Beberapa tahun terakhir, penyakit autoimun semakin sering dibicarakan. Dulu, istilah ini terdengar asing bagi banyak orang. Sekarang, semakin banyak orang mulai mengenalnya, baik dari cerita orang terdekat, media sosial, maupun pengalaman pribadi. Kondisi ini memunculkan pertanyaan besar: kenapa penyakit autoimun terasa semakin sering ditemukan?

Autoimun adalah kondisi ketika sistem kekebalan tubuh yang seharusnya melindungi tubuh justru menyerang sel sehatnya sendiri. Karena menyerang dari dalam, penyakit ini sering sulit dikenali pada tahap awal. Gejalanya bisa menyerupai gangguan biasa seperti mudah lelah, nyeri sendi, gangguan kulit, atau tubuh yang terasa tidak fit dalam waktu lama.

Dokter spesialis penyakit dalam konsultan alergi imunologi klinik dr. Iris Rengganis, SpPD-KAI, pernah menjelaskan bahwa peningkatan kasus autoimun dipengaruhi banyak faktor, mulai dari genetik, perubahan lingkungan, pola hidup modern, hingga tingkat stres yang semakin tinggi.

Hal ini juga dibahas oleh Donna Jackson Nakazawa dalam bukunya The Autoimmune Epidemic [2008]. Ia menjelaskan bahwa tubuh manusia modern menghadapi tekanan yang berbeda dibanding generasi sebelumnya, termasuk paparan polusi, pola makan tinggi proses, kurang istirahat, dan stres berkepanjangan yang memengaruhi sistem imun.

Karena gejalanya sering samar, banyak penderita baru menyadari kondisinya setelah penyakit berkembang lebih jauh. Itu sebabnya autoimun sering disebut sebagai penyakit yang “diam-diam” berkembang di dalam tubuh.

Baca Juga: Tubuh Kita Sebenarnya Sedang Minta Apa?

Lupus dan Multiple Sclerosis Termasuk Autoimun yang Perlu Diwaspadai

Ada lebih dari 80 jenis penyakit autoimun yang dikenal dalam dunia medis. Namun beberapa di antaranya dianggap lebih berbahaya karena menyerang organ vital atau memengaruhi sistem saraf tubuh secara serius.

Salah satu yang paling dikenal adalah lupus atau Systemic Lupus Erythematosus [SLE]. Penyakit ini dapat menyerang berbagai organ sekaligus, mulai dari kulit, ginjal, paru-paru, sampai otak. Karena gejalanya bisa berubah-ubah, lupus sering sulit didiagnosis sejak awal.

Selain lupus, ada juga Multiple Sclerosis [MS], yaitu autoimun yang menyerang sistem saraf pusat. Penyakit ini membuat sistem imun merusak lapisan pelindung saraf sehingga komunikasi antara otak dan tubuh terganggu.

Neurolog dan penulis Dr. Terry Wahls dalam bukunya The Wahls Protocol [2014] menjelaskan bagaimana penyakit autoimun seperti MS dapat memengaruhi kualitas hidup secara signifikan, terutama ketika penanganannya terlambat.

Ada pula Rheumatoid Arthritis [RA] yang menyerang sendi secara kronis. Meski sering dianggap hanya penyakit nyeri sendi biasa, kondisi ini dapat menyebabkan kerusakan permanen jika tidak ditangani dengan tepat.

Yang membuat autoimun terasa berat bukan hanya karena penyakitnya, tapi juga karena sifatnya yang jangka panjang. Banyak penderita harus hidup berdampingan dengan kondisi tersebut selama bertahun-tahun sambil menjaga agar gejalanya tetap terkendali.

Baca Juga: Kita Sering Jaga Penampilan, Tapi Area Intim Justru Terabaikan

Kenapa Penanganan Autoimun Tidak Bisa Hanya Mengandalkan Obat

Sampai sekarang, sebagian besar penyakit autoimun belum memiliki penyembuhan total. Pengobatan biasanya bertujuan mengontrol reaksi imun agar kerusakan pada tubuh tidak semakin parah.

Namun penanganan autoimun tidak hanya soal obat. Gaya hidup memiliki pengaruh besar terhadap kondisi tubuh penderita. Pola tidur, tingkat stres, aktivitas fisik, dan pola makan dapat memengaruhi respons sistem imun.

Profesor kedokteran sekaligus peneliti imunologi Dr. Susan Blum dalam bukunya The Immune System Recovery Plan [2013] menjelaskan bahwa pendekatan terhadap autoimun perlu dilakukan secara menyeluruh, bukan hanya fokus pada gejala.

Karena itu, banyak dokter mulai menekankan pentingnya menjaga kualitas hidup sehari-hari sebagai bagian dari pengelolaan penyakit autoimun. Mengurangi stres, menjaga pola makan, tidur cukup, dan rutin memeriksa kondisi kesehatan menjadi langkah penting untuk membantu tubuh tetap stabil.

Hal lain yang juga perlu dipahami adalah bahwa penderita autoimun sering menghadapi kelelahan emosional selain kondisi fisiknya sendiri. Banyak dari mereka terlihat ‘baik-baik saja’ dari luar, padahal tubuhnya sedang bekerja sangat keras dari dalam.

Itulah sebabnya kesadaran terhadap autoimun menjadi semakin penting sekarang. Bukan untuk membuat orang takut, tapi agar lebih peka terhadap sinyal tubuh dan tidak mengabaikan kondisi yang terasa tidak biasa dalam waktu lama. [][Vikalena Lasmoskwa/KK]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.