Jawaban kini bisa ditemukan dalam hitungan detik. Namun, tidak semua yang kita ketahui otomatis membuat kita lebih bijaksana menjalani hidup.
Dua puluh tahun lalu, orang menghabiskan waktu berjam-jam mencari informasi di perpustakaan atau bertanya kepada mereka yang lebih berpengalaman. Hari ini, cukup mengetik beberapa kata di mesin pencari atau bertanya kepada AI, ribuan jawaban langsung tersedia. Dunia belum pernah semudah ini dalam menyediakan pengetahuan.
Kemudahan itu membawa banyak manfaat. Kita bisa mempelajari bahasa baru, memahami cara kerja mesin, mengetahui gejala penyakit, hingga mempelajari keterampilan profesional tanpa harus meninggalkan rumah. Namun, semakin banyak pengetahuan yang tersedia, muncul pertanyaan lain yang tidak kalah penting. Apakah mengetahui sesuatu sama dengan menjadi bijaksana?
Jawabannya sering kali tidak sesederhana itu. Pengetahuan membantu kita memahami dunia. Kebijaksanaan membantu kita menentukan bagaimana harus bersikap ketika dunia tidak berjalan sesuai harapan.
Baca Juga: Yang Sulit Setelah Terpuruk Bukan tentang Melangkah Lagi, Tetapi Percaya kepada Diri Sendiri
Pengetahuan Menjawab ‘Apa’, Pengalaman Mengajarkan ‘Mengapa’
Ada banyak hal yang dapat dipelajari melalui buku, internet, atau AI. Cara berkomunikasi yang efektif, prinsip mengelola keuangan, teknik memimpin tim, hingga langkah-langkah menghadapi konflik dapat dijelaskan dengan cukup rinci. Namun, ketika seseorang benar-benar menghadapi kegagalan, kehilangan, atau keputusan sulit, teori sering kali bertemu dengan kenyataan yang jauh lebih rumit.
Psikolog Carl R. Rogers, dalam On Becoming a Person [1961], menulis, "The only person who is educated is the one who has learned how to learn and change." Gagasan Rogers mengingatkan bahwa belajar bukan sekadar mengumpulkan informasi, tetapi juga membiarkan pengalaman mengubah cara kita memahami diri sendiri dan orang lain.
Hal serupa juga dijelaskan oleh David A. Kolb melalui teori Experiential Learning. Dalam bukunya Experiential Learning: Experience as the Source of Learning and Development [1984], Kolb menjelaskan bahwa pembelajaran yang mendalam terjadi melalui siklus pengalaman, refleksi, pembentukan konsep, lalu penerapan kembali. Informasi menjadi bermakna ketika ia bertemu dengan pengalaman hidup.
Inilah mengapa dua orang dapat membaca buku yang sama, mengikuti pelatihan yang sama, bahkan memperoleh nilai akademik yang sama, tetapi mengambil keputusan yang sangat berbeda ketika menghadapi persoalan nyata. Pengetahuan memberi mereka bekal yang serupa. Pengalaman membentuk kebijaksanaan yang berbeda.
AI dan internet pun berada pada posisi yang sama. Keduanya mampu menyajikan informasi dengan sangat cepat, membantu membandingkan berbagai sudut pandang, bahkan merangkum ribuan halaman dalam hitungan detik. Namun, keduanya tidak menjalani kehidupan kita. Mereka tidak merasakan kegagalan pertama, kehilangan orang terdekat, atau kecemasan saat harus memilih jalan hidup yang belum pernah dicoba.
Baca Juga: Mengapa Semangat Baru Sering Cepat Hilang?
Bijaksana Berarti Mampu Menggunakan Pengetahuan pada Waktu yang Tepat
Seringkali yang membuat seseorang dihormati bukan karena ia mengetahui paling banyak, melainkan karena ia tahu kapan harus berbicara, kapan harus diam, kapan harus bertahan, dan kapan harus melepaskan. Keputusan-keputusan seperti itu jarang lahir hanya dari membaca.
Filsuf Aristoteles menyebutnya sebagai phronesis atau kebijaksanaan praktis. Dalam Nicomachean Ethics, ia menjelaskan bahwa kebijaksanaan bukan sekadar memahami prinsip yang benar, tetapi kemampuan menerapkan prinsip tersebut secara tepat sesuai situasi yang dihadapi. Pengetahuan tanpa pertimbangan dapat menghasilkan keputusan yang keliru. Sebaliknya, pengalaman tanpa kemauan untuk terus belajar juga dapat membuat seseorang terjebak pada kebiasaan lama.
Di era digital, tantangannya justru semakin besar. Informasi datang tanpa henti. AI mampu menjawab hampir semua pertanyaan yang diajukan. Namun, banjir pengetahuan juga membuat kita mudah lupa untuk berhenti sejenak dan merenung. Kita sibuk mencari jawaban berikutnya, padahal belum tentu sudah memahami jawaban yang sebelumnya.
Pengalaman mengajarkan sesuatu yang tidak dapat disalin begitu saja. Ia meninggalkan jejak berupa empati, kesabaran, keberanian, sekaligus kerendahan hati. Orang yang pernah gagal sering lebih berhati-hati ketika memberi nasihat. Orang yang pernah kehilangan lebih mudah memahami kesedihan orang lain. Hal-hal seperti itu tidak muncul hanya karena membaca seratus artikel atau berdialog dengan AI selama semalam.
Bukan berarti internet atau AI membuat pengalaman menjadi tidak penting. Justru sebaliknya, keduanya dapat memperkaya cara kita belajar dari pengalaman. Pengetahuan memberi arah agar kita tidak mengulangi kesalahan yang sama, sementara pengalaman mengajarkan makna di balik setiap pelajaran yang kita peroleh.
Mungkin pertanyaannya memang bukan harus memilih salah satu. Pengetahuan membuka pintu, sedangkan pengalaman menunjukkan jalan yang harus ditempuh setelah pintu itu terbuka. Keduanya saling melengkapi, tetapi memiliki peran yang berbeda.
Jika internet mengajarkan apa yang mungkin dilakukan, pengalaman mengajarkan apa yang benar-benar bernilai untuk dijalani. Dan di antara keduanya, kebijaksanaan lahir bukan ketika kita mengetahui lebih banyak, melainkan ketika kita mampu menggunakan apa yang kita ketahui untuk menjadi manusia yang lebih baik. [][Vikalena Lasmoskwa/KK]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.