Semakin merasa diragukan, kita sering menambahkan penjelasan. Detail demi detail diberikan. Anehnya, penjelasan yang semakin panjang belum tentu membuat orang lain semakin percaya.
Bayangkan seseorang pulang jauh lebih malam dari biasanya. Ketika ditanya mengapa terlambat, ia sebenarnya cukup menjawab bahwa rapat selesai malam dan jalanan macet. Namun ketika melihat ekspresi lawan bicara yang tampak ragu, cerita mulai bertambah: siapa saja yang ikut rapat, pukul berapa selesai, jalan mana yang dilewati, sampai alasan berhenti membeli minuman.
Situasi seperti itu tidak hanya terjadi ketika seseorang sedang berbohong. Orang yang mengatakan kebenaran pun dapat menjelaskan secara berlebihan ketika merasa perkataannya diragukan. Keraguan orang lain mengubah tujuan percakapan dari sekadar menyampaikan informasi menjadi usaha untuk memperoleh kepercayaan.
Di sinilah muncul persoalan menarik. Kita mengira semakin banyak informasi berarti semakin kuat penjelasan. Padahal komunikasi manusia tidak bekerja seperti timbangan yang otomatis mengubah setiap detail tambahan menjadi kepercayaan.
Baca Juga: Sudah Bilang 'Terserah', Kenapa Masih Kecewa dengan Pilihan Orang Lain?
Ketika Merasa Diragukan, Kita Mulai Membela Bukan Hanya Cerita
Dalam komunikasi sehari-hari, pertanyaan yang sama dapat terasa berbeda bergantung pada konteksnya. "Kamu dari mana?" dapat terdengar seperti pertanyaan biasa, tetapi setelah seseorang merasa dicurigai, pertanyaan lanjutan seperti "serius?" dapat diterjemahkan sebagai tantangan terhadap kejujurannya. Percakapan kemudian memperoleh beban yang sebelumnya tidak ada.
Penelitian tentang psychological reactance sejak karya Jack Brehm menunjukkan manusia dapat bereaksi ketika merasa kebebasan atau otonominya terancam. Dalam konteks percakapan, keraguan terhadap ucapan dapat terasa seperti ancaman terhadap kemampuan seseorang menentukan bagaimana dirinya dinilai. Dorongan untuk mengembalikan penilaian itu dapat membuat seseorang semakin keras mempertahankan versinya.
Ada pula persoalan citra diri. Erving Goffman melalui kajiannya mengenai interaksi sosial menggambarkan bagaimana manusia terus mengelola kesan yang mereka tampilkan di hadapan orang lain. Ketika kejujuran, kompetensi, atau niat baik terasa dipertanyakan, yang sedang dipertahankan bukan hanya satu informasi, tetapi juga gambaran tentang siapa diri kita.
Karena itu, penjelasan dapat melebar dengan cepat. "Saya tidak lupa mengirim dokumennya" berubah menjadi cerita mengenai kapan dokumen dibuat, kepada siapa dikirim, kondisi jaringan saat itu, sampai pekerjaan lain yang sedang ditangani. Detail-detail tersebut diberikan dengan harapan lawan bicara akan menemukan cukup banyak alasan untuk percaya.
Masalahnya, orang yang sudah merasa curiga dapat membaca perilaku yang sama secara berbeda. Penjelasan panjang yang bagi pembicara merupakan usaha membuktikan kejujuran dapat terdengar seperti usaha terlalu keras untuk meyakinkan. Dua orang kemudian menafsirkan satu percakapan dengan logika yang bertolak belakang.
Baca Juga: Mengapa Komunikasi Lebih Sering Dianggap Keterampilan daripada Ilmu?
Lebih Banyak Detail Tidak Selalu Menghasilkan Lebih Banyak Kepercayaan
Paul Grice, filsuf bahasa yang sangat berpengaruh dalam studi komunikasi, mengemukakan prinsip percakapan yang salah satunya berkaitan dengan jumlah informasi. Secara sederhana, kontribusi dalam percakapan diharapkan cukup informatif untuk kebutuhan saat itu, tetapi tidak lebih informatif daripada yang diperlukan. Kita biasanya mempunyai intuisi mengenai seberapa banyak informasi yang wajar diberikan dalam suatu situasi.
Bayangkan seseorang bertanya, "Tadi sudah kirim e-mail?" Jawaban "sudah, sekitar jam dua" terasa proporsional. Jika jawabannya berkembang menjadi cerita lima menit tentang bagaimana komputer dinyalakan, berkas diperiksa, jaringan tersambung, dan tombol kirim ditekan, lawan bicara dapat mulai bertanya mengapa begitu banyak informasi diberikan untuk pertanyaan sederhana.
Namun panjangnya penjelasan bukan alat pendeteksi kebohongan. Penelitian Aldert Vrij, profesor psikologi terapan yang banyak mempelajari deteksi kebohongan, berulang kali menunjukkan bahwa berbagai petunjuk perilaku yang dianggap masyarakat sebagai tanda kebohongan sebenarnya lemah dan tidak dapat diandalkan jika digunakan sendirian. Orang gugup, banyak bicara, menghindari tatapan, atau memberikan detail tertentu belum tentu sedang berbohong.
Justru orang yang berkata jujur bisa terdorong memberikan terlalu banyak detail karena mempunyai sesuatu yang ingin dipertahankan: kepercayaan. Semakin merasa penjelasan pertamanya gagal, semakin besar godaan menambahkan informasi baru. Setiap tambahan dimaksudkan untuk menutup keraguan, tetapi dapat menciptakan pertanyaan baru yang kemudian membutuhkan penjelasan berikutnya.
Pola itu mudah terlihat dalam pertengkaran. Seseorang menjelaskan maksud perkataannya, lawan bicara belum menerimanya, lalu ia menjelaskan kembali menggunakan kalimat lain. Setelah beberapa putaran, pembicaraan tidak lagi membahas persoalan awal, melainkan berubah menjadi perdebatan tentang siapa yang salah memahami siapa.
Dalam keadaan seperti itu, menambahkan kalimat belum tentu menjadi solusi. Terkadang yang perlu diketahui justru sumber ketidakpercayaannya. Apakah lawan bicara kekurangan informasi, menemukan sesuatu yang bertentangan, mempunyai pengalaman sebelumnya yang membuatnya ragu, atau sekadar belum memahami maksud perkataan?
Pertanyaan sederhana seperti "bagian mana yang membuat kamu ragu?" dapat mengubah arah percakapan. Kita tidak lagi menembakkan sebanyak mungkin informasi dengan harapan salah satunya akan meyakinkan, tetapi mencoba mengetahui informasi apa yang sebenarnya dibutuhkan. Penjelasan menjadi lebih terarah dan lawan bicara memperoleh kesempatan menyebutkan sumber keraguannya.
Kepercayaan memang membutuhkan informasi, tetapi bukan berarti ia dapat dibangun dengan menumpuk detail tanpa batas. Kadang semakin merasa tidak dipercaya, kita justru berbicara lebih banyak karena sedang berusaha menyelamatkan cara orang lain melihat kita. Ironisnya, mungkin saat itulah kita perlu berhenti menambah penjelasan dan mulai bertanya apa yang sebenarnya belum dipercaya. [][Eva Evilia/KK]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.