muncul beberapa detik di layar. Semakin sedikit konteks yang kita miliki tentang seseorang, semakin mudah pula kita mengurangi dirinya menjadi satu identitas yang paling terlihat.
Ketika proses itu terjadi berulang-ulang, lawan bicara perlahan kehilangan wajahnya sebagai manusia. Ia lebih mudah dilihat sebagai wakil dari sebuah kelompok. Sebagai simbol dari kubu tertentu. Sebagai bagian dari persoalan yang sedang kita lawan. Pada saat itulah rasa ingin memahami mulai bergeser menjadi keinginan untuk mengalahkan.
Fenomena tersebut tidak hanya terjadi di Indonesia. Dalam banyak negara, para peneliti mulai menggunakan istilah affective polarization untuk menggambarkan keadaan ketika masyarakat bukan sekadar berbeda pendapat, tetapi mulai kehilangan rasa percaya dan empati kepada kelompok yang berpandangan berbeda. Yang dipersoalkan bukan lagi isi argumen, melainkan keberadaan kelompok yang dianggap berseberangan.
Perubahan seperti itu patut diperhatikan karena dampaknya jauh melampaui media sosial. Ketika masyarakat semakin sulit menerima keberadaan pendapat yang berbeda, ruang kompromi ikut mengecil. Keputusan publik menjadi lebih sulit dicapai. Dialog berubah menjadi saling curiga. Bahkan persoalan yang sebenarnya dapat diselesaikan melalui percakapan perlahan berubah menjadi konflik yang berkepanjangan karena setiap pihak merasa tidak lagi berbicara dengan sesama warga negara, melainkan dengan lawan yang harus dikalahkan.
Ironisnya, tidak ada masyarakat yang dapat bertahan lama dengan cara seperti itu. Setiap bangsa selalu terdiri dari orang-orang yang membawa kepentingan, pengalaman, dan keyakinan yang berbeda. Perbedaan itu tidak mungkin dihapus. Yang bisa dibangun adalah cara hidup bersama meskipun perbedaan tersebut tetap ada. Karena itulah kemampuan untuk tidak sepakat sesungguhnya merupakan salah satu fondasi terpenting dalam kehidupan demokrasi.
Mungkin kita tidak perlu terlalu khawatir jika masyarakat masih sering berdebat. Perdebatan justru menunjukkan bahwa ruang publik masih hidup. Yang perlu mulai kita khawatirkan adalah ketika perdebatan tidak lagi memberi ruang bagi kemungkinan bahwa orang lain tetap layak dihormati meskipun ia tidak sepakat dengan kita.
Perbedaan pendapat mungkin memang tidak akan pernah selesai. Meski begitu, bukan berarti setiap perbedaan harus berakhir dengan permusuhan. Ada banyak hal yang dapat tetap diperdebatkan tanpa harus memutus hubungan, tanpa harus menghapus rasa hormat, dan tanpa harus kehilangan kemampuan untuk mendengarkan.
Barangkali ukuran sebuah masyarakat yang sehat bukanlah seberapa sering warganya sepakat. Mungkin ukurannya justru terlihat dari seberapa lama mereka masih mampu hidup berdampingan ketika kesepakatan itu tidak pernah benar-benar datang. []
Peta Akar Polarisasi di Ruang Digital

Cara Membaca Peta
Peta ini bukan dimaksudkan untuk menyederhanakan persoalan yang dibahas dalam Cover Story. Sebaliknya, ia membantu pembaca melihat bagaimana berbagai faktor saling berhubungan dan membentuk satu fenomena yang sama. Pada edisi ini, peta tersebut memperlihatkan bagaimana perbedaan pendapat perlahan berkembang menjadi polarisasi ketika bertemu dengan identitas, narasi, dan cara kerja ruang digital.
Penjelasan
Perbedaan pendapat bukanlah sesuatu yang baru. Jauh sebelum media sosial hadir, manusia sudah terbiasa melihat dunia dari pengalaman, nilai, dan kepentingan yang berbeda. Yang berubah hari ini bukan semata-mata keberadaan perbedaan tersebut, melainkan cara perbedaan itu tumbuh, menyebar, dan dipertahankan di ruang digital.
Peta ini tidak berusaha menunjukkan siapa yang berada di pihak yang benar atau siapa yang keliru. Ia justru mengajak kita melihat bahwa dua orang dapat berangkat dari pengalaman yang berbeda, membangun narasi yang berbeda, lalu sampai pada kesimpulan yang berbeda pula. Dalam banyak kasus, keduanya sama-sama merasa sedang membela sesuatu yang penting.
Ketika perbedaan mulai berubah menjadi identitas, narasi saling bersaing, dan ruang digital terus memperjelas batas antarkelompok, polarisasi menjadi lebih mudah tumbuh. Tantangan terbesar bukan lagi bagaimana membuat semua orang sepakat, melainkan bagaimana menjaga agar perbedaan tidak berubah menjadi alasan untuk berhenti saling mendengar. [] Penulisan dan riset untuk rubrik Akar Kabar melibatkan bantuan AI dan telah melewati kurasi Redaksi.