Dulu jam kerja punya batas yang cukup jelas. Sekarang, banyak orang masih membuka percakapan kerja bahkan ketika malam hampir selesai.

Fenomena ini semakin terasa sejak komunikasi berpindah ke aplikasi pesan instan. Notifikasi pekerjaan bisa muncul kapan saja, mulai dari malam hari, akhir pekan, sampai waktu liburan. Banyak orang akhirnya terbiasa membalas chat kerja sambil makan malam, sebelum tidur, bahkan ketika sedang bersama keluarga.

Perubahan tersebut membuat batas antara kehidupan pribadi dan pekerjaan menjadi semakin tipis. Tidak sedikit orang merasa tubuhnya sudah berada di rumah, tetapi pikirannya tetap tertahan di pekerjaan karena percakapan kantor terus berjalan.

Padahal pola komunikasi kerja dulu tidak seperti itu. Sebelum era smartphone, urusan pekerjaan umumnya berhenti ketika jam kantor selesai. Telepon rumah memang ada, tetapi tidak semua orang bisa dihubungi setiap saat.

Dalam Taken for Grantedness [2012], Profesor komunikasi Rich Ling menjelaskan bahwa perkembangan ponsel pintar membuat manusia masuk ke budaya komunikasi permanen. Teknologi membuat orang selalu dapat dihubungi, dan lama-kelamaan kondisi itu dianggap normal dalam kehidupan sosial maupun pekerjaan.

Akibatnya, banyak orang sekarang hidup dalam kondisi “siaga” hampir sepanjang hari tanpa benar-benar sadar.

Baca Juga: Ucapan Sederhana yang Bisa Disalahartikan

Teknologi Membuat Komunikasi Semakin Cepat, Tapi Waktu Istirahat Semakin Sulit Dijaga

Dulu, pekerjaan biasanya meninggalkan kantor bersama jam pulang kerja. Orang baru membahas urusan kantor kembali keesokan harinya kecuali dalam kondisi mendesak. Sekarang, ritmenya berubah total. Pesan singkat membuat komunikasi terasa ringan dan cepat, tetapi justru itu yang membuat pekerjaan bisa masuk ke ruang pribadi kapan saja.

Ada budaya baru yang perlahan terbentuk: semakin cepat merespons, semakin dianggap profesional dan sigap. Banyak pekerja akhirnya merasa tidak nyaman ketika terlalu lama membiarkan pesan kantor tanpa balasan.

Psikolog organisasi Dr. Christina Maslach dalam The Truth About Burnout [1997] menjelaskan bahwa kelelahan kerja tidak selalu muncul karena beban pekerjaan besar, tetapi juga karena seseorang merasa tidak pernah benar-benar bisa lepas dari tekanan kerja.

Hal itu terasa relevan dengan kondisi komunikasi modern sekarang. Tubuh memang berhenti bekerja, tetapi otak tetap terus aktif memikirkan notifikasi, pesan baru, dan pekerjaan yang belum selesai.

Media digital juga membuat ritme kerja antarindividu menjadi semakin tidak seragam. Ada orang yang aktif bekerja sampai larut malam, lalu mengirim pesan pada waktu yang dulu dianggap tidak sopan untuk urusan profesional.

Karena kebiasaan itu terus berulang, batas waktu komunikasi kerja perlahan ikut bergeser. Chat jam 11 malam yang dulu terasa mengganggu sekarang mulai dianggap biasa.

Baca Juga: Ketika Ada Komentar ‘Mahal Banget’, Kita Lagi Ngomongin Apa Sebenarnya?

Komunikasi Modern Membuat Manusia Selalu Terhubung, Tapi Sulit Benar-Benar Tenang

Tidak semua pesan malam hari bermaksud memberi tekanan. Banyak orang sebenarnya hanya ingin menyampaikan sesuatu cepat sebelum lupa. Namun ketika semua orang melakukan hal yang sama, ruang istirahat perlahan menjadi semakin sempit.

Profesor psikologi sosial Sherry Turkle dalam Reclaiming Conversation [2015] menjelaskan bahwa teknologi komunikasi modern membuat manusia selalu terhubung, tetapi sering kehilangan kemampuan menciptakan batas sehat dalam hubungan sosial dan pekerjaan.

Kondisi itu membuat banyak pekerja merasa harus terus tersedia. Bahkan ketika sedang mencoba beristirahat, ada dorongan untuk memeriksa ponsel karena takut melewatkan sesuatu yang dianggap penting.

Fenomena ini memperlihatkan bagaimana teknologi tidak hanya mengubah cara manusia berkomunikasi, tetapi juga mengubah ritme hidup sehari-hari. Dulu, malam hari lebih mudah terasa sebagai waktu berhenti. Sekarang, notifikasi membuat pekerjaan seperti tidak pernah benar-benar selesai.

Mungkin itu sebabnya chat kerja larut malam sekarang terasa normal. Bukan karena manusia modern lebih kuat menghadapi tekanan, tetapi karena budaya komunikasi digital perlahan membuat batas antara kerja dan kehidupan pribadi semakin sulit terlihat. [][Eva Evilia/KK]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.