Ada masakan yang tidak hanya mengenyangkan, tetapi juga menyimpan jejak sejarah. Gulai taboh adalah salah satunya.

Di Lampung, gulai taboh bukan sekadar hidangan rumahan. Ia adalah penanda peristiwa, penyangga tradisi, sekaligus cara masyarakat menjaga hubungan dengan alam dan sesamanya. Hidangan berkuah santan ini kerap hadir dalam momen penting, dari hajatan keluarga hingga upacara adat.

Bagi orang Lampung, gulai taboh bukan masakan yang dimasak sembarangan. Ia hadir ketika ada maksud baik, ketika keluarga berkumpul, atau saat tradisi perlu diteguhkan kembali lewat rasa.

Baca Juga: Makan Siang di Tempat Kerja, Beli Online atau Bawa Bekal dari Rumah?

Dari Dapur Tradisi Masyarakat Lampung

Gulai taboh berasal dari tradisi kuliner masyarakat Lampung Pepadun dan Saibatin. Kata taboh sendiri merujuk pada momen atau peristiwa penting. Karena itu, gulai ini lazim disajikan pada acara adat, pernikahan, atau perayaan tertentu.

Berbeda dengan gulai dari daerah lain, gulai taboh tidak terpaku pada satu bahan utama. Isinya bisa berupa ikan sungai, udang, atau bahkan sayuran seperti labu, terong, dan daun-daunan. Fleksibilitas ini mencerminkan kedekatan masyarakat Lampung dengan alam sekitarnya. Apa yang tersedia, itulah yang dimasak.

Kuah santan menjadi pengikat semua bahan. Rempah-rempah lokal memberi rasa gurih yang lembut, tidak terlalu pedas, dan tidak mendominasi. Gulai taboh tidak berteriak soal rasa. Ia berbicara pelan, tapi menetap.

Baca Juga: Makanan Hangat yang Membantu Tubuh dan Pikiran Lebih Tenang

Keistimewaan Rasa dan Makna

Yang membuat gulai taboh istimewa bukan hanya komposisinya, tetapi filosofi di baliknya. Hidangan ini mengajarkan kesederhanaan dan kebersamaan. Satu panci gulai biasanya dinikmati bersama, tanpa pembagian yang kaku.

Rasa gurih santan berpadu dengan aroma rempah memberi sensasi hangat dan menenangkan. Tidak heran jika gulai taboh sering disebut sebagai masakan yang ‘merangkul’. Ia tidak mengejutkan lidah, tetapi mengajak tinggal lebih lama.

Dalam tradisi Lampung, memasak gulai taboh juga melibatkan kerja bersama. Prosesnya menjadi ruang interaksi sosial, tempat cerita dibagikan dan hubungan diperkuat.

Baca Juga: Burger Vegan dan Cerita Rasa yang Tak Kalah Menggoda

Dari Meja Makan ke Warisan Budaya

Nilai budaya yang melekat pada gulai taboh membuatnya diakui sebagai bagian dari Warisan Budaya Takbenda Indonesia. Pengakuan ini bukan semata soal resep, melainkan tentang praktik sosial, pengetahuan lokal, dan makna yang menyertainya.

Dengan status tersebut, gulai taboh tidak lagi hanya milik dapur-dapur di Lampung, tetapi juga bagian dari identitas kuliner Indonesia. Ia menjadi pengingat bahwa makanan tradisional menyimpan lebih dari sekadar rasa.

Di tengah gempuran kuliner modern, gulai taboh tetap bertahan dengan caranya sendiri. Tenang, bersahaja, dan sarat makna. Ia mengajarkan bahwa dalam satu mangkuk gulai, sejarah dan kebersamaan bisa hidup berdampingan. [][Rommy Rimbarawa/KK]

[penulisan artikel ini dibantu riset AI dan telah melewati kurasi Redaksi]