Pagi itu seseorang masih bisa bercanda di meja makan. Beberapa menit kemudian, bicaranya terdengar pelo dan satu tangannya sulit diangkat. Ia tidak jatuh, tidak pingsan, tetapi tubuhnya sedang memberi tanda yang tak boleh ditunggu.
Stroke sering dibayangkan sebagai kejadian yang langsung terlihat dramatis. Seseorang jatuh, kehilangan kesadaran, lalu keluarga panik mencari pertolongan. Gambaran seperti itu memang bisa terjadi, tetapi stroke juga dapat muncul ketika seseorang masih sadar, masih bisa berjalan, bahkan masih merasa dirinya baik-baik saja.
Yang membuatnya berbahaya adalah perubahan tersebut dapat terlihat sederhana. Wajah mendadak tidak simetris, satu lengan terasa lemah, ucapan tiba-tiba tidak jelas, atau penglihatan mendadak terganggu mungkin dianggap sebagai kelelahan, salah tidur, atau sekadar sedang tidak enak badan. Padahal, gejala stroke umumnya muncul secara mendadak dan membutuhkan penanganan segera.
Kementerian Kesehatan [Kemenkes] menggunakan metode FAST untuk membantu masyarakat mengenali tanda stroke. Face berarti memperhatikan apakah wajah turun atau tidak simetris, Arm melihat apakah salah satu lengan melemah ketika diangkat, Speech mengamati perubahan bicara, sedangkan Time mengingatkan bahwa ketika tanda tersebut muncul, waktu untuk mencari pertolongan sudah dimulai.
Baca Juga: Tubuh Jarang Langsung Jatuh Sakit. Biasanya Ia Memberi Tanda-Tanda Kecil Terlebih Dahulu.
Tanda yang Terlihat Sepele Bisa Datang Tiba-Tiba
Ada tanda lain yang mungkin tidak langsung diasosiasikan dengan stroke. WHO menyebut gangguan keseimbangan atau koordinasi yang muncul tiba-tiba, kehilangan penglihatan secara mendadak, serta sakit kepala hebat tanpa penyebab yang jelas sebagai gejala yang juga perlu diwaspadai. Kelemahan atau mati rasa pada wajah, lengan, atau tungkai, terutama pada satu sisi tubuh, juga termasuk tanda yang penting diperhatikan.
Bayangkan seseorang yang tiba-tiba merasa dunia berputar dan berjalan menjadi sempoyongan. Ia mungkin mengira tekanan darahnya sedang turun atau tubuhnya kurang tidur, lalu memilih berbaring sebentar. Padahal, ketika gangguan keseimbangan muncul mendadak bersama gejala lain seperti kelemahan anggota tubuh atau perubahan bicara, kondisi tersebut perlu dianggap sebagai keadaan darurat sampai terbukti sebaliknya.
Hal yang sama dapat terjadi pada penglihatan. Pandangan yang tiba-tiba kabur atau kehilangan penglihatan pada satu mata mungkin terasa seperti masalah mata biasa, terutama jika tidak disertai rasa sakit. Namun, perubahan penglihatan yang muncul mendadak termasuk salah satu tanda yang tercantum dalam gejala stroke dan tidak sebaiknya ditunggu sampai hilang sendiri.
Ada pula sakit kepala hebat yang muncul tiba-tiba dan terasa berbeda dari sakit kepala yang biasanya dialami. Kemenkes memasukkannya sebagai salah satu tanda yang perlu diperhatikan, terutama jika muncul bersama gangguan keseimbangan, gangguan bicara, atau perubahan fungsi tubuh lainnya.
Persoalannya, manusia memang cenderung mencari penjelasan yang paling ringan ketika sebuah gejala muncul. "Mungkin kecapekan," "mungkin belum makan," atau "tidur dulu, nanti juga membaik" terdengar lebih nyaman daripada membayangkan keadaan darurat. Untuk gejala yang muncul mendadak dan mengarah pada stroke, cara berpikir seperti itu justru dapat membuat pertolongan terlambat.
Baca Juga: Tubuh Tidak Banyak Bergerak, Tapi Rasa Lelah Tetap Datang. Mengapa?
Ketika Gejala Hilang, Bukan Berarti Bahayanya Ikut Hilang
Ada satu situasi yang bahkan lebih mudah membuat orang lengah: gejalanya menghilang. Seseorang yang sempat mengalami wajah mencong, bicara pelo, atau lengan melemah lalu kembali normal mungkin merasa tidak ada lagi yang perlu dilakukan. Padahal, gejala singkat seperti itu dapat berkaitan dengan transient ischemic attack [TIA], yang memiliki gejala menyerupai stroke dan tetap membutuhkan evaluasi medis segera.
TIA kadang disebut sebagai "stroke ringan", tetapi istilah tersebut dapat membuat orang salah memahami risikonya. Hilangnya gejala bukan alasan untuk menganggap kejadian tersebut aman, karena TIA dapat menjadi peringatan adanya gangguan aliran darah ke otak dan membutuhkan penilaian untuk mengetahui penyebab serta risiko berikutnya. WHO juga menempatkan TIA sebagai kondisi yang gejalanya menyerupai stroke akibat gangguan sementara aliran darah ke otak.
Karena itu, ketika gejala yang mencurigakan muncul, yang perlu dilakukan bukan mencari kepastian sendiri di rumah. Jangan menunggu seseorang benar-benar jatuh atau kehilangan kesadaran, jangan mengandalkan pijat sebagai penanganan, dan jangan menunda pertolongan hanya karena gejalanya terlihat ringan. Kemenkes secara tegas menganjurkan agar orang dengan gejala stroke segera dibawa ke rumah sakit.
Ada alasan mengapa huruf terakhir dalam FAST adalah Time. Wajah yang berubah, lengan yang melemah, dan bicara yang mendadak kacau adalah tanda yang perlu dikenali, tetapi pengenalan itu baru berguna jika diikuti tindakan cepat. WHO menyebut stroke sebagai keadaan darurat medis yang membutuhkan penanganan segera karena gangguan aliran darah dapat menyebabkan kerusakan sel otak dan komplikasi serius.
Mungkin tantangan terbesar bukan membuat orang hafal semua gejala stroke. Yang lebih penting adalah mengubah kebiasaan ketika melihat perubahan mendadak pada tubuh seseorang. Tidak perlu menunggu sampai kondisinya tampak parah untuk menganggapnya serius.
Stroke tidak selalu datang dengan suara tubuh yang keras. Kadang ia muncul melalui senyum yang tiba-tiba berubah, kalimat yang mendadak sulit keluar, satu tangan yang terasa lebih berat, pandangan yang mendadak terganggu, atau langkah yang tiba-tiba kehilangan keseimbangan. Mengenali perubahan kecil itu mungkin terasa sederhana, tetapi keputusan untuk tidak menunggunya berlalu bisa menjadi bagian penting dari pertolongan. [][Vikalena Lasmoskwa/KK]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.