Oleh Liora Maheswari
Ada kebiasaan kecil setiap kali bepergian: sebelum pulang, mampir ke pusat oleh-oleh. Kita berharap menemukan sesuatu yang kelak mengingatkan bahwa kita pernah berada di sana.
Saya selalu menyukai bagian itu dari sebuah perjalanan. Bukan semata karena ingin membawa makanan untuk orang rumah, tetapi karena pusat oleh-oleh seharusnya seperti ringkasan kecil sebuah tempat. Ada rasa, bahan, kerajinan, nama, bahkan cara membungkus sesuatu yang mungkin tidak akan kita jumpai setelah pulang.
Sampai beberapa kali saya masuk ke pusat oleh-oleh dan merasa rak-raknya terlalu akrab.
Ada makanan yang saya tahu berasal dari kota lain. Ada merek yang bisa dibeli di tempat lain. Ada suvenir yang bentuknya mirip dengan barang yang pernah saya lihat ratusan kilometer dari sana, hanya tulisan nama kotanya yang berbeda.
Tentu tidak ada yang salah dengan menjualnya. Perdagangan memang membuat barang bergerak melintasi kota, pulau, bahkan negara. Tetapi sebagai orang yang sedang bepergian, saya tetap ingin bertanya: kalau semuanya bisa ditemukan di mana-mana, apa yang sebenarnya sedang kita cari ketika mengunjungi sebuah tempat?
Baca Juga: Kalau Kita Ingin Lebih Peduli, Mungkin Kita Harus Belajar Memperhatikan Ini
Oleh-Oleh Bukan Sekadar Barang yang Dibawa Pulang
Makanan selalu bepergian bersama manusia. Orang Minang membuka rumah makan di Jakarta, pempek Palembang dijual di Bandung, batagor Bandung bisa ditemukan di kota-kota lain, dan orang tidak perlu pergi ke Yogyakarta setiap kali ingin makan gudeg.
Menurut saya, justru itu salah satu hal menyenangkan dari kebudayaan. Sesuatu bergerak, bertemu selera baru, berubah, lalu menemukan rumah yang lain.
Jakarta bahkan mungkin tidak akan menjadi Jakarta tanpa pertemuan semacam itu. Kota besar tersebut dibentuk oleh manusia yang datang dari berbagai tempat dengan membawa bahasa, kebiasaan, makanan, musik, dan ingatan masing-masing. Menemukan kuliner dari berbagai daerah di sana bukan tanda hilangnya identitas. Keragaman itu sendiri telah menjadi bagian dari identitas kota.
Persoalannya berbeda ketika kita berbicara tentang pengalaman mengunjungi sebuah daerah. Kita pergi bukan hanya untuk berpindah koordinat. Kita ingin merasakan bahwa tempat yang dituju memang berbeda dari tempat yang ditinggalkan.
Itulah mengapa oleh-oleh sebenarnya menarik sebagai benda budaya. Nilainya tidak selalu terletak pada barang itu sendiri, melainkan pada cerita yang menempel kepadanya.
“Ini saya beli waktu ke Garut.”
“Yang ini khas Banyuwangi.”
“Ini buatan warga desa dekat tempat kami menginap.”
Kalimat-kalimat seperti itu membuat sekotak makanan atau sebungkus kerajinan menjadi lebih dari barang konsumsi. Ia menjadi bukti kecil sebuah perjalanan.
Tetapi ada perbedaan antara membawa pulang sesuatu dari sebuah tempat dan membawa pulang sesuatu yang kebetulan dibeli di tempat itu.
Perbedaannya memang tipis. Namun bagi pengalaman perjalanan, ia cukup penting.
Geografer Edward Relph pernah membicarakan placelessness, keadaan ketika standardisasi membuat berbagai tempat kehilangan karakter khasnya. Relph menulis tentang ini dalam Place and Placelessness pada 1976, jauh sebelum manusia mengenal media sosial, jaringan kedai kopi global, atau tempat wisata yang dirancang agar tampak bagus di Instagram.
Kegelisahannya terasa semakin mudah dipahami sekarang. Kita dapat masuk ke pusat perbelanjaan di kota yang berbeda dan menemukan merek yang sama. Hotel-hotel menggunakan bahasa desain yang serupa. Kafe mengejar estetika yang sedang populer. Tempat wisata membangun sudut foto mengikuti tempat lain yang sedang viral.
Bahkan makanan lokal kadang disesuaikan sedemikian rupa dengan selera pasar sampai kekhasannya menjadi samar.
Semua itu membuat perjalanan lebih nyaman. Kita tidak perlu terlalu banyak beradaptasi karena sesuatu yang familier hampir selalu tersedia.
Namun kenyamanan mempunyai paradoks kecil. Semakin sebuah tempat dibuat menyerupai tempat lain agar mudah diterima siapa saja, semakin sedikit alasan kita mengingatnya.
Baca Juga: “Garong” dan Alasan Musik Tak Pernah Benar-Benar Bisa Diam
Tempat yang Berbeda Tidak Harus Takut Terlihat Berbeda
Saya tidak sedang membayangkan sebuah kota yang menutup pintunya terhadap segala sesuatu dari luar. Itu bukan kebudayaan. Kebudayaan justru hidup melalui perjumpaan.
Saya hanya membayangkan pusat oleh-oleh yang ketika dimasuki membuat orang segera tahu: saya sedang berada di sini.
Produk dari daerah lain boleh saja tersedia. Namun produk lokal semestinya mendapatkan panggung utama. Bukan sekadar satu rak kecil bertuliskan “produk UMKM”, sementara barang yang sudah mempunyai distribusi luas menguasai ruang paling terlihat. Ada persoalan ekonomi di sana.
Ketika wisatawan membelanjakan uangnya untuk produk lokal, perjalanan tidak berhenti sebagai konsumsi pengalaman. Uang itu dapat bergerak kepada pembuat makanan, petani pemasok bahan, perajin, pekerja, keluarga, dan usaha kecil di sekitar destinasi.
Sebaliknya, kalau ruang terbaik di tempat wisata lebih banyak diisi produk yang sebenarnya dapat dibeli di banyak kota, ada kesempatan yang hilang bagi produsen setempat untuk memperkenalkan dirinya.
Mungkin produknya belum mempunyai kemasan secantik merek besar. Mungkin namanya belum dikenal. Mungkin rasanya terlalu khas sehingga dianggap kurang aman untuk selera wisatawan. Tetapi bukankah salah satu alasan kita bepergian justru untuk bertemu sesuatu yang belum kita kenal?
Saya teringat pasar-pasar tradisional yang pernah saya kunjungi. Tidak semuanya bersih, tertata, atau nyaman. Namun ada pengalaman yang sulit dipindahkan ke kota lain: cara pedagang memanggil pembeli, bahan makanan yang jarang ditemukan di rumah, aroma masakan tertentu, logat percakapan, sampai benda-benda yang awalnya membuat kita bertanya, “Ini dipakai untuk apa?”
Hal-hal kecil semacam itulah yang memberi sebuah tempat tekstur. Kita mungkin tidak memotretnya. Tidak membelinya. Bahkan mungkin lupa namanya. Tetapi bertahun-tahun kemudian, entah mengapa, kita masih mengingat suasananya.
Karena identitas tempat rupanya tidak selalu dibentuk oleh monumen besar. Ia hidup melalui banyak hal kecil yang terus dilakukan masyarakatnya: makanan yang dimasak, barang yang dibuat, bahasa yang digunakan, cara orang berinteraksi, bentuk rumah, musik, pasar, ritual, hingga cerita yang diwariskan.
Pariwisata seharusnya mempunyai hubungan yang menarik dengan semua itu. Wisatawan datang membawa rasa ingin tahu, sementara sebuah tempat memperoleh kesempatan memperkenalkan dirinya.
Masalah muncul ketika keinginan menyenangkan wisatawan justru membuat sebuah daerah terlalu banyak meniru apa yang sudah berhasil di tempat lain.
Ada tempat wisata yang membangun wahana karena daerah lain ramai dengan wahana serupa. Ada kafe yang mengejar desain yang sedang populer. Ada makanan yang dibuat mengikuti tren dari kota besar. Perlahan, keunikan dianggap terlalu berisiko, sementara keseragaman dianggap lebih mudah dijual.
Padahal wisatawan mungkin justru sedang mencari kebalikannya. Mereka sudah mempunyai pusat perbelanjaan di kotanya. Sudah mempunyai kedai kopi. Sudah mengenal makanan viral. Sudah bisa membeli produk terkenal melalui telepon tanpa meninggalkan rumah. Yang tidak mereka punya adalah pengalaman berada di tempat itu.
Maka saya tetap akan mampir ke pusat oleh-oleh ketika bepergian. Saya masih akan berjalan di antara rak-raknya dan mencari sesuatu untuk dibawa pulang. Hanya saja, mungkin saya akan semakin sering memperhatikan label kecil di belakang kemasan: siapa yang membuatnya dan dari mana asalnya.
Bukan karena produk dari kota lain tidak boleh berada di sana. Saya hanya berharap setiap tempat masih cukup percaya diri untuk memberikan ruang lebih besar kepada miliknya sendiri.
Sebab manusia mungkin bepergian bukan hanya untuk melihat sesuatu yang indah. Kita juga bepergian untuk mengalami perbedaan, menemukan rasa yang belum dikenal, mendengar cerita yang tidak ada di rumah, dan menyadari bahwa kehidupan tidak berlangsung dengan cara yang sama di setiap tempat.
Dunia yang semakin terhubung memang membuat hampir semuanya bisa berada di mana-mana. Tetapi kalau suatu hari semua kota menawarkan rasa, barang, ruang, dan pengalaman yang sama, perjalanan akan kehilangan sesuatu yang selama ini membuatnya menyenangkan: perasaan bahwa kita benar-benar telah pergi ke suatu tempat. []
Bandung, 09 September 2026