Lemari mulai sesak. Rak hampir tidak menyisakan ruang. Anehnya, ketika melihat barang baru, kita masih bisa menemukan alasan mengapa benda itu perlu dibeli.
Mungkin kita sudah mempunyai beberapa tas, tetapi yang satu ini ukurannya lebih pas untuk bekerja. Gelas di rumah tidak kurang, tetapi desain yang baru terlihat cocok dengan meja makan. Bahkan setelah membeli rak tambahan untuk menampung barang, beberapa bulan kemudian rak itu ikut penuh.
Kita sering membayangkan kebutuhan mempunyai titik selesai. Jika sudah mempunyai sepatu, kebutuhan terhadap sepatu semestinya terpenuhi. Namun manusia tidak membeli barang semata-mata untuk mengisi kekosongan fungsi.
Barang juga membawa selera, identitas, aspirasi, kesenangan, dan bayangan mengenai kehidupan yang ingin dijalani. Karena itu, rumah dapat kehabisan tempat jauh sebelum keinginan kita kehabisan alasan.
Baca Juga: Punya Banyak Foto Perjalanan, Tapi Masihkah Kita Ingat Rasanya Berada di Sana?
Barang Baru Bisa Membuat Barang Lama Mendadak Terlihat Kurang
Fenomena ini sudah mempunyai cerita sejak abad ke-18. Filsuf Prancis Denis Diderot pernah menulis tentang sebuah jubah baru yang indah. Setelah memilikinya, benda-benda lama di ruang kerjanya mendadak terasa tidak serasi sehingga satu demi satu mulai diganti.
Antropolog Grant McCracken kemudian menggunakan cerita tersebut untuk membahas apa yang dikenal sebagai Diderot effect. Satu barang baru dapat mengganggu keselarasan kumpulan barang yang sebelumnya terasa baik-baik saja, lalu memicu pembelian lain untuk membangun keselarasan baru. Dalam literatur konsumsi, mekanisme ini bahkan dipandang dapat mendorong pengeluaran yang terus meluas.
Versi modernnya mudah ditemukan di rumah. Membeli meja kerja baru dapat membuat kursi lama terlihat kurang cocok, lalu muncul keinginan mengganti lampu, tempat penyimpanan, sampai dekorasi di belakang meja. Tidak satu pun benda lama itu mendadak berhenti berfungsi, tetapi standar yang digunakan untuk melihatnya telah berubah.
Barang yang kita beli juga dapat berkaitan dengan gambaran tentang diri sendiri. Penelitian konsumen telah lama melihat kepemilikan sebagai sesuatu yang dapat membawa nilai identitas, bukan hanya kegunaan praktis. Kita bisa menginginkan sebuah benda karena benda tersebut terasa cocok dengan kehidupan atau versi diri yang sedang ingin dibangun.
Di situlah kalimat "aku belum punya yang seperti ini" menjadi menarik. Secara teknis mungkin benar karena warna, ukuran, model, atau mereknya berbeda. Namun ‘berbeda’ perlahan dapat diterjemahkan menjadi ‘dibutuhkan’, meskipun fungsi dasarnya sudah dipenuhi oleh beberapa benda lain di rumah.
Baca Juga: Semakin Dewasa, Teman Memang Tidak Berkurang, Tapi yang Benar-Benar Dekat Semakin Sedikit, Mengapa?
Yang Bertambah Bukan Hanya Barang, tetapi Alasan untuk Menyimpannya
Persoalan berikutnya muncul setelah benda masuk ke rumah. Membeli membutuhkan waktu beberapa menit, sedangkan memutuskan sebuah barang sudah tidak diperlukan bisa jauh lebih sulit. Benda yang jarang digunakan masih dapat dipertahankan karena mahal, merupakan hadiah, mempunyai kenangan, atau mungkin berguna suatu hari nanti.
Jacqueline Rifkin dan Jonah Berger menemukan mekanisme menarik mengenai barang yang sengaja disimpan untuk kesempatan khusus. Ketika sebuah benda tidak digunakan karena kita menunggu momen yang dianggap lebih tepat, benda tersebut dapat terasa semakin istimewa. Akibatnya, kita justru semakin enggan menggunakannya untuk kesempatan biasa dan barang dapat terus tersimpan menunggu momen yang tidak kunjung datang.
Kita mungkin mengenalnya dalam bentuk piring bagus yang jarang dikeluarkan, pakaian yang menunggu acara tertentu, lilin aromaterapi yang terlalu sayang dinyalakan, atau buku catatan cantik yang tidak pernah ditulisi. Barang-barang itu tidak benar-benar digunakan, tetapi juga belum terasa pantas dilepaskan. Rumah kemudian menjadi tempat bertemunya benda yang masih dipakai, akan dipakai, pernah dipakai, dan "siapa tahu nanti dipakai".
Menariknya, menyadari kembali apa yang sudah dimiliki ternyata dapat memengaruhi keinginan membeli. Penelitian Utpal Dholakia, Jihye Jung, dan Nivriti Chowdhry menemukan bahwa meminta konsumen merefleksikan barang pribadi yang baru-baru ini digunakan dapat mengurangi dorongan berbelanja berikutnya. Perhatian yang biasanya diarahkan kepada benda berikutnya sejenak dikembalikan kepada sesuatu yang sebenarnya sudah tersedia.
Mungkin itu sebabnya masalah rumah penuh tidak selalu selesai dengan membeli kotak penyimpanan baru. Kita dapat menjadi semakin pandai mengorganisasi barang tanpa pernah mempertanyakan mengapa jumlah barang terus bertambah. Ruang yang berhasil dikosongkan bahkan bisa segera terbaca sebagai ruang yang tersedia untuk diisi kembali.
Tentu membeli barang baru bukan sesuatu yang dengan sendirinya buruk. Kebutuhan berubah, benda rusak, tubuh berubah, pekerjaan berkembang, dan terkadang sebuah benda baru memang membuat hidup lebih nyaman. Kesenangan memiliki sesuatu yang indah pun merupakan bagian yang wajar dari kehidupan.
Yang menarik justru momen sebelum transaksi terjadi. Apakah benda itu mengisi kebutuhan yang memang belum terpenuhi, menggantikan sesuatu yang sudah selesai digunakan, atau sedang menawarkan bayangan tentang kehidupan yang ingin kita miliki? Ketiganya bisa menghasilkan keputusan membeli yang sama, tetapi berasal dari alasan yang sangat berbeda.
Rumah mungkin sudah penuh, sementara keinginan tetap mempunyai ruang yang hampir tidak terbatas. Sebab yang kita beli terkadang bukan hanya benda, melainkan kemungkinan: meja yang membuat kita membayangkan diri lebih produktif, pakaian yang menjanjikan versi diri berbeda, atau peralatan yang membuat hobi baru terasa akan segera dimulai. Mungkin sebelum mencari tempat untuk barang berikutnya, sesekali kita perlu melihat lagi kehidupan yang sebenarnya sudah memenuhi rumah. [][Liora Maheswari/KK]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.