Haus datang lebih cepat dari biasanya. Tubuh terasa lemas meski aktivitas tidak terlalu berat. Bisa jadi itu tanda tubuh mulai kekurangan cairan.
Saat berpuasa, tubuh tidak menerima asupan cairan selama belasan jam. Dalam kondisi normal, tubuh sebenarnya mampu beradaptasi. Namun jika asupan air saat sahur dan berbuka tidak cukup, risiko dehidrasi ringan bisa muncul.
Dehidrasi tidak selalu muncul dalam bentuk rasa haus yang kuat. Tubuh sering memberi sinyal lain yang lebih halus, tetapi kerap diabaikan.
Baca Juga: Tanda-Tanda Tubuh Kekurangan Vitamin D
Tubuh Mudah Lelah dan Sulit Fokus
Salah satu tanda paling umum dari kekurangan cairan adalah rasa lelah yang datang lebih cepat. Tubuh membutuhkan air untuk membantu proses metabolisme dan menjaga sirkulasi darah tetap lancar.
Ketika cairan berkurang, aliran oksigen dan nutrisi ke sel-sel tubuh menjadi kurang optimal. Akibatnya, energi terasa cepat menurun.
Menurut berbagai publikasi kesehatan yang dikutip dalam Harvard Health Publishing, dehidrasi ringan saja sudah dapat memengaruhi konsentrasi dan kemampuan kognitif seseorang.
Inilah alasan mengapa sebagian orang merasa lebih sulit fokus saat berpuasa, terutama ketika asupan cairan tidak terpenuhi dengan baik.
Baca Juga: Kenapa Asam Lambung Mudah Naik Saat Stres?
Mulut Kering dan Warna Urine Lebih Pekat
Mulut kering sering dianggap sebagai hal wajar saat berpuasa. Namun jika terasa sangat kering dan disertai rasa tidak nyaman, kondisi ini bisa menjadi sinyal tubuh membutuhkan lebih banyak cairan.
Tanda lain yang cukup jelas adalah perubahan warna urine. Urine yang lebih pekat atau berwarna kuning tua biasanya menandakan tubuh sedang menghemat cairan.
Dalam kondisi hidrasi yang baik, urine cenderung berwarna kuning muda atau jernih. Karena itu, warna urine sering digunakan sebagai indikator sederhana untuk menilai kecukupan cairan tubuh.
Baca Juga: Kurang Serat dan Dampaknya bagi Pencernaan
Cara Menjaga Tubuh Tetap Terhidrasi Saat Puasa
Strategi paling sederhana adalah mengatur pola minum antara waktu berbuka dan sahur. Banyak ahli gizi menyarankan pola 2–4–2, yaitu dua gelas saat berbuka, empat gelas di malam hari, dan dua gelas saat sahur.
Selain itu, memilih makanan yang mengandung banyak air seperti buah dan sayur juga membantu menjaga hidrasi tubuh. Semangka, melon, jeruk, dan mentimun misalnya, memiliki kandungan air yang cukup tinggi.
Mengurangi minuman berkafein juga dapat membantu. Kafein memiliki efek diuretik yang dapat meningkatkan frekuensi buang air kecil sehingga cairan tubuh lebih cepat berkurang.
Tubuh sebenarnya cukup cerdas dalam memberi sinyal ketika kebutuhannya tidak terpenuhi. Dengan memperhatikan tanda-tanda kecil tersebut, kita dapat menjaga keseimbangan cairan tubuh tetap stabil sepanjang menjalani ibadah puasa. [][Vikalena Lasmoskwa/KK]
[penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi]