'Terserah' terdengar seperti menyerahkan pilihan. Namun, dalam banyak percakapan, kata itu justru membawa harapan agar orang lain memilih sesuatu yang kita inginkan.

Dua orang sedang menentukan tempat makan. Satu bertanya ingin makan apa, lalu yang lain menjawab, 'terserah'. Ketika pilihan jatuh pada mi ayam, jawabannya berubah menjadi, "Jangan mi ayam, kemarin sudah."

Situasi kecil seperti itu nyaris menjadi lelucon sehari-hari. Kata 'terserah' seharusnya menandakan kebebasan menentukan pilihan, tetapi orang yang menerimanya sering justru harus menebak pilihan mana yang tidak akan mengecewakan pemberi kebebasan tadi. Lucunya, empat suku kata yang terdengar sederhana itu bisa menghasilkan pekerjaan komunikasi yang cukup rumit.

Persoalannya ternyata bukan sekadar kebiasaan dalam hubungan pasangan atau pertemanan. Penelitian Kelley Gullo Wight, Holly S. Howe, Danielle J. Brick, dan Gavan J. Fitzsimons yang dipublikasikan pada 2026 dalam Journal of Marketing menemukan pola komunikasi satu arah dalam pengambilan keputusan bersama yang ditandai respons pasif seperti "whatever you want", "oke", atau "ya". Penelitian tersebut menunjukkan bahwa cara orang membicarakan pilihan ikut berkaitan dengan kepuasan terhadap keputusan maupun hubungan setelah pilihan dibuat. 

Baca Juga: Mengapa Komunikasi Lebih Sering Dianggap Keterampilan daripada Ilmu?

'Terserah' Tidak Selalu Berarti Tidak Punya Pilihan

Ada banyak alasan seseorang menggunakan kata 'terserah'. Bisa karena benar-benar tidak memiliki preferensi, lelah mengambil keputusan, ingin menghindari perdebatan, atau merasa keinginannya seharusnya sudah diketahui tanpa perlu diucapkan lagi. Satu kata yang sama akhirnya dapat membawa beberapa pesan yang sama sekali berbeda.

Masalah muncul karena lawan bicara hanya menerima kata, bukan seluruh pikiran yang berada di belakangnya. Seseorang mungkin bermaksud, 'pilihkan yang menurutmu paling baik, tetapi pertimbangkan juga apa yang biasanya kusukai'. Penerimanya mendengar sesuatu yang lebih sederhana: 'bebas pilih apa saja'.

Dalam penelitian Wight dan koleganya, pengambilan keputusan bersama ternyata tidak bergerak lurus dari kebutuhan menuju pilihan. Orang dapat saling bertanya, menawarkan alternatif, membangun usulan pasangan, atau justru menarik diri dari percakapan dengan jawaban pasif. Komunikasi yang bersifat membangun, ketika seseorang mengakui usulan lalu mengembangkannya bersama, berkaitan dengan kepuasan yang lebih positif dibandingkan beberapa pola komunikasi lainnya. 

Ini membuat 'terserah' menarik dilihat bukan sebagai kata yang buruk, melainkan kata yang terlalu mudah kehilangan konteks. Kalau memang semua pilihan dapat diterima, tidak ada persoalan ketika keputusan diambil orang lain. Namun kalau sebenarnya ada batas, harapan, atau pilihan yang diam-diam lebih disukai, menyerahkan keputusan tanpa menyampaikan batas tersebut membuat orang lain mengikuti permainan yang aturannya tidak pernah diberikan.

Dalam kehidupan sehari-hari, konsekuensinya mungkin hanya makan malam yang sedikit canggung. Dalam keputusan yang lebih besar, persoalannya bisa berbeda karena pilihan seseorang dapat memengaruhi banyak orang sekaligus. Di sini kata 'terserah' mulai mempunyai kerabat yang lebih serius: memilih untuk tidak memilih.

Baca Juga: Kita Tidak Selalu Mendengar untuk Memahami. Kadang Hanya Menunggu Giliran Bicara. Mengapa?

Ketika 'Terserah' Berpindah dari Meja Makan ke Bilik Suara

Pemilu menyediakan contoh yang menarik karena tidak semua warga menggunakan hak pilihnya. Ada yang abstain karena kendala praktis, ada yang tidak tertarik pada politik, dan ada pula yang sengaja tidak memilih karena tidak menemukan pilihan yang dianggap layak. Menyatukan seluruh kelompok itu sebagai orang yang sekadar 'tidak peduli' justru terlalu menyederhanakan persoalan.

Benjamin E. Bagozzi dan Kathleen Marchetti dalam Political Science Research and Methods membedakan orang yang sesekali abstain dengan kelompok yang secara rutin tidak memilih. Kelompok pertama bisa tidak memberikan suara karena faktor sementara, termasuk ketidaksukaan terhadap kandidat yang tersedia, sedangkan kelompok kedua menunjukkan keterputusan yang lebih konsisten dari proses politik. Artinya, tindakan yang dari luar sama-sama terlihat sebagai tidak memilih belum tentu membawa alasan yang sama. 

Penelitian lain bahkan memperlihatkan bahwa abstain tidak selalu identik dengan meninggalkan politik. Lorenzo Zamponi dan Martín Fernández de Mosteyrín dalam European Societies menemukan adanya kelompok abstain yang tetap aktif melalui bentuk partisipasi politik non-elektoral, mulai dari aktivitas media hingga boikot dan berbagai bentuk keterlibatan lainnya. Diam di bilik suara, dengan kata lain, tidak otomatis berarti diam terhadap urusan publik. 

Laetitia Ramelet dari University of Lausanne juga mengingatkan melalui Frontiers in Political Science bahwa makna abstain tidak bisa begitu saja disimpulkan dari tindakan tidak memilih. Bagi sebagian orang, abstain bahkan dapat dimaksudkan sebagai pernyataan ketidakpuasan terhadap pilihan atau kondisi politik yang tersedia. Untuk mengetahui maknanya, motif orang yang tidak memilih perlu dipahami, bukan ditebak hanya dari absennya suara. 

Namun ada sisi komunikasi yang membuatnya menyerupai 'terserah' di meja makan tadi. Ketika seseorang memilih tidak memberikan preferensi dalam mekanisme pengambilan keputusan, orang lain tetap akan membuat pilihan dan hasilnya tetap mempunyai konsekuensi. Seseorang boleh kecewa terhadap hasil tersebut, tetapi pilihan untuk tidak memilih tidak otomatis memberikan kendali terhadap pilihan yang dibuat orang lain.

Itu bukan berarti golput menghilangkan hak seseorang untuk mengkritik pemerintah yang terpilih. Kritik terhadap kekuasaan tetap merupakan bagian dari kehidupan demokratis, dan alasan seseorang tidak memilih bisa sangat beragam. Yang menarik justru ketegangan komunikasinya: seseorang dapat menolak pilihan yang tersedia, tetapi tetap harus hidup bersama keputusan kolektif yang dihasilkan oleh mereka yang menggunakan pilihannya.

Dari meja makan sampai bilik suara, 'terserah' memperlihatkan persoalan yang serupa dalam skala yang sangat berbeda. Menyerahkan pilihan memang merupakan pilihan, tetapi orang lain tidak otomatis mengetahui harapan yang masih disimpan di belakangnya. Semakin penting keputusan tersebut, semakin mahal pula akibat dari berharap orang lain memahami sesuatu yang tidak pernah benar-benar disampaikan.

Mungkin masalahnya memang bukan pada kata 'terserah'. Ada saat ketika kata itu benar-benar berarti kebebasan dan ada pula saat ketika tidak memilih merupakan keputusan yang sadar serta penuh pertimbangan. Yang membuatnya rumit adalah ketika pilihan diserahkan kepada orang lain, tetapi hasil yang diharapkan masih disimpan sendiri. [][Eva Evilia/KK]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.