Hujan masih turun di sejumlah daerah. Namun, El Niño kembali menjadi perhatian. Di tengah ancaman berkurangnya curah hujan, seberapa siap Indonesia menghadapinya?

Memasuki Oktober 2026, perkembangan El Niño menjadi perhatian dalam pemantauan iklim global. Fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik tropis ini dapat memengaruhi pola hujan di Indonesia. Ketika pengaruhnya bertepatan dengan musim kemarau, sejumlah wilayah berisiko mengalami kondisi yang lebih kering daripada biasanya.

Ancaman tersebut bukan hanya menyangkut berapa lama masyarakat harus menunggu hujan. Ketersediaan air bersih, kegiatan pertanian, kondisi waduk, dan risiko kebakaran hutan dapat ikut terpengaruh. Persoalan yang lebih penting adalah apakah langkah antisipasi sudah berjalan sebelum dampaknya terasa.

Baca Juga: Pohon di Kota Bukan Sekadar Peneduh, Lalu Apa yang Hilang Ketika Jumlahnya Berkurang?

Ketika Hujan Berkurang, Persoalan Bisa Bertambah

El Niño merupakan bagian dari fenomena iklim alami yang dikenal sebagai El Niño–Southern Oscillation [ENSO]. Perubahan suhu laut dan sirkulasi atmosfer di kawasan Pasifik dapat memengaruhi pembentukan awan serta distribusi hujan di berbagai wilayah. Di Indonesia, El Niño sering berkaitan dengan berkurangnya curah hujan, terutama pada musim kemarau.

Namun, pengaruhnya tidak selalu sama di setiap daerah. Kondisi laut sekitar Indonesia, angin musiman, dan karakter geografis setempat ikut menentukan banyaknya hujan yang turun. Karena itu, El Niño yang kuat tidak otomatis berarti seluruh Indonesia mengalami kekeringan ekstrem secara bersamaan.

Bagi petani, berkurangnya hujan dapat mengganggu perencanaan musim tanam. Sawah yang mengandalkan air hujan menghadapi risiko lebih besar ketika pasokan air tidak datang sesuai kebutuhan tanaman. Sementara itu, petani yang menggunakan irigasi tetap bergantung pada kondisi sungai, waduk, dan pengaturan distribusi air.

Persoalan serupa dapat terjadi pada penyediaan air bersih. Ketika debit sumber air menurun, kebutuhan rumah tangga, pertanian, dan kegiatan ekonomi harus dipenuhi dari pasokan yang semakin terbatas. Situasi tersebut dapat menjadi lebih berat di wilayah yang belum mempunyai cadangan air memadai.

Kondisi kering juga meningkatkan kerentanan lahan terhadap kebakaran. Vegetasi yang kehilangan kelembapan lebih mudah terbakar, terutama ketika terdapat aktivitas pembakaran atau sumber api lainnya. Pada lahan gambut, kebakaran bahkan dapat berlangsung di bawah permukaan dan sulit dipadamkan.

Baca Juga: Lampu Kota Membuat Malam Terang, Tapi Apa yang Hilang ketika Gelap Menghilang?

Kesiapan Seharusnya Dimulai Sebelum Kekeringan Datang

Informasi prakiraan iklim seharusnya menjadi dasar tindakan pencegahan, bukan sekadar peringatan yang dibaca ketika keadaan memburuk. Pemerintah daerah dapat menggunakannya untuk mengevaluasi cadangan air, kesiapan jaringan irigasi, dan kebutuhan masyarakat yang bergantung pada sumber air terbatas. Langkah tersebut membutuhkan koordinasi antara pengelola sumber daya air, sektor pertanian, dan layanan kebencanaan.

Dalam pertanian, penyesuaian kalender tanam dapat membantu mengurangi risiko kekurangan air pada fase pertumbuhan tanaman. Penggunaan varietas yang sesuai dengan kondisi setempat serta pengelolaan irigasi yang lebih efisien juga menjadi bagian dari adaptasi. Namun, keberhasilannya tetap bergantung pada informasi iklim yang tepat dan pendampingan bagi petani.

Pencegahan kebakaran hutan dan lahan memerlukan perhatian serupa. Pemantauan wilayah rawan, pengelolaan kelembapan gambut, dan kesiapan petugas lapangan perlu dilakukan sebelum api muncul. Menunggu kebakaran meluas hanya akan membuat upaya penanganan menjadi lebih sulit dan mahal.

Masyarakat pun mempunyai peran melalui penggunaan air yang lebih bijaksana dan perlindungan sumber air di lingkungan sekitar. Meski demikian, penghematan rumah tangga tidak dapat menggantikan tanggung jawab pemerintah dalam memperbaiki distribusi air dan menjaga kawasan resapan. Ketahanan menghadapi kekeringan harus dibangun melalui pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.

Perlu diingat pula bahwa El Niño bukan satu-satunya faktor yang menentukan kondisi hujan. Indonesia tetap dapat mengalami hujan lebat di wilayah tertentu meskipun fenomena tersebut sedang berlangsung. Kesiapsiagaan terhadap kekeringan karenanya tidak boleh mengabaikan kemungkinan banjir dan bencana hidrometeorologi lainnya.

El Niño mungkin tidak dapat dicegah, tetapi dampaknya dapat dikurangi melalui persiapan yang tepat. Prakiraan iklim memberikan kesempatan untuk bertindak sebelum persediaan air menipis, tanaman terganggu, atau lahan mulai terbakar. Pertanyaan terpentingnya bukan hanya kapan hujan akan kembali, melainkan apa yang sudah kita lakukan sebelum kekeringan benar-benar datang. [][Rommy Rimbarawa/KK]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.