Beberapa hari terakhir, banyak orang merasa lebih mudah lelah, sulit fokus, dan cepat emosi. Cuaca panas ternyata memang bisa memengaruhi tubuh dan suasana hati sekaligus.
Panas berlebih bukan hanya membuat tubuh berkeringat lebih banyak. Dalam kondisi tertentu, suhu tinggi dapat memengaruhi kualitas tidur, konsentrasi, tekanan emosional, sampai cara seseorang merespons hal-hal kecil di sekitarnya.
Itu sebabnya banyak orang merasa lebih mudah tersinggung ketika cuaca terlalu panas. Tubuh bekerja lebih keras untuk menjaga suhu tetap stabil, sementara energi perlahan terkuras tanpa disadari.
Dokter spesialis penyakit dalam dan pakar kesehatan masyarakat dr. Ngabila Salama pernah menjelaskan bahwa suhu panas ekstrem dapat meningkatkan risiko dehidrasi, kelelahan, dan stres fisik pada tubuh. Ketika cairan tubuh mulai berkurang, otak juga ikut terdampak sehingga emosi menjadi lebih sulit stabil.
Kondisi tersebut sebenarnya cukup wajar. Tubuh manusia memang dirancang untuk beradaptasi, tetapi kemampuan itu memiliki batas tertentu ketika suhu lingkungan terus meningkat dalam waktu lama.
Baca Juga: Gatal, Bersin, Sampai Sesak, Kenapa Tubuh Bisa Bereaksi Berlebihan?
Panas Tidak Hanya Membuat Tubuh Lelah, Tapi Juga Membebani Pikiran
Ada alasan mengapa cuaca panas sering membuat hari terasa lebih berat dibanding biasanya. Saat suhu meningkat, tubuh berusaha menurunkan panas melalui keringat dan perubahan aliran darah. Proses itu membutuhkan energi yang tidak sedikit.
Akibatnya, tubuh lebih cepat merasa lemas meski aktivitas tidak terlalu berat. Banyak orang juga mengalami tidur yang kurang berkualitas ketika malam terasa terlalu gerah.
Profesor psikologi Craig A. Anderson dari Iowa State University dalam sejumlah penelitiannya tentang suhu dan perilaku manusia menemukan bahwa temperatur panas dapat meningkatkan kecenderungan emosi agresif dan mudah marah. Tubuh yang tidak nyaman membuat toleransi emosional seseorang ikut menurun.
Fenomena ini sering terasa dalam aktivitas sehari-hari. Jalanan lebih mudah memicu emosi, suasana kerja terasa lebih melelahkan, dan interaksi kecil lebih cepat berubah menjadi ketegangan.
Di sisi lain, panas berkepanjangan juga memengaruhi kondisi mental secara perlahan. Ketika tubuh terus berada dalam kondisi tidak nyaman, otak kesulitan mendapatkan rasa tenang yang cukup untuk memulihkan energi.
Dikutip dari Emotional Freedom [2011], psikiater dan penulis Dr. Judith Orloff menjelaskan bahwa kondisi fisik sangat memengaruhi stabilitas emosi manusia. Tubuh yang terlalu lelah atau tidak nyaman membuat seseorang lebih rentan mengalami tekanan emosional tanpa sadar.
Baca Juga: Jenis Autoimun yang Berbahaya dan Kenapa Kasusnya Semakin Banyak
Banyak Orang Mengira Dirinya Malas, Padahal Tubuh Sedang Berusaha Bertahan
Cuaca panas sering membuat orang merasa tidak produktif. Aktivitas sederhana terasa lebih berat, konsentrasi cepat pecah, dan tubuh seperti kehilangan tenaga lebih cepat dibanding biasanya.
Namun kondisi itu tidak selalu berarti seseorang kurang disiplin atau kurang semangat. Dalam banyak situasi, tubuh memang sedang bekerja ekstra untuk menjaga dirinya tetap stabil di tengah suhu yang terus meningkat.
Organisasi Kesehatan Dunia WHO juga beberapa kali mengingatkan bahwa gelombang panas dapat memengaruhi kesehatan fisik dan mental masyarakat, terutama di wilayah perkotaan dengan tingkat polusi dan kepadatan tinggi.
Karena itu, kebutuhan dasar seperti minum air cukup, tidur yang baik, dan mengurangi paparan panas berlebih menjadi semakin penting sekarang. Tubuh membutuhkan ruang pemulihan lebih banyak dibanding biasanya.
Ada kalanya manusia terlalu keras pada dirinya sendiri saat merasa cepat lelah di cuaca panas. Padahal tubuh sebenarnya sedang berusaha menyesuaikan diri dengan lingkungan yang berubah semakin ekstrem.
Mungkin itu sebabnya banyak orang belakangan terasa lebih sensitif dan cepat lelah. Bukan semata karena mentalnya lemah, tetapi karena tubuh dan pikirannya sedang sama-sama bekerja lebih keras untuk bertahan di tengah panas yang tidak lagi terasa biasa. [][Vikalena Lasmoskwa/KK]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.