Ada orang yang enggan berjabat tangan, bukan karena tidak ramah. Mereka hanya lelah menjelaskan mengapa telapak tangannya selalu basah, bahkan ketika udara sedang sejuk.
Berkeringat merupakan cara alami tubuh menjaga suhu tetap stabil. Ketika cuaca panas atau seseorang selesai berolahraga, keringat membantu melepaskan panas agar tubuh tidak mengalami peningkatan suhu yang berlebihan. Namun, ada kondisi ketika keringat muncul tanpa pemicu yang jelas dan jumlahnya jauh lebih banyak daripada yang dibutuhkan tubuh.
Kondisi tersebut dikenal sebagai hiperhidrosis. Banyak orang belum mengenalnya karena gejalanya sering dianggap sebagai hal biasa atau sekadar sifat tubuh. Akibatnya, tidak sedikit penderita yang memilih diam dan berusaha menyesuaikan diri, meski aktivitas sehari-hari terus terganggu.
Hiperhidrosis dapat muncul di telapak tangan, telapak kaki, ketiak, wajah, atau beberapa bagian tubuh lainnya. Pada sebagian orang, keringat berlebih muncul hampir setiap hari sehingga menyulitkan pekerjaan, aktivitas belajar, hingga interaksi sosial. Menulis menjadi tidak nyaman karena kertas mudah basah, layar ponsel sulit disentuh, atau rasa canggung muncul setiap kali harus berjabat tangan.
Menurut International Hyperhidrosis Society, hiperhidrosis bukan sekadar berkeringat lebih banyak, melainkan produksi keringat yang melebihi kebutuhan tubuh untuk mengatur suhu. Kondisi ini dapat memengaruhi kualitas hidup, kepercayaan diri, bahkan kesehatan emosional penderitanya.
Baca Juga: Stroke Tidak Selalu Dimulai dengan Jatuh dan Tidak Sadarkan Diri. Apa Tanda yang Sering Diabaikan?
Tidak Semua Keringat Berlebih Memiliki Penyebab yang Sama
Dokter membedakan hiperhidrosis menjadi dua kelompok utama. Yang pertama adalah hiperhidrosis primer, yaitu kondisi yang umumnya muncul sejak masa anak-anak atau remaja tanpa ditemukan penyakit tertentu sebagai penyebabnya. Keringat biasanya muncul pada kedua sisi tubuh secara simetris, misalnya sama-sama mengenai kedua telapak tangan atau kedua telapak kaki.
Hingga kini, penyebab pasti hiperhidrosis primer belum sepenuhnya dipahami. Namun, para peneliti meyakini kondisi ini berkaitan dengan aktivitas saraf simpatis yang mengatur kelenjar keringat. Sistem tersebut menjadi lebih aktif daripada yang dibutuhkan sehingga tubuh menghasilkan keringat meski tidak sedang kepanasan.
Berbeda dengan hiperhidrosis primer, hiperhidrosis sekunder muncul akibat kondisi medis tertentu atau efek penggunaan obat. Gangguan hormon, diabetes, infeksi, penyakit tiroid, menopause, hingga beberapa jenis obat dapat memicu produksi keringat yang berlebihan. Pada kondisi ini, keringat sering muncul hampir di seluruh tubuh dan bahkan dapat terjadi saat tidur.
American Academy of Dermatology menjelaskan bahwa keringat berlebih yang baru muncul ketika dewasa, terutama jika disertai gejala lain seperti penurunan berat badan, demam, nyeri dada, atau jantung berdebar, sebaiknya segera diperiksakan karena dapat menjadi petunjuk adanya penyakit yang mendasari.
Karena itu, tidak semua orang yang mengalami hiperhidrosis memiliki penyebab yang sama. Mengenali pola munculnya keringat menjadi langkah awal yang penting agar penanganannya tepat.
Baca Juga: Tubuh Jarang Langsung Jatuh Sakit. Biasanya Ia Memberi Tanda-Tanda Kecil Terlebih Dahulu.
Ada Cara Mengatasinya, Asalkan Tidak Dianggap Sepele
Banyak penderita hiperhidrosis mengira mereka hanya harus menerima kondisi tersebut seumur hidup. Padahal, berbagai pilihan penanganan telah tersedia dan dapat disesuaikan dengan tingkat keparahan gejalanya.
Untuk keluhan ringan, dokter dapat menyarankan penggunaan antiperspiran yang mengandung aluminium klorida dengan kadar tertentu. Produk ini bekerja membantu mengurangi produksi keringat pada area yang bermasalah. Bila hasilnya belum memadai, terdapat terapi lain seperti iontophoresis, yaitu penggunaan arus listrik berintensitas rendah pada telapak tangan atau telapak kaki untuk mengurangi aktivitas kelenjar keringat.
Pada beberapa kasus, dokter juga dapat memberikan obat tertentu atau melakukan suntikan botulinum toksin pada area yang mengalami hiperhidrosis. Terapi tersebut bekerja menghambat sinyal saraf menuju kelenjar keringat sehingga produksi keringat berkurang selama beberapa bulan. Untuk kondisi yang sangat berat dan tidak membaik dengan terapi lain, tindakan operasi dapat menjadi pilihan setelah melalui pertimbangan yang matang.
Menurut Mayo Clinic, penderita juga dapat mengurangi keluhan dengan memilih pakaian yang mudah menyerap keringat, menjaga kebersihan kulit, mengganti kaus kaki secara rutin bila telapak kaki sering berkeringat, serta menghindari pemicu yang memang diketahui memperburuk gejala.
Yang tidak kalah penting adalah memahami bahwa hiperhidrosis bukan disebabkan oleh kurang menjaga kebersihan diri. Banyak penderita justru menjaga kebersihan lebih baik daripada orang lain karena berusaha mengurangi rasa tidak nyaman yang mereka alami.
Ada kalanya tubuh memang sedang bekerja menjaga suhu. Namun, ketika telapak tangan terus-menerus basah tanpa alasan yang jelas, ketiak selalu berkeringat meski berada di ruangan berpendingin, atau aktivitas sehari-hari mulai terganggu, tubuh mungkin sedang menyampaikan pesan yang berbeda.
Memberi perhatian kepada tanda tersebut bukan berarti berlebihan. Sebaliknya, itu adalah langkah untuk memahami bahwa tidak semua keringat merupakan respons yang normal. Ada kondisi medis yang dapat dikenali, diperiksa, dan ditangani sehingga kualitas hidup penderitanya menjadi jauh lebih baik. [][Vikalena Lasmoskwa/KK]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.