Oleh Eva Evilia

Ada sesuatu yang menarik ketika membaca kolom komentar di media sosial hari ini. Semakin banyak orang berbicara, tetapi semakin sedikit percakapan yang benar-benar terasa sebagai percakapan. Banyak orang tampak hadir, tetapi tidak benar-benar bertemu.

Fenomena itu tidak hanya terjadi di internet. Kita bisa menemukannya dalam diskusi politik, percakapan keluarga, rapat kantor, bahkan hubungan pertemanan yang sudah berlangsung lama. Orang-orang masih berbicara satu sama lain, tetapi sering kali mereka tidak benar-benar mendengarkan.

Saya mulai menyadari hal itu ketika melihat bagaimana sebuah tulisan, video, atau berita sering mendapatkan tanggapan hanya beberapa menit setelah dipublikasikan. Tidak ada yang salah dengan kecepatan. Namun kadang-kadang saya bertanya-tanya, apakah semua yang memberikan tanggapan itu benar-benar sudah membaca, mendengar, atau memahami apa yang sedang mereka komentari?

Pertanyaan tersebut mungkin terdengar sederhana. Namun semakin lama diperhatikan, semakin terasa bahwa kita sedang hidup di zaman yang memberi penghargaan besar kepada kecepatan menanggapi, tetapi tidak banyak memberi ruang kepada proses memahami. Mungkin karena itulah kita semakin sering menemukan perdebatan yang panjang tetapi tidak membawa siapa pun ke mana-mana.

Baca Juga: Dunia Terasa Semakin Buruk, Atau Kita Terlalu Sering Membaca Kabar Buruk?

Kita Membaca untuk Berkomentar

Dulu membaca sering dianggap sebagai proses memahami pikiran orang lain. Seseorang membaca sebuah tulisan untuk mengetahui bagaimana orang lain melihat dunia. Ia mungkin setuju atau tidak setuju setelahnya, tetapi setidaknya ia berusaha memahami terlebih dahulu sebelum mengambil posisi.

Hari ini, kebiasaan itu terasa semakin jarang. Banyak orang membuka sebuah artikel sambil sudah menyiapkan kesimpulan. Mereka membaca judul dan langsung memiliki pendapat. Mereka membaca satu paragraf dan merasa sudah mengetahui seluruh isi tulisan. Kadang-kadang, bahkan sebelum sebuah tulisan selesai dibaca, komentar sudah siap diketik.

Tentu tak semua orang melakukannya. Namun pola tersebut semakin mudah ditemukan di berbagai platform digital. Judul menjadi lebih penting daripada isi. Potongan kalimat menjadi lebih berpengaruh daripada konteks. Cuplikan video beberapa detik sering dianggap cukup untuk menilai keseluruhan peristiwa.

Akibatnya, membaca tidak lagi selalu menjadi cara untuk memahami. Membaca sering berubah menjadi proses mencari bahan untuk memperkuat apa yang sejak awal sudah ingin kita katakan.

Dalam situasi seperti itu, informasi kehilangan salah satu fungsi terpentingnya. Ia tidak lagi memperluas cara pandang, melainkan hanya memperkuat keyakinan yang sudah ada sebelumnya. Padahal memahami sesuatu hampir selalu membutuhkan waktu lebih lama daripada menanggapi sesuatu.

Memahami berarti bersedia tinggal lebih lama bersama sebuah gagasan. Memahami berarti memberi kesempatan pada informasi baru untuk mengganggu keyakinan lama yang mungkin selama ini kita pegang. Memahami juga berarti menerima kemungkinan bahwa kita belum mengetahui seluruh cerita. Sayangnya, semua proses itu tidak selalu cocok dengan ritme dunia digital yang bergerak sangat cepat.

Baca Juga: Korupsi: Harapan yang Terus Dicuri Secuil demi Secuil 

Kita Mendengar untuk Menjawab

Fenomena yang sama juga terjadi dalam percakapan sehari-hari. Berapa banyak dari kita yang benar-benar mendengarkan seseorang sampai selesai tanpa sibuk memikirkan apa yang akan kita katakan berikutnya? Berapa banyak dari kita yang mampu menahan keinginan untuk langsung memberi nasihat ketika seseorang sedang bercerita? Berapa banyak dari kita yang benar-benar ingin memahami pengalaman orang lain sebelum membandingkannya dengan pengalaman sendiri?

Pertanyaan-pertanyaan itu terasa penting karena mendengarkan dan menunggu giliran berbicara sebenarnya bukan hal yang sama.

Ketika seseorang bercerita tentang masalah yang ia hadapi, sering yang ia butuhkan pertama-tama bukan solusi. Ia membutuhkan ruang untuk merasa dipahami. Namun dalam banyak percakapan modern, ruang itu semakin sulit ditemukan karena lawan bicara sudah sibuk menyiapkan jawaban sebelum cerita selesai disampaikan.

Kita hidup dalam budaya yang sangat menghargai respons. Orang yang cepat menjawab dianggap pintar. Orang yang cepat berpendapat dianggap aktif. Orang yang cepat bereaksi dianggap terlibat. Sementara itu, kemampuan mendengarkan dengan sungguh-sungguh jarang mendapat perhatian yang sama.

Padahal banyak kesalahpahaman tidak lahir karena orang tidak berbicara. Kesalahpahaman sering muncul karena orang terlalu cepat menyimpulkan apa yang mereka dengar.

Hal yang sama terlihat dalam ruang publik yang lebih luas. Perdebatan politik menjadi semakin keras karena masing-masing pihak lebih sibuk mempertahankan posisinya daripada memahami alasan mengapa pihak lain memiliki pandangan berbeda. Diskusi sosial menjadi semakin bising karena semua orang merasa harus segera memberikan tanggapan terhadap setiap isu yang muncul.

Dalam kondisi seperti itu, kemampuan memahami perlahan berubah menjadi keterampilan yang langka.

Saya tidak berpikir manusia hari ini menjadi lebih egois dibanding generasi sebelumnya. Saya juga tidak berpikir media sosial sendirian bertanggung jawab atas semua perubahan ini. Namun sulit untuk menolak kenyataan bahwa teknologi telah menciptakan lingkungan yang sangat mendukung respons cepat.

Notifikasi meminta perhatian kita. Linimasa bergerak tanpa henti. Topik baru muncul sebelum topik lama sempat dipahami. Dalam situasi seperti itu, refleksi sering kalah cepat dibanding reaksi.

Mungkin itulah sebabnya kita semakin sering merasa tidak didengar meskipun terus berbicara. Kita semakin sering merasa disalahpahami meskipun sudah menjelaskan panjang lebar. Kita semakin sering merasa percakapan berakhir dengan frustrasi meskipun semua orang merasa sudah menyampaikan pendapatnya.

Masalahnya mungkin bukan karena terlalu banyak orang yang berbicara. Persoalannya bisa jadi karena terlalu sedikit orang yang benar-benar berusaha memahami sebelum memberikan tanggapan.

Jadi, memahami memang tidak secepat berkomentar. Memahami tidak secepat membantah. Memahami juga tidak secepat menyusun opini. Namun hampir semua hubungan yang sehat, hampir semua diskusi yang bermakna, dan hampir semua keputusan yang bijaksana biasanya lahir dari proses memahami terlebih dahulu.

Karena itu, mungkin tantangan komunikasi terbesar hari ini bukan belajar berbicara lebih keras. Tantangan yang lebih penting adalah belajar tinggal sedikit lebih lama di dalam percakapan sebelum merasa perlu menjawabnya.

Sebab tidak semua hal membutuhkan tanggapan yang cepat. Sebagian hal justru membutuhkan kesediaan untuk mendengar, membaca, dan memahami lebih lama daripada yang selama ini kita biasakan. []

Bandung, 18 Juni 2026