Oleh Eva Evilia
Setiap hari, layar ponsel memperlihatkan dunia yang tampak semakin mengkhawatirkan.
Ada perang, korupsi, penipuan, kecelakaan, kekerasan, konflik politik, hingga berbagai bentuk kemarahan yang datang silih berganti. Belum sempat satu persoalan selesai dibahas, persoalan lain sudah muncul menggantikannya. Tak mengherankan jika banyak orang merasa dunia sedang bergerak ke arah yang semakin buruk.
Perasaan itu bukan sesuatu yang aneh. Ketika seseorang terus-menerus melihat kabar buruk, pikirannya akan berusaha menyusun gambaran tentang dunia berdasarkan apa yang paling sering ia temui. Masalahnya, apa yang paling sering muncul di hadapan kita belum tentu mewakili apa yang paling sering terjadi dalam kehidupan nyata.
Mungkin benar, di sinilah muncul pertanyaan yang menarik untuk dipikirkan bersama. Apakah dunia memang semakin buruk, atau kita hanya semakin sering membaca kabar buruk?
Pertanyaan ini tidak dimaksudkan untuk menyangkal berbagai persoalan yang memang ada. Konflik, ketidakadilan, korupsi, dan berbagai bentuk kekerasan tetap merupakan kenyataan yang perlu dihadapi. Namun ada perbedaan antara mengakui keberadaan masalah dan mempercayai bahwa dunia hanya terdiri dari masalah.
Karena jika diperhatikan lebih jauh, ada sesuatu yang cukup unik dalam cara manusia menerima informasi hari ini.
Baca Juga: Korupsi: Harapan yang Terus Dicuri Secuil demi Secuil
Kabar Buruk Selalu Memiliki Keunggulan
Dalam dunia jurnalistik, ada ungkapan lama yang sangat terkenal: bad news is good news. Ungkapan itu sering disalahpahami sebagai keinginan media untuk menyebarkan hal-hal negatif. Padahal maknanya lebih sederhana daripada itu.
Sebuah peristiwa menjadi berita karena ia menyimpang dari keadaan normal. Ketika ribuan pesawat mendarat dengan aman setiap hari, tidak ada yang menganggapnya sebagai berita. Namun satu kecelakaan pesawat bisa jadi perhatian dunia selama berhari-hari. Ketika jutaan orang pulang ke rumah dengan selamat, tidak ada yang menulis judul tentangnya. Namun satu peristiwa kriminal dapat memenuhi halaman depan berbagai media.
Logikanya sebenarnya mudah dipahami. Berita hadir untuk memberitahu sesuatu yang tidak biasa. Karena itu, penyimpangan seringkali lebih menarik perhatian dibandingkan keadaan normal yang berjalan sebagaimana mestinya.
Fenomena tersebut tidak berhenti di ruang redaksi. Di era media sosial, prinsip yang sama justru bekerja lebih kuat. Algoritma dirancang untuk menangkap perhatian manusia. Dan perhatian manusia ternyata lebih mudah terpancing oleh ancaman, konflik, kemarahan, atau kontroversi dibandingkan oleh kabar yang tenang dan biasa-biasa saja.
Akibatnya, beranda digital kita sering kali dipenuhi oleh hal-hal yang membuat cemas. Semakin besar emosi yang dipicu sebuah konten, semakin besar peluang konten itu disebarkan. Semakin besar rasa marah yang ditimbulkan, semakin tinggi kemungkinan orang berkomentar atau membagikannya kepada orang lain.
Dalam situasi seperti itu, dunia perlahan terlihat seperti tempat yang dipenuhi masalah tanpa jeda. Padahal yang terjadi belum tentu dunia berubah seburuk itu. Bisa jadi yang berubah adalah cara kita melihat dunia.
Setiap hari, jutaan orang tetap bekerja dengan jujur. Ribuan guru tetap mengajar di ruang kelas. Banyak tenaga kesehatan tetap melayani pasien. Tetangga masih saling membantu. Orang asing masih menolong orang yang mengalami kesulitan di jalan. Namun sebagian besar peristiwa itu tidak pernah menjadi berita utama, karena ia dianggap sebagai sesuatu yang normal.
Ironisnya, justru hal-hal normal itulah yang membuat masyarakat tetap berjalan.
Baca Juga: Kita Bukan Hanya Hidup di Dunia yang Kian Dipersonalisasi dan Sempit, Tetapi Juga Kian Menghimpit
Kebaikan Tidak Hilang, Hanya Jarang Menjadi Sorotan
Ada alasan mengapa kabar tentang seseorang yang mengembalikan dompet, membantu korban kecelakaan, atau menolong orang yang tidak dikenalnya sering terasa begitu menyentuh. Bukan karena peristiwa seperti itu sangat langka. Justru karena kita terlalu jarang mendengarnya dibandingkan berbagai kabar buruk yang setiap hari memenuhi ruang perhatian.
Ketika sebuah kisah kebaikan muncul, banyak orang langsung menyebarkannya. Ada rasa lega yang sulit dijelaskan. Seolah-olah kisah itu mengingatkan bahwa dunia tidak sepenuhnya seperti yang selama ini terlihat di layar.
Padahal jika dipikirkan lebih jauh, masyarakat tidak mungkin bertahan hanya dengan konflik dan keburukan. Tidak ada kota yang bisa berjalan jika sebagian besar warganya tidak jujur. Tak ada lingkungan yang bisa hidup jika tidak ada orang yang saling membantu. Tak ada keluarga yang bisa bertahan jika tidak ada pengorbanan yang dilakukan setiap hari tanpa sorotan.
Masalahnya, kebaikan jarang dianggap menarik sebagai berita. Ia terlalu biasa. Ia terlalu sering terjadi. Ia tidak cukup mengejutkan untuk menjadi tajuk utama.
Boleh jadi, karena itulah banyak orang hari ini mengalami kelelahan yang tidak selalu mereka sadari. Mereka bukan hanya lelah oleh pekerjaan atau persoalan hidup. Mereka juga lelah karena terus-menerus menerima gambaran dunia yang terasa semakin suram.
Ketika layar ponsel menjadi jendela utama untuk melihat realitas, manusia perlahan bisa lupa bahwa realitas jauh lebih luas daripada apa yang muncul di berandanya. Ada kehidupan yang berlangsung di luar algoritma. Ada kebaikan yang tidak direkam kamera. Ada pertolongan yang tak pernah menjadi viral. Ada kepedulian yang tidak pernah masuk ke halaman depan media.
Mungkin dunia memang memiliki banyak alasan untuk membuat kita khawatir. Namun mungkin juga dunia masih memiliki jauh lebih banyak alasan untuk membuat kita percaya kepada sesama daripada yang sering kita sadari.
Sebab jika seluruh perhatian kita hanya tertuju pada kabar buruk, kita bisa sampai pada kesimpulan bahwa manusia semakin kehilangan kebaikannya. Padahal bisa jadi yang hilang bukan kebaikan itu sendiri, melainkan kemampuan kita untuk melihatnya.
Dan mungkin, sesekali, yang kita butuhkan bukanlah menutup mata dari berbagai persoalan. Yang kita butuhkan adalah mengingat bahwa di antara begitu banyak kabar buruk yang berlalu setiap hari, masih ada jutaan tindakan baik yang membuat dunia tetap berjalan sebagaimana mestinya. []
Bandung, 05 Juni 2026