Porsi makan tidak besar, tetapi perut terasa penuh, kencang, bahkan membesar. Penyebabnya ternyata tidak selalu berkaitan dengan seberapa banyak makanan yang masuk.
Sepiring makanan belum habis, tetapi perut sudah terasa sesak. Duduk mulai tidak nyaman, celana terasa lebih ketat, dan muncul keinginan untuk melonggarkan bagian pinggang. Padahal jika melihat jumlah makanan yang disantap, rasanya belum cukup banyak untuk membuat perut terasa demikian penuh.
Keluhan tersebut sering disebut bloating atau perut kembung dan begah. National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases [NIDDK] mendefinisikan bloating sebagai sensasi penuh atau membengkak pada perut. Menariknya, hanya sekitar separuh orang yang mengalami bloating juga mengalami distension, yaitu kondisi ketika ukuran perut benar-benar membesar.
Artinya, perut yang terasa sangat penuh tidak selalu menunjukkan bahwa di dalamnya terdapat makanan atau gas dalam jumlah luar biasa banyak. Sensasi yang dirasakan sistem pencernaan juga mempunyai peran. Inilah salah satu alasan mengapa dua orang dapat makan makanan serupa tetapi memberikan respons yang berbeda.
Baca Juga: Bukan karena Kepanasan, Tetapi Telapak Tangan Selalu Berkeringat. Apa yang Sebenarnya Terjadi?
Bukan Cuma Persoalan Kebanyakan Makan
Gas merupakan salah satu penyebab paling umum. Gas dapat masuk ketika seseorang menelan udara atau terbentuk saat bakteri di usus besar memecah karbohidrat yang tidak tercerna sepenuhnya. Makan terlalu cepat dan minuman berkarbonasi dapat meningkatkan udara yang masuk ke saluran pencernaan.
Namun menyalahkan satu jenis makanan setiap kali perut terasa begah juga terlalu sederhana. Konstipasi, intoleransi terhadap makanan tertentu, penyakit celiac, dan irritable bowel syndrome [IBS] dapat berkaitan dengan keluhan serupa. Pada sebagian orang, masalahnya bahkan bukan produksi gas berlebihan, melainkan bagaimana tubuh merasakan dan merespons sesuatu yang terjadi di saluran pencernaan.
Gastroenterolog Mayo Clinic Brian E. Lacy, MD, PhD, bersama koleganya menjelaskan bahwa sebagian pasien dengan hipersensitivitas viseral sebenarnya menghasilkan gas dalam jumlah normal. Persoalannya berada pada sensitivitas terhadap sensasi yang menyertai proses tersebut. Hubungan kompleks antara otak dan usus juga dapat ikut memengaruhi bagaimana rasa begah dipersepsikan.
Rasa cepat penuh juga dapat berkaitan dengan dispepsia. NIDDK memasukkan merasa kenyang terlalu cepat ketika makan serta merasa terlalu penuh setelah menyantap sedikit makanan sebagai gejala gangguan pencernaan tersebut. Karena penyebabnya beragam, satu keluhan yang tampaknya sederhana belum cukup untuk melakukan diagnosis sendiri.
Baca Juga: Stroke Tidak Selalu Dimulai dengan Jatuh dan Tidak Sadarkan Diri. Apa Tanda yang Sering Diabaikan?
Perhatikan Polanya, Bukan Langsung Memusuhi Makanannya
Ketika begah hanya muncul sesekali, beberapa kebiasaan sederhana dapat diperhatikan terlebih dahulu. Makan lebih perlahan, mengurangi minuman berkarbonasi, dan mencoba porsi lebih kecil merupakan beberapa langkah yang disebut NIDDK untuk membantu mengurangi gejala gas. Mencatat makanan dan waktu munculnya keluhan juga dapat membantu menemukan pola tanpa buru-buru menghilangkan banyak kelompok makanan sekaligus.
Catatan itu penting karena pemicunya tidak selalu sama pada setiap orang. Susu dapat menimbulkan bloating pada seseorang dengan intoleransi laktosa, sementara orang lain dapat mengonsumsinya tanpa masalah. Begitu pula beberapa jenis karbohidrat dan makanan tinggi serat yang dapat meningkatkan gejala gas pada sebagian orang tetapi tidak otomatis harus dihindari semua orang.
Yang tidak sebaiknya diabaikan adalah perubahan pola keluhan. NIDDK menyarankan berkonsultasi dengan dokter ketika gejala sering mengganggu, berubah tiba-tiba, atau muncul bersama nyeri perut, konstipasi, diare, maupun penurunan berat badan. Bloating berkepanjangan, muntah berulang, perdarahan saluran cerna, atau nyeri berat juga memerlukan evaluasi medis.
Perut terasa penuh setelah makan sesekali bisa menjadi bagian dari kerja pencernaan sehari-hari. Namun tubuh juga mempunyai pola, dan perubahan yang berulang layak diperhatikan daripada sekadar dianggap 'masuk angin' setiap kali terjadi. Kadang yang perlu diamati bukan sebanyak apa makanan di piring, melainkan kapan rasa penuh muncul, apa yang menyertainya, dan seberapa sering tubuh mengulang pesan yang sama. [][Vikalena Lasmoskwa/KK]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.