Barangnya mungkin hanya dipajang, disimpan, atau sesekali dilihat. Namun bagi kolektor, kesenangannya memang tidak selalu datang dari fungsi praktis benda tersebut.

Ada orang yang mempunyai puluhan miniatur mobil tetapi hampir tidak pernah menyentuhnya. Ada yang mengoleksi piringan hitam dan hanya memutar sebagian kecil koleksinya, sementara yang lain menyimpan kartu, perangko, sepatu, buku, jam tangan, atau figur yang sebagian besar waktunya hanya berada di rak.

Dari luar, kebiasaan itu bisa terlihat sedikit membingungkan. Kalau barangnya jarang digunakan, mengapa tetap terasa menyenangkan untuk mendapatkannya? Mengapa satu benda baru bisa menimbulkan kepuasan meskipun sebenarnya tidak menambah fungsi yang berarti dalam kehidupan sehari-hari?

Jawabannya mungkin karena aktivitas mengoleksi memang berbeda dengan membeli barang untuk dipakai. Penelitian tentang perilaku kolektor menunjukkan bahwa nilai sebuah koleksi dapat datang dari pencarian, penyelesaian set, pengetahuan, identitas, pengalaman memiliki, hingga keterikatan dengan komunitas. Fungsi praktis benda hanyalah salah satu kemungkinan nilai, bukan satu-satunya.

Baca Juga: Hobi Itu Tidak Selalu Harus Menghasilkan Uang, Benarkah?

Kadang yang Menyenangkan Justru Perjalanannya Mencari

Bayangkan seseorang mengoleksi edisi tertentu dari mobil mini. Beberapa model mudah ditemukan di toko, sementara satu varian hanya muncul sesekali di pasar barang koleksi. Setelah berbulan-bulan mencari, akhirnya benda itu ditemukan dan masuk ke rak.

Secara praktis, tidak banyak yang berubah setelahnya. Mobil mini tersebut tetap tidak bisa digunakan seperti kendaraan sungguhan. Namun proses menemukannya menghasilkan rasa pencapaian yang tidak dapat dipisahkan dari bendanya sendiri.

Penelitian mengenai perilaku koleksi bahkan menempatkan set completion sebagai salah satu motivasi yang dapat menjelaskan mengapa seseorang terus mencari benda tambahan. Dikutip dari ScienceDirect, dalam model yang diterbitkan di Journal of Economic Psychology, keinginan melengkapi satu set dapat memberi nilai tersendiri meskipun koleksi tersebut tidak menghasilkan keuntungan finansial. 

Itu menjelaskan mengapa satu benda yang hilang dari sebuah seri dapat terasa lebih mengganggu daripada jumlah benda yang sudah berhasil dimiliki. Kolektor tidak selalu melihat sepuluh benda sebagai sepuluh barang terpisah. Kesepuluhnya bisa menjadi bagian dari satu keseluruhan yang belum terasa lengkap sebelum bagian terakhir ditemukan.

Russell Belk, salah satu peneliti penting dalam studi perilaku konsumen, juga menemukan bahwa aktivitas mengoleksi umumnya memberikan manfaat bagi kolektor, meskipun dalam bentuk ekstrem bisa menjadi disfungsional. Dalam wawancaranya terhadap sekitar 200 kolektor, kegiatan tersebut berkaitan dengan pengetahuan khusus, ketekunan, penilaian, hingga kesenangan yang melekat pada aktivitas koleksi itu sendiri. 

Maka kesenangan tidak selalu berada pada saat barang digunakan. Ia dapat muncul sejak berburu informasi, membandingkan kondisi, mencari varian langka, berbicara dengan sesama kolektor, sampai akhirnya menempatkan benda baru di samping koleksi yang sudah ada.

Baca Juga: Benarkah Hobi Berhenti Menyenangkan karena Kita Mulai Ingin Terlihat Hebat? 

Koleksi Juga Bisa Menjadi Cara Menceritakan Siapa Diri Kita

Benda yang dikoleksi sering mempunyai hubungan dengan identitas. Belk melalui konsep extended self menjelaskan bahwa kepemilikan dapat menjadi bagian dari cara manusia membentuk dan mengekspresikan dirinya. Benda bukan hanya sesuatu yang berada di luar diri, tetapi dapat ikut mencerminkan minat, sejarah, pengalaman, dan cara seseorang memahami dirinya sendiri. 

Penggemar musik yang mengoleksi rilisan tertentu, misalnya, bukan hanya menyimpan benda fisik. Koleksinya dapat menceritakan genre yang disukai, musisi yang pernah menemani periode tertentu, konser yang pernah didatangi, atau perjalanan panjang mengenal musik. Rak tersebut secara perlahan menjadi semacam biografi dalam bentuk barang.

Hal yang sama dapat terjadi pada koleksi buku, kamera, mainan lama, atau benda budaya populer. Sebagian mungkin dibeli karena nostalgia, sebagian karena desain, sementara yang lain karena mempunyai hubungan dengan masa tertentu dalam kehidupan. Nilai benda kemudian lebih besar daripada fungsi yang terlihat.

Koleksi juga dapat membuka hubungan sosial. Studi mengenai perilaku kolektor mengidentifikasi unsur seperti completion, perfection, caring, dan cooperation sebagai bagian dari pola mengoleksi. Artinya, kegiatan tersebut tidak selalu bersifat individual karena kolektor dapat bertukar informasi, berdagang, membantu pencarian, atau sekadar berbagi pengetahuan dengan orang yang mempunyai minat serupa. 

Tentu ada batas yang perlu dikenali. Aktivitas mengoleksi dapat menjadi masalah jika pengeluaran tidak terkendali, ruang hidup terganggu, hubungan dengan keluarga memburuk, atau kebutuhan untuk mendapatkan benda berikutnya mulai mengambil alih bagian penting kehidupan. Belk sendiri mencatat bahwa bentuk ekstrem pengumpulan dapat membawa konsekuensi finansial maupun psikologis. 

Namun sebagian besar koleksi tidak perlu dibenarkan dengan alasan bahwa barang tersebut harus sering digunakan. Sama seperti orang menikmati melihat lukisan atau mendengarkan musik, kolektor dapat memperoleh kesenangan hanya dari mengetahui sebuah benda berada di tempatnya, memahami sejarahnya, atau melihat susunan koleksinya semakin lengkap.

Barangkali itu sebabnya pertanyaan "buat apa kalau jarang dipakai?" tidak selalu mempunyai jawaban yang memuaskan bagi kolektor. Benda tersebut memang tidak dibeli untuk melakukan banyak pekerjaan. Terkadang pekerjaannya justru sangat sederhana: membuat pemiliknya senang ketika melihatnya, mengingatkannya pada sesuatu, atau memberi satu alasan lagi untuk terus mencari benda berikutnya. [][Liora Maheswari/KK]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.