Belakangan ini, ada sesuatu yang terasa berubah dalam cara masyarakat merespons keadaan.

Dulu, ketika harga naik, kebijakan dipersoalkan, atau janji politik terasa meleset dari harapan, kemarahan publik biasanya muncul dengan cepat. Perdebatan berlangsung keras, kritik mengalir deras, dan ruang publik dipenuhi energi untuk menuntut perubahan. Hari ini, sebagian dari energi itu terasa mulai menipis.

Bukan karena semua masalah sudah selesai. Justru sebaliknya. Banyak persoalan masih ada, bahkan beberapa terasa semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari. Biaya hidup meningkat, lapangan kerja terasa semakin kompetitif, dan ketidakpastian masa depan masih menjadi teman yang akrab bagi banyak orang.

Namun, respons yang muncul sering berbeda dari sebelumnya. Alih-alih marah, banyak orang memilih bercanda. Alih-alih berdebat panjang, mereka membuat meme. Alih-alih berteriak, mereka menulis komentar singkat yang penuh sinisme lalu melanjutkan hidup seperti biasa. Ada rasa lelah yang membuat kemarahan tidak lagi memiliki tenaga yang cukup untuk tumbuh besar.

Fenomena seperti ini cukup menarik untuk diperhatikan. Karena kemarahan biasanya lahir dari harapan. Orang marah karena merasa sesuatu masih bisa diperbaiki. Orang marah karena percaya suaranya mungkin masih bisa mengubah keadaan. Namun ketika kelelahan mulai mengambil alih, kemarahan perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih sunyi.

Banyak orang tetap mengikuti berita. Mereka tetap membaca perkembangan ekonomi, politik, dan sosial. Mereka tetap tahu apa yang sedang terjadi di sekelilingnya. Namun semakin banyak yang memilih menjaga jarak emosional dari semua itu. Mungkin karena terlalu banyak hal yang harus diproses dalam waktu yang bersamaan.

Ada perang yang tidak kunjung selesai. Ada ekonomi global yang terus bergejolak. Ada kecemasan tentang pekerjaan, teknologi, dan masa depan. Ada media sosial yang setiap hari menyajikan alasan baru untuk merasa khawatir. Semua itu datang bertumpuk tanpa banyak memberi kesempatan bagi manusia untuk bernapas. Dalam keadaan seperti itu, rasa marah perlahan berubah menjadi kelelahan.

Baca Juga: Kenapa Banyak Anak Muda Indonesia Mulai Membayangkan Hidup di Tempat Lain?

Ketika Sinisme Menggantikan Kemarahan

Salah satu ciri zaman sekarang adalah semakin tipisnya jarak antara informasi dan kejenuhan.

Masyarakat menerima berita hampir sepanjang hari. Setiap kali membuka telepon genggam, selalu ada peristiwa baru yang harus dipahami. Skandal baru, kebijakan baru, konflik baru, atau angka ekonomi baru datang silih berganti tanpa jeda yang cukup untuk mencerna semuanya.

Akibatnya, banyak orang mulai mengembangkan mekanisme bertahan yang berbeda. Mereka tidak lagi bereaksi dengan kemarahan besar setiap kali melihat sesuatu yang mengecewakan. Sebaliknya, mereka menanggapinya dengan humor, satire, atau komentar pendek yang terdengar getir.

Media sosial memperlihatkan fenomena itu hampir setiap hari. Banyak isu besar yang dahulu mungkin memicu kemarahan panjang sekarang lebih sering melahirkan meme. Bukan karena masyarakat tidak peduli, tetapi karena humor terasa lebih ringan dibanding memikul kemarahan yang terus-menerus.

Ada kelelahan emosional yang hidup di balik semua itu. Manusia tidak memiliki kapasitas tak terbatas untuk marah setiap hari. Ketika terlalu banyak hal terasa tidak beres dalam waktu bersamaan, sebagian orang akhirnya memilih menurunkan ekspektasi terhadap keadaan.

Pilihan itu memang membuat hidup terasa sedikit lebih ringan. Namun ada konsekuensi yang perlu diperhatikan. Ketika sinisme menjadi respons utama terhadap segala sesuatu, masyarakat perlahan kehilangan energi kolektif untuk membayangkan perubahan.

Orang masih bisa mengkritik. Orang masih bisa kecewa. Namun kritik yang lahir dari kelelahan sering terdengar berbeda dengan kritik yang lahir dari harapan. Ia lebih dingin, lebih pendek, dan lebih sulit berubah menjadi gerakan yang nyata.

Fenomena ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Banyak negara mengalami gejala yang mirip. Publik semakin terhubung dengan informasi, tetapi pada saat yang sama semakin lelah memproses semua persoalan yang datang tanpa henti. Yang berubah bukan kepeduliannya. Yang berubah adalah kapasitas emosional untuk terus bereaksi.

Baca Juga: Di Tengah Dunia yang Seragam, Orang Mulai Mencari Akar

Mungkin yang Hilang Bukan Kemarahannya

Ada kecenderungan untuk menganggap masyarakat yang tenang sebagai masyarakat yang baik-baik saja. Padahal ketenangan tidak selalu berarti kepuasan. Kadang ia justru lahir dari rasa lelah yang terlalu lama dipendam.

Orang yang benar-benar tidak peduli biasanya berhenti memperhatikan. Namun banyak masyarakat hari ini masih memperhatikan. Mereka masih membaca berita, masih berdiskusi, dan masih mengikuti perkembangan keadaan. Hanya saja, mereka tidak lagi memiliki energi yang sama untuk merespons semuanya dengan intensitas yang dulu.

Keadaan ini menjadi menarik ketika dibaca dalam konteks kehidupan berbangsa. Sebuah negara tidak hanya membutuhkan stabilitas. Ia juga membutuhkan keterlibatan emosional dari warganya. Harapan, kritik, dan partisipasi publik adalah bagian dari hubungan sehat antara masyarakat dan negara.

Ketika terlalu banyak orang merasa lelah untuk marah, yang perlu ditanyakan mungkin bukan mengapa mereka diam. Pertanyaan yang lebih penting adalah apa yang membuat mereka sampai ke titik kelelahan itu. Karena manusia jarang menjadi sinis tanpa alasan.

Bisa jadi mereka terlalu lama hidup dalam ketidakpastian. Bisa jadi mereka terlalu sering melihat persoalan yang sama berulang tanpa penyelesaian yang jelas. Bisa jadi mereka terlalu sering merasa bahwa suara mereka tidak benar-benar mengubah apa pun.

Mungkin karena itu, bangsa ini tidak sedang kekurangan kemarahan. Kemarahan itu masih ada, hanya bentuknya berubah. Ia hadir dalam candaan yang terasa getir, dalam komentar yang terdengar pasrah, dan dalam percakapan sehari-hari yang semakin sering diakhiri dengan kalimat, “ya mau bagaimana lagi?”

Kalimat seperti itu terdengar sederhana. Namun di dalamnya ada sesuatu yang cukup berat. Ada harapan yang mulai lelah bernegosiasi dengan kenyataan. Boleh jadi, yang perlu lebih dikhawatirkan dari kemarahan bukanlah ledakannya, melainkan, saat sebuah bangsa mulai terlalu lelah untuk marah. [][Tim Kedaikata]