Niacinamide ramai, kita ikut mencari. Retinol naik daun, rak bertambah lagi. Lama-lama, rutinitas kulit terasa seperti mengejar daftar bahan yang tidak pernah selesai.
Satu bahan aktif muncul di media sosial dengan klaim tertentu, lalu beberapa minggu kemudian bahan lain mengambil giliran. Ada yang disebut membantu mencerahkan, memperbaiki tekstur, menjaga kelembapan, mengurangi jerawat, atau memperlambat tanda penuaan. Konsumen akhirnya bukan hanya memilih produk, tetapi ikut mengejar nama bahan yang terdengar menjanjikan.
Masalahnya, kulit tidak bekerja berdasarkan daftar tren. Kondisi kulit, tujuan perawatan, toleransi, lingkungan, dan produk lain yang sudah digunakan menentukan apakah sebuah bahan memang dibutuhkan. Bahan aktif yang baik pun belum tentu perlu dipakai semua orang.
Apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm., yang bergerak dalam formulasi dan pengembangan kosmetik, menekankan bahwa inovasi tidak cukup hanya mengandalkan popularitas bahan aktif. Dalam perspektif pengembangan produk yang dibahasnya, formulasi perlu menjembatani efektivitas, keamanan, metodologi, dan tanggung jawab, sehingga bahan aktif bukan sekadar ditambahkan karena sedang populer.
Baca Juga: Ketika Kulit Terlihat Baik-baik Saja, Apakah Kita Masih Perlu Mengubah Rutinitasnya?
Bahan Aktif yang Bagus Belum Tentu Dibutuhkan Semua Kulit
Ada perbedaan penting antara bahan yang punya manfaat dengan bahan yang memang relevan untuk kondisi kulit tertentu. Retinoid, misalnya, mempunyai bukti penggunaan untuk beberapa kebutuhan kulit, sementara bahan eksfoliasi juga dapat berguna dalam konteks tertentu. Namun fakta bahwa suatu bahan efektif bukan berarti setiap orang harus memasukkannya ke rutinitas.
Sebuah survei terbaru terhadap 168 dermatolog menemukan 91,6 persen responden merasa khawatir terhadap meningkatnya rutinitas skincare multi-langkah. Kekhawatiran yang banyak disebut mencakup iritasi kulit, ekspektasi yang tidak realistis, bukti ilmiah yang terbatas pada sebagian produk, dermatitis kontak alergi, dan biaya yang tinggi. Para peneliti juga menyoroti risiko ingredient overload ketika banyak bahan aktif dilapis secara bersamaan.
Masalahnya bukan hanya jumlah produk, tetapi interaksi antarproduk dan frekuensi pemakaian. American Academy of Dermatology [AAD] mengingatkan bahwa bahan aktif yang sebenarnya bermanfaat dapat menimbulkan iritasi jika digunakan terlalu sering atau dikombinasikan secara berlebihan. Misalnya, produk eksfoliasi tambahan dapat memperburuk kekeringan dan iritasi jika seseorang sebenarnya sudah menggunakan produk lain dengan fungsi serupa.
Di sinilah perspektif Cahya menjadi relevan. Pendekatan formulasi yang baik bukan soal menjejalkan semakin banyak bahan aktif ke dalam satu sistem, tetapi soal memilih kombinasi yang tetap efektif, stabil, aman, dan sesuai kapasitas adaptasi biologis kulit. Dengan kata lain, pertanyaan yang perlu diajukan bukan “bahan aktif apa lagi yang belum dipakai?”, melainkan “masalah kulit apa yang sebenarnya sedang ingin ditangani?”.
Rutinitas yang baik karena itu bisa saja sangat sederhana. Pembersih yang lembut, pelembap, dan perlindungan terhadap matahari sudah menjadi fondasi bagi banyak orang. Bahan aktif tambahan sebaiknya masuk karena ada tujuan yang jelas, bukan karena algoritma sedang ramai membicarakannya.
Baca Juga: Kenapa Wajah Kita Terlihat Berbeda di Cermin, Kamera Depan, dan Foto Orang Lain?
Semakin Banyak Bahan, Semakin Sulit Mengetahui Apa yang Sebenarnya Bekerja
Ada sisi lain yang sering luput ketika rutinitas bertambah panjang. Jika lima bahan aktif digunakan bersamaan lalu kondisi kulit membaik, kita belum tentu tahu bahan mana yang benar-benar berperan. Sebaliknya, ketika iritasi muncul, mencari penyebabnya juga menjadi jauh lebih sulit.
AAD menyarankan produk baru diuji terlebih dahulu pada area kecil sebelum masuk ke rutinitas penuh. AAD juga mencatat bahwa beberapa bahan seperti retinol dan glycolic acid memang dapat menyebabkan iritasi, terutama pada kulit sensitif. Pendekatan bertahap membantu pengguna lebih mudah mengenali respons kulit dibandingkan memasukkan banyak produk sekaligus.
Sebagai pembanding, dermatolog kosmetik dari Amerika Serikat banyak menekankan pendekatan yang berfokus pada kebutuhan kulit, bukan kerumitan rutinitas. Literatur dermatologi modern secara umum melihat bahwa kulit sehat tidak memerlukan semua bahan aktif populer sekaligus, dan rutinitas yang terlalu kompleks justru dapat meningkatkan risiko gangguan skin barrier.
Hal ini juga menjelaskan mengapa tren bahan aktif sering terasa lebih cepat daripada kemampuan kulit untuk beradaptasi. Media sosial dapat membuat satu bahan tampak wajib hari ini dan bahan lain terasa wajib minggu depan. Kulit, sebaliknya, membutuhkan waktu untuk menunjukkan apakah suatu produk benar-benar cocok dan memberikan manfaat.
Kita juga perlu membedakan antara kebutuhan biologis dan rasa takut tertinggal. Melihat banyak orang membicarakan satu bahan bisa menimbulkan kesan bahwa tidak menggunakannya berarti kehilangan sesuatu yang penting. Padahal kulit yang stabil, nyaman, dan tidak bermasalah belum tentu membutuhkan tambahan intervensi hanya karena ada tren baru.
Tentu bukan berarti bahan aktif populer harus dicurigai. Banyak bahan menjadi populer justru karena memiliki dasar ilmiah atau pengalaman penggunaan yang luas. Yang perlu dijaga adalah kecenderungan menganggap popularitas sebagai alasan yang cukup untuk memasukkannya ke rutinitas.
Karena itu, daftar bahan aktif tidak seharusnya menjadi semacam daftar centang. Kulit tidak mendapat nilai lebih hanya karena sudah pernah memakai niacinamide, retinol, peptide, AHA, BHA, vitamin C, atau bahan lain yang sedang ramai. Yang lebih penting adalah apakah bahan tersebut benar-benar menjawab kebutuhan kulit dan bisa digunakan dengan toleransi yang baik.
Mungkin rutinitas yang matang bukan rutinitas yang paling lengkap, tetapi yang paling tahu alasan di balik setiap produknya. Jika satu bahan tidak punya tujuan yang jelas, tidak ada kewajiban untuk menambahkannya hanya karena semua orang sedang membicarakannya. Dalam perawatan kulit, mengetahui apa yang tidak perlu dipakai bisa sama pentingnya dengan mengetahui apa yang perlu dipakai. [][Eva Evilia/KK]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.