Mobil jarang dipakai mestinya lebih awet karena kilometernya sedikit. Kenyataannya, terlalu lama diam justru dapat menimbulkan persoalan yang berbeda.

Logikanya memang terasa masuk akal. Semakin jarang mobil digunakan, semakin sedikit ban berputar, mesin bekerja, rem digunakan, dan jarak yang tercatat pada odometer. Karena itu, mobil yang lebih sering terparkir kerap dianggap sedang terhindar dari keausan.

Masalahnya, kendaraan tidak hanya menua berdasarkan kilometer. Ada komponen yang tetap mengalami perubahan ketika mobil diam, sementara beberapa sistem justru membutuhkan penggunaan berkala agar dapat bekerja sebagaimana mestinya. Aki dapat kehilangan daya, ban terus menopang beban pada titik yang sama, permukaan rem dapat mengalami korosi, dan cairan maupun komponen berbahan karet tetap dipengaruhi waktu.

Joshua Wahl, car repair manager American Automobile Association [AAA] Arizona, bahkan mengingatkan bahwa ukuran penting pada mobil yang jarang digunakan bukan semata jarak tempuh, melainkan juga siklus termal. Menurutnya, penggunaan normal berarti kendaraan dikendarai cukup lama agar mesin mencapai temperatur operasi sehingga panas dapat membantu menguapkan kelembapan dan pengenceran bahan bakar yang secara alami dapat terbentuk di dalam mesin.

Baca Juga: Jalan Rusak Kita Lewati Setiap Hari, Bagian Kendaraan Mana yang Diam-Diam Menanggung Akibatnya?

Mobil Berhenti, Tetapi Beberapa Komponennya Tidak

Aki menjadi salah satu bagian yang paling mudah memperlihatkan konsekuensinya. Ketika mesin hidup, alternator membantu mengisi kembali energi yang digunakan aki. Ketika mobil lama tidak berjalan, kesempatan untuk mengisi ulang tersebut ikut menghilang.

Mobil modern membuat persoalannya semakin menarik. Wahl mengatakan mobil masa kini sebenarnya tidak pernah benar-benar mati karena komputer dan sistem keamanan masih menggunakan sedikit daya ketika kendaraan tidak digunakan. Konsumsi kecil yang berlangsung terus-menerus itu dapat membuat daya aki berkurang setelah mobil terparkir cukup lama.

Itulah sebabnya sekadar menghidupkan mobil sebentar belum tentu menjadi kebiasaan terbaik. AAA menyarankan mobil yang jarang digunakan tetap dikendarai secara berkala, bukan hanya mesinnya dinyalakan ketika kendaraan tetap berada di tempat. Mengendarainya memungkinkan mesin mencapai temperatur kerja sekaligus menggerakkan berbagai komponen, mensirkulasikan cairan, membantu pengisian aki, dan membuat ban berpindah dari titik tumpu yang sama.

Ban memang mempunyai persoalannya sendiri. Ketika mobil terparkir sangat lama, seluruh berat kendaraan terus bertumpu pada bagian ban yang sama sehingga dapat terbentuk flat spot. Wahl menjelaskan bahwa jika kondisi tersebut berlangsung berbulan-bulan, perubahan pada karet dapat menjadi cukup besar hingga ban tidak sepenuhnya kembali ke bentuk semula.

Rem juga dapat berubah meskipun pedalnya tidak pernah diinjak. Kelembapan dapat memicu karat pada permukaan rotor, sehingga mobil yang lama diam terkadang mengeluarkan suara gesekan ketika pertama kali kembali digunakan. Karat permukaan ringan dapat hilang setelah rem bekerja, tetapi suara, getaran, bau, atau pengereman yang terus terasa tidak normal tetap perlu diperiksa.

Jadi 'tidak dipakai' ternyata bukan keadaan tanpa proses. Mobil memang tidak mengalami keausan akibat perjalanan seperti kendaraan yang digunakan setiap hari, tetapi ia menghadapi jenis risiko yang berbeda. Diam terlalu lama dapat menjadi bentuk beban tersendiri bagi beberapa komponennya.

Baca Juga: Motor Milik Kita, Tapi Jalan Raya Milik Bersama, Sejauh Mana Modifikasi Boleh Dilakukan Sesuka Kita?

Kilometer Sedikit Bukan Berarti Perawatan Bisa Menunggu

Kebiasaan melihat odometer sebagai satu-satunya patokan juga dapat menyesatkan. Banyak jadwal perawatan kendaraan mempertimbangkan jarak atau waktu, sehingga mobil yang hanya menempuh sedikit kilometer belum tentu boleh melewati jadwal servis begitu saja. AAA mengingatkan cairan kendaraan tetap dipengaruhi waktu meskipun mobil lebih banyak terparkir.

Pola perjalanan pendek juga perlu diperhatikan. Menghidupkan mesin membutuhkan energi cukup besar dari aki, sedangkan perjalanan yang terlalu singkat mungkin belum memberi alternator cukup waktu untuk mengembalikan daya tersebut. Karena itu, mobil yang setiap beberapa hari hanya digunakan sangat dekat belum tentu memperoleh manfaat yang sama dengan kendaraan yang sesekali dikendarai cukup lama.

Jika kendaraan akan disimpan untuk waktu panjang, perlakuannya tentu berbeda dengan mobil yang hanya jarang digunakan. Kondisi aki, tekanan ban, bahan bakar, cairan, lokasi penyimpanan, kelembapan, hingga kemungkinan masuknya hewan pengerat dapat menjadi perhatian. Untuk penyimpanan lama, perangkat battery maintainer juga dapat digunakan untuk menjaga tingkat pengisian aki tanpa mengandalkan kebiasaan menyalakan mesin sesaat.

Bahan bakar pun tidak selamanya berada dalam kondisi yang sama. Jika kendaraan benar-benar tidak digunakan selama berbulan-bulan, kualitas bensin dapat menurun dan dalam kondisi tertentu menimbulkan persoalan pada sistem bahan bakar. Karena kebutuhan penyimpanan berbeda menurut kendaraan dan lamanya mobil akan ditinggalkan, buku manual serta rekomendasi pabrikan tetap menjadi acuan yang lebih tepat daripada menggunakan satu aturan untuk semua mobil.

Maka mobil dengan odometer rendah belum tentu identik dengan mobil yang kondisinya prima. Kita perlu mengetahui bagaimana kilometer yang sedikit itu tercipta. Mobil yang dirawat dan digunakan secara berkala tentu berbeda dengan kendaraan yang berbulan-bulan diam tanpa perhatian.

Ada ironi kecil di sini. Kita sering menghindari memakai kendaraan karena merasa sedang menjaganya, padahal beberapa bagian kendaraan justru dirancang untuk bekerja, bergerak, mencapai temperatur operasi, dan mendapatkan perawatan berkala. Mobil tidak harus diajak bepergian setiap hari, tetapi membiarkannya terlalu lama menjadi benda diam juga bukan selalu cara terbaik membuatnya awet. [][Adrian Damar/KK]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.