Wangi manis kembali naik daun. Vanilla, karamel, hingga cokelat ramai dibicarakan di berbagai platform media sosial. Gourmand fragrance pun mendadak jadi kata kunci yang sering berseliweran di linimasa.
Dalam beberapa bulan terakhir, pencarian tentang parfum dengan aroma dessert meningkat tajam. Banyak konten kreator membagikan pengalaman memakai parfum yang disebut-sebut “enak seperti kue baru matang” atau “manisnya bikin nagih”. Tren ini bukan sekadar soal wangi, tetapi juga tentang sensasi yang ditinggalkan.
Gourmand fragrance merujuk kepada kategori parfum yang terinspirasi dari aroma makanan dan minuman. Bayangkan wangi vanilla yang lembut, karamel yang hangat, cokelat yang creamy, hingga sentuhan kopi atau almond panggang. Karakter manisnya terasa jelas, tetapi tetap diracik agar tidak berubah menjadi aroma literal seperti dapur.
Perubahan selera ini menarik, sebab beberapa tahun lalu parfum segar dan clean cenderung lebih dominan. Kini, aroma yang terasa edible justru dianggap lebih ekspresif dan berani. Ada kesan playful sekaligus sensual yang membuatnya berbeda dari wangi floral atau citrus klasik.
Baca Juga: Jerawat yang Tidak pada Tempatnya, Kenali Penyebab dan Cara Mengatasinya
Apa Itu Gourmand Fragrance dan Bagaimana Awalnya?
Istilah 'gourmand' berasal dari bahasa Prancis yang merujuk kepada pencinta makanan lezat. Dalam dunia parfum, istilah ini digunakan untuk menggambarkan aroma yang terinspirasi dari dessert dan hidangan manis. Kategori ini resmi dikenal luas sejak era 1990-an dan terus berkembang hingga sekarang.
Salah satu tonggak pentingnya adalah kemunculan parfum dengan sentuhan vanilla dan karamel yang berani pada masanya. Dikutip dari Fragrantica, kemunculan parfum dengan karakter manis yang kuat membuka jalan bagi lahirnya kategori gourmand sebagai identitas tersendiri dalam industri wewangian.
Secara komposisi, gourmand fragrance biasanya memadukan notes manis dengan elemen penyeimbang seperti musk, woody, atau amber. Perpaduan ini membuat aroma tetap elegan dan tidak terasa terlalu 'berat'. Hasil akhirnya adalah wangi yang terasa hangat, lembut, dan memikat tanpa kehilangan struktur.
Baca Juga: Gatal di Kulit Kepala, Apakah Pasti Tanda Ketombe?
Kenapa Aroma Manis Terasa Begitu Menggoda?
Daya tarik gourmand fragrance tidak lepas dari cara manusia memaknai aroma. Indra penciuman memiliki hubungan langsung dengan bagian otak yang mengatur emosi dan memori. Tidak heran jika wangi tertentu bisa langsung membangkitkan perasaan nyaman.
Menurut ahli neurosains yang dikutip dari Psychology Today, aroma manis sering dikaitkan dengan pengalaman positif seperti momen makan bersama keluarga atau kenangan masa kecil. Otak cenderung meresponsnya sebagai sesuatu yang aman dan menyenangkan.
Vanilla, misalnya, kerap diasosiasikan dengan rasa hangat dan menenangkan. Cokelat identik dengan hadiah dan perayaan. Ketika unsur-unsur ini hadir dalam parfum, sensasinya bukan hanya soal wangi, melainkan juga rasa nostalgia yang halus.
Di era media sosial, efek emosional ini semakin diperkuat. Konten dengan deskripsi “smells like dessert” atau “cozy and sweet” mudah menarik perhatian karena membangun imajinasi yang kuat. Wangi tidak lagi sekadar fungsi pelengkap penampilan, tetapi menjadi bagian dari storytelling personal.
Memahami gourmand fragrance secara utuh membantu pembaca melihat tren ini dengan lebih sadar. Aroma manis memang sedang populer, tetapi esensinya lebih dari sekadar ikut-ikutan. Ada sejarah, komposisi, dan alasan psikologis yang membuatnya terasa begitu istimewa di tengah dinamika dunia kecantikan. [][Eva Evilia/KK]
[penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi]