Tidur cukup dulu dianggap kebutuhan biasa. Sekarang, banyak orang justru merasa tidur delapan jam penuh adalah kemewahan yang semakin sulit didapatkan.
Fenomena ini terasa sangat dekat dengan kehidupan modern. Banyak orang tidur larut karena pekerjaan, media sosial, tugas kuliah, atau sekadar ingin punya sedikit waktu untuk dirinya sendiri setelah hari yang panjang.
Akibatnya, tubuh terbiasa hidup dalam kondisi kurang istirahat. Ada yang tidur empat sampai lima jam setiap malam, lalu mencoba tetap produktif dengan kopi, energy drink, atau tidur singkat di sela aktivitas. Yang menarik, kondisi tersebut perlahan mulai dianggap normal.
Padahal tubuh manusia sebenarnya tidak dirancang untuk terus hidup dalam ritme istirahat yang berantakan. Profesor ilmu saraf dan pakar tidur Matthew Walker dalam Why We Sleep [2017] menjelaskan bahwa tidur memiliki peran penting dalam menjaga fungsi otak, kestabilan emosi, daya tahan tubuh, hingga kesehatan jantung.
Menurutnya, kekurangan tidur yang berlangsung terus-menerus dapat meningkatkan risiko gangguan konsentrasi, stres, kecemasan, bahkan penyakit kronis dalam jangka panjang.
Baca Juga: Cuaca Panas Bikin Orang Lebih Gampang Marah dan Lelah?
Banyak Orang Tidak Benar-Benar Kurang Waktu, Tapi Kehilangan Ruang Istirahat yang Utuh
Kehidupan modern membuat batas antara waktu kerja dan waktu pribadi semakin tipis. Ponsel terus berbunyi, pekerjaan bisa masuk malam hari, dan media sosial membuat otak tetap aktif bahkan ketika tubuh sebenarnya sudah lelah.
Akibatnya, banyak orang memang berada di tempat tidur cukup lama, tetapi tidak benar-benar mendapatkan kualitas istirahat yang baik.
Psikolog dan pakar tidur Dr. Rubin Naiman menjelaskan dalam Healing Night [2012] bahwa manusia modern mengalami 'krisis tidur' bukan hanya karena durasi tidur yang pendek, tetapi juga karena kualitas tidur yang terus terganggu oleh stimulasi digital dan tekanan hidup sehari-hari.
Hal itu terlihat jelas sekarang. Tidak sedikit orang yang baru benar-benar memegang waktu pribadi justru saat malam hari. Karena siang dipenuhi pekerjaan dan tuntutan sosial, malam menjadi satu-satunya ruang untuk menonton, bermain media sosial, atau sekadar merasa hidup untuk dirinya sendiri.
Fenomena tersebut sering disebut revenge bedtime procrastination, yaitu kebiasaan menunda tidur demi mengambil kembali waktu personal yang terasa hilang sepanjang hari. Akibatnya, tubuh terus dipaksa bernegosiasi dengan rasa lelah.
Baca Juga: Gatal, Bersin, Sampai Sesak, Kenapa Tubuh Bisa Bereaksi Berlebihan?
Tubuh Bisa Bertahan Kurang Tidur, Tapi Bukan Berarti Tidak Membayar Dampaknya
Banyak orang merasa dirinya baik-baik saja meski tidur hanya beberapa jam setiap malam. Namun tubuh sebenarnya tetap menyimpan efek kelelahan yang menumpuk perlahan.
Kurang tidur dapat memengaruhi fokus, emosi, metabolisme, sistem imun, bahkan kemampuan tubuh memulihkan stres. Dalam jangka panjang, tubuh menjadi lebih mudah lelah, sensitif, dan sulit benar-benar pulih.
Dr. Charles Czeisler dari Harvard Medical School menjelaskan bahwa tidur bukan waktu tubuh 'mati sementara', melainkan proses biologis aktif yang sangat penting untuk memperbaiki fungsi otak dan organ tubuh. Ketika tidur terus dipotong, tubuh kehilangan kesempatan melakukan pemulihan yang dibutuhkan setiap hari.
Karena itu, tidur delapan jam sekarang terasa mewah bukan hanya karena orang sibuk, tetapi karena kehidupan modern membuat manusia semakin sulit benar-benar berhenti.
Selalu ada notifikasi, pekerjaan, hiburan, atau rasa cemas yang membuat pikiran terus menyala bahkan saat malam sudah larut. Mungkin itu sebabnya banyak orang sekarang merasa tidur cukup adalah kemewahan baru. Sesuatu yang dulu terasa biasa, tetapi hari ini justru semakin sulit dimiliki secara utuh. [][Vikalena Lasmoskwa/KK]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.