Komunikasi sering disebut sebagai keterampilan yang harus dikuasai. Padahal, di balik kemampuan berbicara dan menyampaikan pesan, ada ilmu yang jauh lebih kompleks.

Coba perhatikan iklan lowongan pekerjaan. Kita cukup sering menemukan persyaratan seperti good communication skills, kemampuan presentasi, negosiasi, atau kemampuan berkomunikasi dengan berbagai pihak. Komunikasi ditempatkan bersama sederet keterampilan yang diharapkan dimiliki seseorang agar mampu bekerja dengan baik.

Pandangan itu tentu tidak keliru. Berbicara dengan jelas memang keterampilan, begitu pula mendengarkan, melakukan presentasi, bernegosiasi, menulis pesan, atau menghadapi percakapan yang sulit. Namun, ketika komunikasi hanya dipandang dari keterampilan tersebut, ada bagian yang jauh lebih besar yang kemudian mudah terlupakan.

Komunikasi juga sebuah ilmu. Ia mempelajari manusia, pesan, medium, makna, persepsi, budaya, hubungan, hingga bagaimana sebuah pesan yang sama dapat menghasilkan respons yang sama sekali berbeda pada orang yang berbeda. Anehnya, bagian inilah yang justru jarang muncul ketika kita membicarakan pentingnya komunikasi dalam kehidupan sehari-hari.

Kita sering baru membicarakan komunikasi ketika seseorang dianggap tidak pandai menyampaikan sesuatu. Seorang pejabat keliru memilih kata, perusahaan mengeluarkan pernyataan yang membuat publik marah, atau seseorang gagal menjelaskan maksudnya kepada orang lain. Kesimpulannya sering sederhana: komunikasinya buruk. Padahal, bagaimana jika masalahnya bukan sekadar pada kemampuan berbicara?

Baca Juga: Kita Tidak Selalu Mendengar untuk Memahami. Kadang Hanya Menunggu Giliran Bicara. Mengapa?

Kita Terlalu Sering Melihat Komunikasi dari Bagian yang Tampak

Mungkin salah satu penyebab komunikasi lebih mudah dianggap sebagai keterampilan adalah karena keterampilannya dapat langsung kita lihat. Orang yang mampu berbicara di depan ratusan orang tanpa gugup terlihat memiliki kemampuan komunikasi yang baik. Begitu pula seseorang yang pandai bernegosiasi, membangun percakapan, atau menjelaskan gagasan rumit menggunakan bahasa sederhana.

Ilmunya bekerja dengan cara yang berbeda. Kita tidak selalu dapat melihat proses seseorang ketika memikirkan siapa audiensnya, bagaimana sebuah pesan mungkin ditafsirkan, medium apa yang sebaiknya digunakan, atau konteks sosial apa yang sedang mengelilingi percakapan tersebut. Kita hanya melihat hasil akhirnya ketika seseorang berbicara atau sebuah pesan sudah disampaikan.

Harold Lasswell memberikan salah satu rumusan komunikasi yang sampai sekarang masih kerap menjadi pintu masuk untuk memahami proses tersebut: Who says what, in which channel, to whom, with what effect? Pertanyaan Lasswell memperlihatkan bahwa komunikasi tidak berhenti pada kemampuan seseorang mengucapkan sesuatu dengan baik. Ada sumber pesan, isi pesan, saluran, penerima, dan efek yang semuanya dapat memengaruhi keberhasilan komunikasi.

Contohnya sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan kita. Seorang dokter dapat memberikan informasi yang secara medis benar kepada pasien, tetapi istilah yang terlalu teknis membuat pasien tidak memahami maksudnya. Persoalannya bukan semata-mata apakah dokter tersebut mampu berbicara, melainkan bagaimana pengetahuan tentang penerima pesan ikut digunakan ketika komunikasi berlangsung.

Hal serupa terjadi dalam komunikasi perusahaan. Sebuah perusahaan bisa membuat klarifikasi menggunakan bahasa yang secara tata bahasa sempurna, datanya lengkap, dan maksudnya jelas bagi orang-orang di dalam organisasi. Namun ketika disampaikan pada saat publik sedang marah, pernyataan yang sama bisa diterima sebagai sikap defensif atau bahkan dianggap tidak memiliki empati.

Kita pernah melihat pola seperti itu berkali-kali dalam berbagai krisis komunikasi publik. Organisasi merasa sudah memberikan penjelasan, sementara masyarakat merasa pertanyaan mereka belum dijawab. Dua pihak sama-sama berbicara mengenai persoalan yang sama, tetapi sebenarnya sedang berkomunikasi dari konteks yang berbeda.

Di sinilah kita merasa istilah ‘keterampilan komunikasi’ kadang terlalu menyederhanakan persoalan. Kita seolah hanya perlu belajar berbicara dengan lebih percaya diri, memilih kata yang tepat, dan mengatur intonasi agar komunikasi berhasil. Padahal seseorang bisa sangat fasih berbicara tetapi tetap gagal memahami manusia yang sedang diajaknya bicara.

Baca Juga: Pintar Memahami Tidak Selalu Berarti Pintar Menjelaskan, Mungkinkah?

Ketika Pesan Sudah Disampaikan, Pekerjaan Komunikasi Belum Selesai

Ada kebiasaan lain yang menarik. Kita sering menganggap tanggung jawab komunikasi selesai ketika pesan sudah disampaikan. Informasi sudah diumumkan, surat elektronik sudah dikirim, konferensi pers sudah dilakukan, atau unggahan sudah muncul di media sosial, sehingga pekerjaan dianggap selesai.

Ilmu komunikasi justru mengajak kita melihat apa yang terjadi setelah pesan meninggalkan pengirimnya. Apakah penerima memahami pesan seperti yang dimaksudkan? Apakah medium yang digunakan mengubah persepsinya? Apakah pengalaman, keyakinan, hubungan sosial, atau situasi yang sedang berlangsung membuat pesan tersebut mendapatkan makna berbeda?

Pemikiran Marshall McLuhan mengenai the medium is the message membantu memperlihatkan betapa medium tidak sekadar menjadi kendaraan netral bagi sebuah pesan. Medium ikut memengaruhi cara manusia mengalami dan memaknai informasi. Sebuah permintaan maaf yang disampaikan melalui unggahan media sosial, misalnya, dapat menghasilkan pengalaman yang berbeda dibandingkan permintaan maaf yang disampaikan langsung kepada orang yang terdampak.

Hal yang sama terjadi dalam percakapan yang jauh lebih sederhana. Pesan “kamu di mana?” dari pasangan bisa terbaca sebagai perhatian, kekhawatiran, kecurigaan, atau bahkan kemarahan. Lima belas karakter yang sama dapat membawa makna berbeda karena hubungan, pengalaman sebelumnya, waktu pengiriman, bahkan percakapan yang terjadi beberapa jam sebelumnya ikut bekerja di belakangnya.

Itulah sebabnya ada semacam kekurangnyamanan ketika komunikasi hanya ditempatkan sebagai kemampuan tambahan yang perlu dimiliki seseorang. Keterampilannya memang dapat dilatih, tetapi memahami komunikasi membutuhkan lebih dari sekadar latihan berbicara. Kita perlu memahami manusia yang menerima pesan, lingkungan tempat pesan bergerak, dan berbagai kemungkinan makna yang muncul setelahnya.

Konsekuensinya terasa lebih besar ketika komunikasi masuk ke organisasi dan ruang publik. Ketika terjadi krisis, misalnya, solusi yang dicari sering kali adalah seseorang yang dianggap ‘jago ngomong’. Padahal masalah sebenarnya bisa terletak pada kredibilitas sumber, ketidakjelasan strategi pesan, pemilihan kanal yang keliru, ketidaktepatan waktu, atau kegagalan membaca emosi publik.

Kita mungkin memang tidak perlu menjadikan semua orang sarjana komunikasi untuk memahami hal tersebut. Namun rasanya kita juga perlu berhenti memperlakukan komunikasi seolah hanya urusan bagaimana membuat seseorang terdengar meyakinkan. Sebab kemampuan menyampaikan pesan hanyalah satu bagian dari perjalanan yang jauh lebih panjang.

Semakin kita memperhatikannya, semakin terasa bahwa persoalan komunikasi sering muncul bukan karena manusia kekurangan kata-kata. Kita justru hidup pada masa ketika kata, pesan, unggahan, video, komentar, dan informasi tersedia hampir tanpa batas. Yang lebih sulit adalah memahami bagaimana semuanya diterima, ditafsirkan, dipercaya, ditolak, atau bahkan berubah makna ketika berpindah dari satu manusia kepada manusia lainnya.

Mungkin karena keterampilan komunikasi mudah terlihat, sementara ilmunya bekerja diam-diam di belakangnya, kita lebih sering membicarakan yang pertama. Kita memuji orang yang pandai berbicara, tetapi jarang memperhatikan orang yang tahu kapan harus diam, mampu membaca konteks, memahami audiens, dan menyadari bahwa pesan yang benar belum tentu menghasilkan pemahaman yang benar. Padahal kemampuan seperti itulah yang memperlihatkan betapa komunikasi tidak sesederhana urusan pintar bicara.

Jadi, ketika lain kali sebuah komunikasi gagal, mungkin pertanyaannya tidak harus berhenti pada, “Kenapa dia tidak bisa menyampaikannya dengan baik?” Kita bisa mencoba bertanya siapa yang berbicara, kepada siapa, melalui apa, dalam situasi seperti apa, dan mengapa pesan itu diterima secara berbeda. Dari sana, komunikasi mulai terlihat bukan hanya sebagai sesuatu yang kita lakukan setiap hari, tetapi sebagai ilmu yang membantu kita memahami mengapa manusia begitu mudah berbicara dan begitu sering gagal saling memahami. [][Eva Evilia/KK]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.