Komunikasi digital sekarang semakin praktis. Namun di tengah kemudahan itu, banyak orang mulai mengirim voice note panjang tanpa benar-benar memikirkan kesiapan orang yang menerimanya.

Fenomena ini semakin sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Ada voice note yang awalnya hanya beberapa detik, lalu perlahan berubah menjadi rekaman panjang berisi cerita, curhat, instruksi kerja, bahkan pembahasan yang bisa berlangsung lebih dari tujuh menit.

Bagi pengirim, voice note terasa cepat dan nyaman. Orang tidak perlu mengetik panjang, tidak perlu menyusun kalimat terlalu rapi, dan bisa langsung menyampaikan isi pikirannya dengan spontan.

Namun bagi penerima, pengalaman itu belum tentu sama. Tidak semua orang sedang punya waktu, energi, atau kondisi yang memungkinkan untuk mendengarkan rekaman panjang saat itu juga.

Dalam Reclaiming Conversation [2015], Profesor komunikasi dan teknologi Sherry Turkle menjelaskan bahwa teknologi komunikasi modern sering membuat manusia lebih fokus pada kemudahan menyampaikan diri dibanding kualitas hubungan timbal baliknya. Akibatnya, komunikasi menjadi semakin cepat, tetapi belum tentu semakin peka terhadap lawan bicara.

Hal tersebut mulai terasa dalam budaya voice note sekarang. Orang semakin mudah berbicara panjang, tetapi semakin jarang memikirkan apakah orang lain siap menerima semua itu di waktu yang sama.

Baca Juga: Ucapan Sederhana yang Bisa Disalahartikan

Voice Note Panjang Sering Terasa Praktis bagi Pengirim, Tapi Melelahkan bagi Penerima

Ada alasan mengapa sebagian orang mulai merasa lelah dengan voice note panjang. Tidak seperti teks yang bisa dibaca cepat atau dipindai bagian pentingnya, rekaman suara menuntut perhatian penuh sejak awal sampai akhir.

Penerima harus mendengarkan dengan durasi yang sama seperti saat pesan itu direkam. Dalam kondisi sibuk, hal tersebut bisa terasa cukup membebani, apalagi jika isi pesannya sebenarnya dapat disampaikan jauh lebih singkat.

Profesor linguistik Deborah Tannen dalam You’re the Only One I Can Tell [2017] menjelaskan bahwa komunikasi modern semakin dipenuhi kebutuhan untuk mengekspresikan diri secara personal dan spontan. Namun ketika ekspresi itu tidak diimbangi kesadaran terhadap ruang orang lain, komunikasi bisa berubah menjadi aktivitas satu arah.

Fenomena itu cukup terlihat di era digital sekarang. Banyak orang merasa lebih nyaman ‘menuangkan semuanya’ lewat voice note, tetapi lupa bahwa mendengarkan juga membutuhkan energi emosional dan konsentrasi.

Apalagi di tengah kehidupan modern yang sudah penuh notifikasi dan distraksi, perhatian manusia menjadi semakin terbatas. Tidak semua orang mampu langsung memproses percakapan panjang di sela pekerjaan, perjalanan, atau aktivitas lain.

Akibatnya, banyak voice note berakhir diputar sambil setengah fokus, dipercepat, atau bahkan ditunda terlalu lama untuk didengarkan.

Baca Juga: Kerja Tidak Lagi Berhenti di Kantor, Karena Chat Bisa Datang Kapan Saja

Komunikasi Digital Membuat Orang Semakin Mudah Bicara, Tapi Belum Tentu Semakin Saling Mendengarkan

Teknologi memang membuat komunikasi terasa lebih dekat dan instan. Orang bisa berbicara kapan saja tanpa harus menunggu waktu bertemu langsung. Namun, kemudahan itu juga perlahan mengubah etika komunikasi sehari-hari. Ada kecenderungan bahwa selama pesan bisa dikirim, maka orang lain dianggap akan selalu siap menerima dan meresponsnya.

Di buku Digital Minimalism [2019] penulis dan Profesor ilmu komputer Cal Newport menjelaskan bahwa dunia digital modern terus bersaing memperebutkan perhatian manusia. Karena perhatian menjadi semakin mahal, komunikasi yang terlalu panjang dan tidak terstruktur lebih mudah membuat orang merasa lelah secara mental.

Hal itu membuat voice note panjang menjadi fenomena yang cukup menarik. Di satu sisi terasa personal dan hangat karena menghadirkan suara asli manusia. Namun di sisi lain, komunikasi seperti itu juga menuntut ruang waktu yang tidak selalu dimiliki penerima.

Mungkin itu sebabnya voice note tujuh menit sekarang terasa semakin biasa. Bukan karena semua orang benar-benar siap mendengarkan, tetapi karena budaya komunikasi digital perlahan membuat manusia semakin terbiasa menyampaikan isi pikirannya secepat mungkin tanpa selalu memikirkan kapasitas perhatian orang lain. [][Eva Evilia/KK]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.