Setiap Hari Pendidikan Nasional datang dengan cara yang hampir serupa. Ada pernyataan resmi, ada refleksi, dan ada optimisme tentang masa depan. Pendidikan kembali ditempatkan sebagai sesuatu yang penting, sesuatu yang harus terus diperbaiki.

Masyarakat Indonesia dapat melihat, upaya itu memang terus berjalan. Program diperkenalkan, sistem diperbarui, dan berbagai inisiatif diluncurkan dengan tujuan yang sama: meningkatkan kualitas pendidikan. Dari luar, semuanya terlihat bergerak, bahkan terasa progresif.

Namun di tengah semua itu, ada satu pertanyaan yang terasa semakin relevan. Ketika begitu banyak yang dibangun, apakah yang didahulukan benar-benar yang paling dibutuhkan.

Karena dalam pendidikan, arah sering tidak hanya ditentukan oleh apa yang dilakukan. Tapi oleh apa yang dipilih untuk didahulukan.

Baca Juga: Kenaikan Iuran BPJS, BBM, dan Cara Kita Bertahan di Tengah Ketidakpastian

Ketika Fondasi Belum Selesai, Tapi Kita Sudah Menambah Banyak Hal

Dalam beberapa tahun terakhir, pendidikan sering dibahas dalam konteks pembaruan. Kurikulum disesuaikan, teknologi mulai diintegrasikan, dan berbagai pendekatan pembelajaran terus dikembangkan.

Semua ini tentu penting. Dunia berubah, dan pendidikan tidak bisa berjalan di tempat. Ada kebutuhan untuk beradaptasi, untuk mengikuti perkembangan zaman.

Namun kami melihat, ada kecenderungan untuk lebih fokus pada hal-hal yang terlihat sebagai kemajuan. Hal yang bisa ditunjukkan, bisa diukur dalam waktu relatif cepat, dan bisa menjadi representasi bahwa sesuatu sedang dilakukan.

Sementara itu, hal-hal yang lebih mendasar sering berjalan lebih pelan. Ketimpangan akses pendidikan, kualitas fasilitas yang belum merata, dan kemampuan dasar siswa yang masih sangat beragam di berbagai wilayah.

Ketika fondasi ini belum sepenuhnya kuat, setiap lapisan baru yang ditambahkan sebenarnya berdiri di atas struktur yang belum stabil. Ia terlihat berkembang, tapi belum tentu kokoh.

Di sini, yang menjadi pertanyaan bukan pada ada atau tidaknya perubahan. Tapi pada urutan prioritas yang dipilih.

Baca Juga: Ketika Skincare Jadi Sangat Personal, Apa yang Terjadi dengan Standar Kecantikan?

Ketika Perhatian Terlihat Besar, Tapi Belum Menyentuh yang Paling Dekat

Saya juga melihat, dalam banyak kebijakan, ada dorongan untuk menghadirkan sesuatu yang terasa langsung. Program yang bisa dirasakan, dilihat, dan dengan cepat dikaitkan dengan perhatian terhadap pendidikan.

Pendekatan seperti ini memang memberi dampak secara visual. Ia menunjukkan bahwa pendidikan tidak diabaikan. Ada bentuk konkret yang bisa dilihat dan dirasakan.

Namun di sisi lain, ada hal-hal yang justru berada lebih dekat dengan inti pendidikan, tapi tidak selalu mendapatkan perhatian yang sama. Salah satunya adalah kesejahteraan pengajar, terutama guru honorer.

Dalam banyak kasus, guru honorer masih berada dalam posisi yang tidak stabil. Penghasilan yang terbatas, status yang belum pasti, dan beban kerja yang tetap tinggi menjadi bagian dari keseharian mereka.

Padahal, mereka adalah bagian yang paling langsung berinteraksi dengan proses belajar. Mereka yang setiap hari berada di ruang kelas, menghadapi siswa, dan menjadi penghubung utama antara sistem dan praktik pendidikan itu sendiri.

Ketika kesejahteraan mereka belum benar-benar diperhatikan, sulit untuk berharap bahwa kualitas pendidikan bisa meningkat secara konsisten. Bukan karena mereka tidak mampu, tapi karena sistem belum sepenuhnya memberi ruang yang layak bagi mereka untuk bekerja secara optimal.

Di momen ini, kami melihat ada jarak antara apa yang terlihat penting dan apa yang sebenarnya paling dibutuhkan.

Baca Juga: Perubahan Tren Industri, dari Kualitas ke Kecepatan

Antara Membangun Sistem dan Memastikan Siapa yang Menjalankannya

Pendidikan bukan hanya soal kurikulum atau fasilitas. Ia juga tentang siapa yang menjalankannya setiap hari. Guru, sebagai ujung tombak, memegang peran yang tidak bisa digantikan oleh sistem apa pun.

Namun sering, perhatian lebih banyak diberikan pada apa yang bisa dibangun, dibandingkan siapa yang harus dijaga. Sistem diperkuat, program diperluas, tapi orang yang menjalankan sistem itu belum sepenuhnya diperhatikan.

Dalam jangka panjang, ini menjadi persoalan yang lebih besar. Karena pendidikan tidak hanya membutuhkan struktur yang baik, tetapi juga pelaku yang mampu dan didukung dengan layak.

Kami tidak melihat ini sebagai kurangnya usaha. Justru ada begitu banyak upaya yang dilakukan dari berbagai arah. Namun dalam sistem yang kompleks, tidak semua bisa dilakukan sekaligus. Pilihan harus dibuat.

Dan dari pilihan itulah arah sebenarnya terbentuk.

Mungkin, yang perlu terus dipertanyakan bukan hanya apakah pendidikan sedang dibangun. Tapi apakah yang dibangun itu benar-benar menjawab apa yang paling dibutuhkan.

Karena bisa jadi, yang membuat pendidikan tidak bergerak sejauh yang diharapkan bukan karena kurangnya perhatian. Tapi karena perhatian itu belum sepenuhnya jatuh pada hal yang paling mendasar. [][Tim KedaiKata]