Kulit sebening kaca pernah menjadi standar kecantikan yang viral di media sosial. Banyak orang berlomba-lomba mengejar tampilan wajah yang licin, mengilap, dan tanpa pori. Namun di tengah tren itu, muncul pertanyaan baru: apakah kulit seperti itu benar-benar realistis untuk semua orang?
Tren kecantikan global sering bergerak cepat, dan konsep 'glass skin' dari Korea Selatan menjadi salah satu yang paling berpengaruh dalam beberapa tahun terakhir. Wajah yang tampak sangat halus, memantulkan cahaya, serta terlihat nyaris tanpa tekstur dianggap sebagai puncak perawatan kulit.
Namun belakangan, semakin banyak ahli kecantikan dan dermatolog yang mengajak publik menggeser fokus. Alih-alih mengejar kesempurnaan visual, perhatian mulai diarahkan kepada konsep 'healthy skin' atau kulit yang benar-benar sehat.
Baca Juga: Makeup No Makeup Look yang Tetap Segar
Glass Skin: Cantik, Tapi Sulit Dipertahankan
Istilah glass skin merujuk kepada kondisi kulit yang terlihat sangat halus, jernih, dan berkilau seperti kaca. Tampilan ini biasanya dicapai melalui rutinitas skincare yang panjang, mulai dari double cleansing, exfoliating toner, essence, serum berlapis, hingga pelembap dan sunscreen.
Banyak konten di media sosial membuatnya terlihat mudah dicapai. Padahal dalam praktiknya, hasil tersebut sering melibatkan pencahayaan khusus, teknik makeup tertentu, hingga proses editing foto.
Makeup artist asal Korea Selatan, Pony Park, pernah menjelaskan dalam wawancara dengan Allure bahwa tampilan glass skin seringkali merupakan kombinasi skincare dan teknik makeup yang presisi. Kulit yang tampak sangat mengilap biasanya juga dibantu dengan produk complexion yang memberi efek glow.
Selain itu, kondisi iklim juga berperan. Di negara beriklim tropis seperti Indonesia, produksi minyak alami kulit cenderung lebih tinggi. Upaya mengejar tampilan super-dewy justru bisa membuat wajah terasa terlalu berminyak atau makeup lebih mudah bergeser.
Karena itu, banyak dermatolog mengingatkan bahwa glass skin sebaiknya dilihat sebagai inspirasi estetika, bukan standar kesehatan kulit.
Baca Juga: Teknik Contour Natural untuk Wajah Sehari-hari
Healthy Skin: Lebih Realistis untuk Jangka Panjang
Konsep healthy skin lebih menekankan pada fungsi kulit yang optimal. Kulit tidak harus terlihat seperti kaca, tetapi terasa nyaman, terhidrasi, tidak mudah iritasi, dan memiliki tekstur alami.
Dermatolog Dr. Shereene Idriss dalam wawancaranya dengan Harper's Bazaar menjelaskan bahwa kulit sehat tetap memiliki pori, tekstur, bahkan kadang kemerahan ringan. Semua itu adalah bagian normal dari kulit manusia.
Pendekatan ini juga biasanya lebih sederhana. Fokus utamanya adalah tiga hal dasar: membersihkan wajah dengan lembut, menjaga kelembapan kulit, serta melindunginya dari sinar matahari.
Perawatan tambahan seperti serum atau exfoliation tetap bisa dilakukan, tetapi tidak perlu berlapis-lapis hingga membuat kulit justru kelelahan.
Di era media sosial yang penuh filter, memahami perbedaan antara kulit yang tampak sempurna dan kulit yang benar-benar sehat menjadi semakin penting. Mengejar kilau ekstrem mungkin terlihat menarik di layar ponsel, tetapi menjaga kesehatan kulit adalah investasi yang jauh lebih masuk akal untuk jangka panjang. [][Eva Evilia/KK]
[penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi]